Tak Banyak yang Tahu, Ternyata Ada Bandara Palestina di AS! Ini Alasannya

Amerika Serikat (AS) memainkan peranan penting dalam percaturan politik global. Tak terkecuali dalam konflik Palestina-Israel. Sayangnya, Negeri Paman Sam di bawah pemerintahan Joe Biden menunjukkan sikap dingin ke Palestina dan sebaliknya cenderung mendukung serangan Israel terhadap Palestina, dalam hal ini Hamas.

Baca juga: Bandara Gush Katif, Bandara Satu-satunya di Jalur Gaza yang Hanya Tinggal Cerita

Joe Biden beranggapan Israel berhak untuk melawan saat Hamas menyerangnya dari Jalur Gaza dengan senjata jarak jauh. Dia juga menilai dewasa ini Israel belum memberi reaksi yang berlebihan atas perlawanan yang dilakukan oleh Hamas beberapa waktu lalu.

Meskipun pada akhirnya AS ke-46 tersebut akhirnya berjanji untuk membantu mengatur upaya membangun kembali Gaza dan mengatakan menciptakan solusi dua negara Palestina dan Israel adalah “satu-satunya jawaban” terhadap konflik, tetapi, itu tidak lantas mengubur keberpihakan Biden, sebagaimana presiden AS sebelumnya, ke Israel.

Sejak dahulu, Presiden AS memang selalu menunjukkan kecenderungan mendukung Israel. Tetapi, anehnya, di AS, justru ada sebuah bandara di Texas yang dinamakan Palestina; Palestine Municipal Airport (KPSN).

Dilansir cityofpalestinetx.com, Bandara Palestina di AS ini memiliki dua landasan pacu (runway). Landasan pacu utama memiliki panjang panjang 5.005 kaki dan lebar 100 kaki. Adapun landasan pacu kedua memiliki panjang 4.002 kaki dan lebar 75 kaki.

Disebutkan, setiap pesawat yang mendarat ini bisa mengisi bahan bakar jenis AvGas atau Jet-A 24 jam serta tujuh hari dalam sepekan dengan berbagai metode pembayaran, utamanya kartu kredit.

Bandara ini diketahui hanya sanggup melayani 29 pesawat lokal dan 35 pesawat transien per bulan. Kendati demikian, Bandara Palestina di Texas tersebut melayani lepas landas dan pendaratan malam hari serta dilengkapi dengan Automated Weather Observing System (AWOS).

AWOS sendiri merupakan sistem pengamatan cuaca bandara yang dikonfigurasi untuk memberikan informasi kondisi cuaca bandar udara secara real time berupa parameter suhu udara, kelembaban udara, tekanan udara, arah dan kecepatan angin, jarak pandang, serta tinggi awan.

Berbagai fasilitas lainnya seperti hanggar umum, mobil jemputan, sampai instruktur penerbangan pun juga tersedia di Bandara Palestina di AS ini.

Tetapi memang, bandara yang resmi beroperasi sejak November 1942 tersebut dinamakan Palestina karena terletak di kota bernama Palestina, Texas, AS.

Baca juga: Inilah Profil Bandara Ramon di Israel, Salah satu Sasaran Serangan Roket Hamas

Dari berbagai sumber, penamaan kota Palestina di Texas ini disandarkan pada sebuah kota di Illinois AS yang juga bernama Palestina yang bermakna pulang kampung.

Sedangkan untuk kota kecil (Palestine, Illinois, AS) yang populasinya hanya ribuan jiwa ini dinamai oleh seorang penjelajah Perancis Jean Lamotte pada tahun 1678. Ia menamakan Palestina karena teringat dengan Palestina yang disebutkan Alkitab, sebuah negeri makmur kaya susu dan madu, mirip seperti wilayah yang ditemukannya itu.

Tujuh Alasan Mengapa Terbang dari Bandara Kecil Lebih Murah dan Cepat

Di masa-masa normal, terbang dari bandara besar amat melelahkan, mulai dari antrean check-in, pemeriksaan bagasi, lewati pos pemeriksaan dua sampai tiga kali, jarak dari gate masuk bandara ke boarding gate sampai ke jetway, lounge penuh, susah mendapat kursi untuk duduk, dan lain sebagainya. Baca juga: Luggage Wrapping di Bandara, Seberapa Besarkah Perannya Untuk Melindungi Koper Anda? Sudah begitu, berbagai tarif seperti parkir sampai airport tax di bandara besar juga lebih mahal dibanding bandara-bandara kecil. Jika dirinci, ada sekitar tujuh alasan mengapa penumpang bisa lebih menguntungkan saat menghindari terbang dari bandara besar dan memilih terbang dari bandara kecil. Dilansir The Point Guy, berikut ulasannya. 1. Parkir lebih murah atau bahkan gratis Parkir lebih murah atau gratis pada bandara-bandara kecil memang nyata adanya. Sekalipun ada Perda terkait tarif parkir di gedung-gedung, termasuk di bandara, tetapi, tetap saja, pada bandara kecil dan besar tarifnya berbeda. 2. Biasanya lebih dekat dengan rumah Bandara kecil umumnya dimungkinkan berada di tengah kota. Adapun bandara-bandara besar, lebih sering berada di pinggir laut atau pesisir mengingat tingginya frekuensi penerbangan. Berada di pusat kota, itu berarti bandara kecil besar kemungkinan lebih dekat dicapai dibanding bandara besar. 3. Rute lebih nyaman Maskapai LCC pada umumnya terbang dari bandara yang lebih kecil dan sisanya dari bandara besar. Karena frekuensi penerbangan bandara kecil tidak lebih besar dibanding bandara besar, sudah pasti rute yang ditempuh pun lebih merdeka ketimbang rute keberangkatan dari bandara besar. 4. Perjalanan menuju bandara lebih lancar Frekuensi penerbangan rendah sudah pasti kendaraan yang menuju bandara kecil juga lebih rendah dibanding bandara-bandara besar. Itu berarti, area luar dan dalam bandara bisa dibilang jarang terjadi kemacetan dibanding bandara besar. 5. Lebih mudah mencari bagasi Saat tiba di bandara tujuan penumpang sudah pasti menuju conveyer belt untuk mengambil bagasi. Tetapi, di bandara-bandara besar, terlebih bandara besar yang tak disokong teknologi terkini, menemukan bagasi adalah perkara sulit. Di samping banyaknya conveyer belt dan sibuknya penerbangan, memungkinkan ada conveyer belt yang beroperasi di waktu bersamaan, besarnya bandara juga membuat proses pencarian bagasi dan akses menuju conveyer beltnya lebih sulit dibanding bandara kecil. Baca juga: Teknologi Skrining Baru di Bandara: Tak Perlu Lepas Sepatu! 6. Harga makanan dan minuman lebih murah Bagi penumpang yang tak membawa perbekalan berupa makanan dan minuman, tentu tak ada pilihan lain kecuali membelinya di bandara. Celakanya, belanja di bandara besar jauh lebih mahal dibanding bandara kecil. 7. Lebih mudah menggapain keluar-masuk bandara Ukuran bandara yang kecil menjadikan aktivitas keluar masuk di bandara kecil jauh lebih mudah dan cepat.

Mysuru Punya Bus Berisi Tabung Oksigen dan Mudahkan Pasien Covid-19 Menunggu

Bus diubah menjadi rumah sakit di masa pandemi sepertinya bukan pemandangan baru lagi. Namun belum lama ini di India sebuah bus khusus untuk pasien yang membutuhkan oksigen. Di dalam bus tersebut akan tersedia enam bus berisi tabung oksigen yang akan melakukan layanan ke kota dengan memastikan oksigen sampai ke pasien tepat waktu dan setiap hari di Mysuru.

Baca juga: 20 Unit Bus SMRT Singapura Dikonversi Jadi Ambulans

KabarPenumpang.com melansir starofmysore.com (2/6/2021), kota ini mandiri dengan ribuan silinder jumbo langsung dari pabrik isi ulang dan banyak konsentrator oksigen yang dibeli oleh pemerintah. Ini juga disumbangkan oleh organisasi sukarela dan dermawan. Kehadiran bus dengan oksigen ini karena melihat perjuangan yang dihadapi pasien serta kerabat mereka untuk menemukan tempat perawatan di rumah sakit.

Apalagi mereka terlihat terengah-engah di kendaraan di luar rumah sakit. Tujuan dari bus tersebut adalah untuk menstabilkan kondisi kesehatan pasien terinfeksi virus yang membutuhkan bantuan oksigen darurat. Bus yang dimodifikasi ini telah terbukti bermanfaat bagi banyak pasien terinfeksi Covid-19 yang mengalami sesak napas dan sangat membutuhkan oksigen.

Bus ditempatkan di depan rumah sakit dan fasilitas medis yang menawarkan perawatan Covid-19. Jika pasien tidak dapat mendapatkan tempat tidur di fasilitas tersebut, mereka dapat naik bus dan tetap tinggal sampai mereka mendapatkan tempat tidur di fasilitas tertentu atau rumah sakit lain. Transportasi gratis.

“Setiap bus telah dilengkapi dengan delapan tabung oksigen dan dua konsentrator oksigen. Jika ada kerumunan yang tidak biasa di pusat pemeriksaan, pasien dapat dengan nyaman menunggu di bus dengan dukungan oksigen. Dan mereka juga dapat dipindahkan ke rumah mereka, Pusat Perawatan Covid-19 atau rumah sakit berdasarkan kondisi medis mereka,” Komisaris Perusahaan Kota Mysuru (MCC) Shilpa Nag.

Dari enam bus yang dilengkapi oksigen, empat berasal dari Karnataka State Road Transport Corporation (KSRTC) dan dua disumbangkan oleh Agarwal Samaj. Tidak hanya itu, oxygen-on-wheels telah membantu memindahkan pasien dari Pusat Perawatan Covid ke pusat diagnostik untuk menyelesaikan CT scan pasien dan tes medis lainnya.

Pasien dibuat tidur di dalam bus dan mereka dapat menunggu giliran dan dengan mudah menghirup gas yang menyelamatkan jiwa. Bus juga berfungsi ganda sebagai ambulans ketika pasien kritis harus dipindahkan dari fasilitas perawatan ke ICU karena tidak tersedianya ambulans pada waktu itu.

“Kota Mysuru sudah mandiri sekarang dan kami memiliki banyak silinder untuk digunakan dan juga untuk cadangan. Kami memiliki banyak konsentrator oksigen yang disumbangkan oleh orang-orang yang baik hati. Sebelumnya, pemandangan berbeda dengan kekurangan tempat tidur dan oksigen. Karena itu kami memutuskan untuk memindahkan keenam roda oksigen ke Taluks,” kata Shilpa Nag.

Pertemuan diadakan kemarin di mana Komisaris PKS memberi tahu Petugas Kesehatan Kabupaten (DHO) Dr. T. Amarnath bahwa bus dapat dialihkan ke Taluk di mana mereka dapat ditempatkan di depan Pusat Perawatan Covid pedesaan. Amarnath mengatakan bahwa oksigen di atas bus akan dimanfaatkan secara maksimal di daerah pedesaan.

Baca juga: Pengemudi Bus Rela Memutar Arah Demi Penumpang yang Akan Bertemu Ibunya di Panti Jompo Setelah Pembatasan Covid-19

“Kami memiliki persyaratan dan lokasi bus akan ditentukan setelah mempertimbangkan infrastruktur pasokan oksigen di Taluk dan juga jumlah pasien yang membutuhkan dukungan,” katanya.






















Disebut Kereta Setan, Benz Victoria Phaeton Jadi Tonggak Sejarah Mercedes-Benz di Indonesia

Siapa yang tak kenal dengan Mercedes-Benz? Sepertinya tidak mungkin tidak kenal. Sebab merek mobil asal Jerman ini cukup banyak digunakan di Indonesia baik bus ataupun kendaraan roda empat milik pribadi. Namun tahukah Anda bahwa Mercedes-Benz pertama hadir di Indonesia disebut dengan ‘Kereta Setan’?

Baca juga: Roma Bakal Terima 100 Bus Listrik Hibrida Citaro dari Mercedes-Benz

Julukan ini karena saat itu kendaraan yang populer dan digunakan sebagaian masyarakat Jawa adalah sebuah kereta yang ditarik kuda. Sehingga saat mereka melihat kereta yang berjalan sendiri tanpa ditarik seekor kuda menjadi tidak lazim dan unik.

Hal ini membuat orang Jawa menyebut Benz Victoria Phaeton sebagai Kereta Setan. Mobil ini hadir pertama kali di Indonesia dan pemiliknya adalah Pakubuwono X, Raja dari Kesultanan Surakarta pada tahun 1894. Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, kehadiran Benz Victorian Phaeton saat itu menjadi moda transportasi mewah dengan teknologi yang maju.

Benz Victorian Phaeton dibeli oleh Pakubuwono X dengan memesan dari Pröttle & Co., sebuah perusahaan yang berlokasi di Passer Besar di Surabaya. Mobil tersebut diimpor dari Eropa senilai 10 ribu Gulden. Mobil tersebut memiliki tenaga 5 hp, mesin satu silinder dengan perpindahan 2,0 liter dan dilengkapi dengan ban karet yang keras.

Kemudian mobil Daimler yang pertama kali hadir 13 tahun kemudian, yakni pada tahun 1907. Di mana kendaraan tersebut bernama Britze Daimler, yang ditenagai oleh mesin 4 silinder 45 hp. Bahkan inilah yang menjadi awal sejarah eksistensi Mercedes-Benz di Tanah Air.

Pada tahun 1934, Mercedes-Benz Tipe 500 K yang menggunakan supercharger masuk ke Indonesia. Mobil ini memiliki tenaga mesin 8 silinder dengan kapasitas 5,0 liter. Tanpa supercharger, tenaga maksimum yang dihasilkan yakni 100 hp. Namun dengan supercharger, daya ditingkatkan hingga tenaga maksimum mencapai 160 hp.

Mercy 500 K ini mencapai kecepatan tertinggi 160 km per jam, ini merupakan suatu hal yang luar biasa untuk kendaraan buatan 1930-an yang berbobot cukup berat. Tahun 1970 PT Star Motors Indonesia yang merupakan hasil joint venture antara Daimler-Benz AG dan PT Gading Mas didirikan sebagai agen tunggal produk Daimler-Benz di Indonesia.

Pada tahun yang sama, pabrik perakitan baru PT German Motor Manufacturing dibangun untuk produksi produk Daimler-Benz. Pada tahun 1971, pabrik di Tanjung Priok, Jakarta, memulai produksi massal kendaraan komersial, Mercedes-Benz 911. Produksi truk kemudian diikuti oleh perakitan bus dan mobil penumpang.

Pada tahun 1973, PT German Motor Manufacturing memulai produksi Mercedes-Benz 200, 240 D dan 280 dari seri kendaraan W 115. Untuk mengakomodasi pertumbuhan produksi mobil penumpang dan kendaraan niaga, Mercedes-Benz mulai beroperasi di pabrik perakitan lokal baru yang berlokasi di Wanaherang, Bogor, Jawa Barat pada tahun 1982.

Baca juga: 40 Tahun Lalu, Mercedes-Benz Luncurkan Airbag dan Sabuk Pengaman Pada S-Class

Pabrik Mercedes-Benz di Wanaherang, merupakan perakitan lokal PT Mercedes-Benz Indonesia dan PT Daimler Commercial Vehicles Manufacturing di Indonesia, saat ini pabrik telah merakit mobil penumpang (tipe C-Class, E-Class, S-Class, GLC, GLE dan GLS), truk (Axor) dan sasis bus.






















Pamer Kemewahan dengan Berfoto di Kabin Kelas Bisnis, Nyatanya Model Ini Duduk di Kelas Ekonomi

Bepergian dengan pesawat dan duduk di kelas bisnis bisa saja diimpikan banyak orang. Namun dengan budget kursi kelas ekonomi membuat banyak orang mengurungkan menggunakan kelas bisnis dalam perjalannya dan hanya menjadi sebuah angan-angan saja.

Baca juga: Bohong Liburan di Bali, YouTuber Cantik Ini Aslinya Hanya Ke Ikea

Hal ini juga ternyata dilakukan oleh seorang influencer yang juga model Instagram, Oceane EI Hilmer yang memiliki lebih dari 800 ribu pengikut di Instagramnya. Dia sering mengunggah tentang kehidupan mewahnya di media sosial.

Dalam unggahan di Instagram, Hilmer berbagi foto santapannya dengan teman-teman dan banyak hal lainnya yang membuat netizen percaya dia menjalani kehidupan mewah. Dilansir KabarPenumpang.com dari dnaindia.com (7/6/2021), dari foto yang diunggah akan membuat mereka membanding diri dan berharap merasakan kehidupan yang sama dengan orang lain di media sosial.

Seperti dilakukan model ini yang belum lama mengunggah foto dirinya di kabin kelas bisnis sebelum lepas landas. Foto itu diberi caption, “Perhentian berikutnya- Monaco”. Namun ternyata ada yang mengejutkan dibalik foto tersebut.

Di mana dalam kenyataannya Hilmer berpura-pura berada di kabin kelas bisnis padahal dia bepergian dengan duduk di kursi kelas ekonomi. Bahkan fotonya yang duduk di kursi kelas ekonomi beredar dan berbagai meme dibuat untuk menghujat model tersebut.

Beredarnya foto kebohongan Hilmer tersebut karena ada seorang penumpang yang mengenalinya. Kemudian penumpang itu diam-diam mengambil foto candid Hilmer serta mengunggah di Instagram sehingga menjadi viral.

Karena hal itu, Hilmer terus-menerus dikritik bahwa dia memalsukan kehidupan mewahnya. Selain itu para warganet pengguna Twitter membandingkannya dengan penyanyi Amerika, Bow Bow.

Baca juga: Iklan Pakaian Dalam dengan Model Pramugari Mendapat Kecaman

Yang mana Bow Bow membagikan foto jet pribadi dan memberitahu pengikutnya kalau dirinya bepergian ke New York. Namun saat itu Bow Bow terlihat dalam pesawat komersial yang penuh sesak dengan penumpang lain.

Hidupkan Lagi ‘Bandara’ Misterius di Xinjiang, Cina Dituding Tengah Jalani Misi Sangat Rahasia

Cina dituding tengah melakukan aktivitas super rahasia. Dalam pantauan citra satelit dari perusahaan komersial Maxar, Negeri Tirai Bambu itu tengah melakukan satu-dua kesibukan di lapangan terbang bekas uji coba senjata nuklir di tengah gurun di wilayah Lop Nur, daerah otonomi Xinjiang, ratusan kilometer jauhnya dari pusat kota.

Baca juga: Manufaktur Rudal dari Cina Buat Pemindai Tubuh di Bandara dengan Keakuratan 95 Persen

Dilansir NPR, besar kemungkinan lapangan udara dengan runway cukup panjang tersebut digunakan untuk misi ruang angkasa militer Cina. Belakangan, negara tersebut memang menunjukkan kemajuan pesat dalam perlombaan eksplorasi ruang angkasa.

“Saya pikir kami mengamati apa yang tampaknya menjadi fasilitas yang cukup penting untuk kegiatan ruang angkasa militer China yang belakangan tampaknya tumbuh pesawat,” kata Ankit Panda, senior fellow di Carnegie Endowment for International Peace.

Lebih lanjut, tudingan lapangan terbang tersebut digunakan untuk kegiatan misi ruang angkasa militer Cina bukan tanpa dasar. Beberapa pengamat percaya, pada tahun 2020 lalu Negeri Panda pernah mendaratkan pesawat luar angkasa yang sangat rahasia di sana.

Diperkirakan, pesawat luar angkasa Cina yang disebut-sebut sangat rahasia tersebut bukanlah pesawat baru, melainkan menyerupai pesawat luar angkasa milik AS.

Negeri Paman Sam, menurut onathan McDowell, astronom dari Center for Astrophysics Harvard dan Smithsonian, disebut sudah lebih dahulu menjalankan misi rahasia untuk mengembangkan pesawat luar angkasa yang diberi nama X-37b.

Ia menyakini, pesawat memiliki misi menguji teknologi canggih untuk satelit militer. Sejenis itulah yang mungkin dijalankan Cina saat ini di lapangan terbang di tengah gurun yang jauh dari pemukiman tersebut.

“Ini digunakan sebagai platform eksperimen, sebagai sesuatu yang membawa eksperimen ke luar angkasa dan kemudian sebagian besar, membawanya kembali sehingga Anda dapat memperbaikinya, meningkatkannya, dan meluncurkannya lagi,” jelasnya.

Menariknya, lapangan terbang yang belakangan sudah mulai didirikan beberapa bangunan berukuran besar serta tiang-tiang beton tersebut, konsepnya mirip dengan fasilitas militer Cina lainnya. Itu yang pada akhirnya semakin menguatkan lapangan terbang tersebut mungkin akan dijadikan fasilitas militer permanen.

Baca juga: Cina Sukses Kirim Astronot ke Stasiun Luar Angkasa, AS Panik

Meski begitu, Panda masih membuka kemungkinan dugaan lain yang berhubung dengan pengembangan teknologi tinggi, seperti pesawat penelitian atmosfer, pesawat dan drone dengan kemampuan terbang sangat tinggi, pesawat bomber canggih, serta pesawat eksperimental lainnya.

Cina sendiri, melalui Kedutaan Besarnya di Washington menolak berkomentar terkait hal ini. Tetapi, sebagian pengamat seperti Panda berikrar akan terus mengawasi situs tersebut melalui citra satelit.

Akhirnya Penumpang Bisa Gunakan Headphone Bluetooth Pribadi di Pesawat!

Teknologi konektivitas bluetooth pada sistem inflight entertainment (IFE) yang sudah lama ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Belum lama ini, dua maskapai dunia, Qatar Airways dan United Airlines, resmi menghadirkan konektivitas bluetooth dalam sistem IFE. Itu memungkinkan penumpang menggunakan headphone ataupun earphone pribadi.

Baca juga: Bingung Pilih Earphone atau Headphone? Pilih Earbud UE Dong!

Kendati teknologi tersebut bukan barang baru, tetapi di pesawat itu jadi sesuatu yang sangat baru. Khususnya di kelas ekonomi. Apalagi, bicara kebutuhan, di era pandemi Covid-19 sekarang ini, konektivitas bluetooth di sistem IFE pesawat bisa membuat penumpang lebih nyaman karena tak berbagi headphone dari maskapai.

Dilansir Simple Flying, Qatar Airways menjadi maskapai pertama di dunia yang menghadirkan konektivitas bluetooth di sistem IFE pesawat. Saat ini, Qatar Airways hanya menghadirkan itu di pesawat Boeing 787-9.

Teknisnya, penumpang hanya perlu menghubungkan headphone bluetooth pribadi dengan sistem Oryx One maskapai dan mulai menikmati sistem IFE dengan pengalaman baru.

Terobosan maskapai raksasa asal Timur Tengah ini merupakan kelanjutan dari komitmen Qatar Airways untuk menyediakan pengalaman baru dalam penerbangan. Sebelumnya, maskapai sudah lebih dahulu meluncurkan teknologi Zero-Touch untuk kontrol IFE di setiap pesawat Airbus A350 Qatar Airways. Pada Februari lalu.

Layaknya konektivitas bluetooth, penumpang hanya perlu memindai kode QR menggunakan ponsel pribadi untuk mengontrol IFE tanpa menyentuhnya secara langsung.

Serupa dengan Qatar Airways, United Airlines berhasil menjadi maskapai pertama yang menyediakan konektivitas bluetooth di sistem IFE pesawat. Hanya saja, itu bukan pertama di dunia melainkan pertama di Amerika Serikat (AS).

Dalam gelaran United Next, maskapai tersebut dengan bangga meluncurkan generasi terbaru sistem IFE Panasonic Avionics.

IFE ini juga mengusung layar yang lebih besar, yaitu 10 inci untuk kelas ekonomi dan 13 inci untuk first class. Yang paling menarik tentu konektivitas bluetooth, untuk memungkinkan penumpang menggunakan headphone bluetooth pribadi mereka dalam menikmati film, TV, musik pada sistem IFE.

Untuk sementara waktu, maskapai baru menghadirkan inovasi ini di pesawat-pesawat tertentu. Tetapi pada 2025 mendatang, ditargetkan seluruh armada maskapai sudah dilengkapi dengan layar IFE dan konektivitas bluetooth.

Walaupun konektivitas bluetooth sudah melekat di kehidupan sehari-hari, tetapi, itu tidak semudah yang kita bayangkan untuk dihadirkan di pesawat. Saat menghubungkan sistem dengan headphone bluetooth pribadi di pesawat, ada lusinan lebih perangkat lain yang juga mencoba hal serupa.

Andai kata penumpang cukup jeli memberi nama perangkat bluetooth mereka, tetapi, akan cukup rumit mencarinya. Belum lagi kemungkinan gangguan dari pengguna bluetooth lain mengingat jaraknya cukup dekat. Berbagai tantangan itulah yang coba dipecahkan perusahaan teknologi selama bertahun-tahun.

Baca juga: AERQ Tawarkan Pendekatan Holistik untuk Digitalkan Kabin Pesawat

Harapan adanya konektivitas bluetooth di pesawat muncul di tahun 2019. Melalui sistem eX3 IFE, Panasonic menghadirkan konektivitas bluetooth di pesawat. Hanya saja, terbatas pada headphone yang disediakan maskapai di first class dan tidak bisa menggunakan headphone pribadi. Barulah pada sistem IFE NEXT solution, Panasonic bisa benar-benar memecahkan masalah tersebut.

Perusahaan teknologi asal Perancis, Safran, juga berhasil memecahkan masalah itu lewat sistem IFE RAVE Ultra-nya baru-baru ini. Hanya saja, itu belum diaplikasikan di pesawat oleh maskapai. Tetapi, dalam waktu dekat, konektivitas bluetooth pada sistem IFE pesawat buatan Safran akan tersedia di pesawat 777-9 atau retrofit 787-8 Luftahnsa.

PPKM Darurat Wajibkan Penumpang Tunjukkan Kartu Vaksin Saat Bepergian dengan Bus, Pesawat dan Kereta Api

Lonjakan kasus Covid-19 di Indonesia, membuat pemerintah menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat Jawa – Bali. PPKM ini akan mulai pada 3 Juli hingga 20 Juli mendatang dan aktivitas di semua sektor diatur termasuk perjalanan menggunakan moda transportasi.

Baca juga: Mau Vaksin Pfizer Gratis Sambil Jalan-jalan ke Los Angeles? Cek Di Sini

Sehingga setiap masyarakat yang akan melakukan perjalanan domestik dan menggunakan transportasi jarak jauh seperti bus, pesawat serta kereta api diwajibkan sudah vaksin minimal dosis pertama. Sebab, masyarakat harus menunjukkan bukti kartu vaksin ketika akan check in.

Hal ini bertujuan agar masyarakat menghindari orang lain yang terinfeksi Covid-19 dan sebaliknya. Selain itu juga untuk menambah masyarakat mendapatkan vaksin. Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, tak hanya itu, masyarakat yang bepergian menggunakan pesawat juga wajib menyertakan hasil tes usap dengan metode polymerase chain reaction (PCR) maksimal H-2 keberangkatan.

Sedangkan untuk penumpang bus dan kereta api jarak jauh hanya menyertakan tes antigen makismal H-1 keberangkatan. Meski begitu, dalam penerapan PPKM darurat ini, masyarakat juga tetap harus menjalankan protokol kesehatan. Selain itu juga melarang penggunaan face shield tanpa masker.

Tak hanya itu, pemerintah juga mengatakan, untuk moda transportasi lainnya seperti angkutan umum, taksi konvensional ataupun online hingga kendaraan rental tetap bisa beroperasi dengan kapasitas maksimal 70 persen dengan menerapkan protokol kesehatan secara lebih ketat.

Juru Bicara Kementerian Perhubungan, Adita Irawati mengatakan, Kemenhub bersama Satgas Penanganan Covid-19 dan kementerian/lembaga terkait tengah menyusun surat edaran untuk mengatur secara teknis mengenai syarat perjalanan orang dalam negeri dan transportasi, menyesuaikan dengan panduan implementasi kebijakan PPKM Darurat.

Baca juga: Taguig City Hadirkan Bus Vaksin AstraZeneca untuk Jangkau Masyarakat

“Kemenhub sebagai regulator sektor transportasi berkomitmen untuk turut menekan lonjakan kasus Covid-19 di Indonesia, termasuk dengan menerapkan ketentuan mengenai perjalanan dalam negeri dan transportasi di masa PPKM darurat,” ujarnya.






















Rute Kenangan Garuda Indonesia di Masa Kejayaan Era 70-80an, dari Zurich sampai Athena

Terlepas dari berbagai krisis yang terjadi di tubuh Garuda Indonesia saat ini, maskapai nasional Indonesia itu pernah mencapai masa-masa kejayaan atau keemasan pada 70-80an. Definisi kejayaan di sini mungkin variabel cukup banyak, salah satunya ialah rute-rute internasional yang diterbangi.

Baca juga: DC-10 30, Kenangan Pesawat Trijet Jarak Jauh di Era Keemasan Garuda Indonesia

Di tahun-tahun tersebut, Garuda Indonesia pernah terbang ke banyak negara di Asia, Timur Tengah, Australia, Amerika, dan Eropa.

Terkait Eropa, mungkin tidak banyak yang mengingat bahwa flag carrier Indonesia ini pernah terbang ke banyak negara di Benua Biru, jauh sekali dibanding era maskapai belakangan ini yang terbatas hanya di Amsterdam saja.

Dikutip dari routeonline.com, pada tahun 1972, Garuda Indonesia tercatat pernah terbang ke Roma (Italia), Athena (Yunani), Frankfurt (Jerman), Amsterdam (Belanda), sampai Paris Le Bourget (Perancis).

Rute Garuda Indonesia dekade 70an. Foto: routesonline.com

Rutenya sendiri meliputi Jakarta – Singapore – Bangkok – Karachi – Rome – Paris Le Bourget – Amsterdam – Frankfurt – Rome – Athens – Bombay – Bangkok – Singapore – Jakarta selama sepekan sekali.

Ketika itu, perusahaan yang dipimpin oleh Direktur Utama Wiweko Soepono itu mengerahkan pesawat quadjet andal, DC-8. Pesawat ini memang bisa dibilang menjadi tulang punggung maskapai untuk rute-rute internasional selama dekade 60 sampai 70-an.

Unit pertama yang datang adalah Douglas DC-8 dengan nomor registrasi PK-GJD. Pesawat DC-8 pertama ini diberi nama “Siliwangi” dan menggunakan logo klasik Garuda ini diterima oleh maskapai pada Juli 1966. Sedangkan unit terakhir pesawat ini diterima pada tahun 1974.

Lanjut ke dekade 80an, Garuda Indonesia memperluas ekspansinya di rute-rute internasional mencapai sekitar 22 di seluruh dunia.

Rute internasional Garuda Indonesia dekade 80an. Foto: routesonline.com

Adapun khusus rute-rute Eropa, Garuda Indonesia memperluas ekspansinya pada tahun 1985/86 ke Zurich (Swiss) sampai London Gatwick (Inggris) sekali dalam sepekan, sambil tetap mempertahankan rute Eropa di dekade sebelumnya, yaitu Roma (Italia), Athena (Yunani), Frankfurt (Jerman), Amsterdam (Belanda), sampai Paris Charles de Gaulle (Perancis).

Di masa ini, maskapai sudah meninggalkan Douglas DC-8 dan berganti menjadi Boeing 747-200. Di periode ini pula, Garuda Indonesia bukan hanya mempunyai jaringan rute-rute internasional yang cukup luas, melainkan juga berhasil menjadi maskapai terbesar ke-2 se Asia setelah Japan Airlines serta menjadi maskapai terbesar dan berpengaruh di belahan bumi bagian selatan.

Sebelum pandemi virus Corona merebak di Indonesia, Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra, berencana untuk menerbangi seluruh kota-kota di dunai via Amsterdam dan Tokyo.

Baca juga: Douglas DC-8: Lambang Supremasi Penerbangan Jarak Jauh Garuda Indonesia di Era 60/70-an

Tetapi memang, itu terjadi berkat skema codeshare (berbeda dengan era dekade 70-80an seperti diungkap di atas), entah itu bersama KLM ataupun maskapai lain, dan tentu saja ini bukan hal baru.

Di tahun 2012, Garuda Indonesia juga pernah menggandeng Etihad Airways untuk merambah jaringan yang lebih besar. Bedanya, hanya pada di hub Garuda itu sendiri. Bila dahulu, Garuda memilih Dubai (markas Etihad) sebagai hub-nya, kini, Garuda memilih Amsterdam dan Tokyo, dengan segudang destinasi favoritnya.

Di Balik Kemunculan Maskapai Baru Super Air Jet, Produk UU Ciptaker?

Maskapai LCC Indonesia terbaru, Super Air Jet, berhasil mendapat sertifikat izin operasi komersial atau Air Operator Certificate (AOC) dengan tipe pesawat Airbus A320.

Baca juga: Wow, Harga Tiket Super Air Jet Lebih Murah dari Lion Air dan AirAsia! Ini Detailnya

Maskapai ini menyita perhatian bukan hanya karena muncul di tengah anjloknya industri penerbangan, tetapi juga karena menjual tiket jauh lebih murah ketimbang kompetitor yang selama ini jawara dalam menyediakan tiket penerbangan murah, Lion Air dan AirAsia.

Dalam rilis yang diterima KabarPenumpang.com, maskapai yang sudah melalui lima tahapan atau fase, yaitu Pre-Application, Formal Application, Document Compliance, Demonstration & Inspection, dan Certification dalam proses sertifikasi ini mengaku mengoperasikan tiga armada jenis Airbus 320-200 dengan kapasitas penumpang 180 kursi kelas ekonomi yang nyaman dikelasnya.

Beberapa kalangan sempat kaget dengan kepemilikan tiga armada tersebut mengingat pemerintah melalui Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 97 tahun 2015 tentang Petunjuk Pelaksanaan Kepemilikan dan Penguasaan Pesawat Udara telah mengatur ketat maskapai. Beleid tersebut diteken Menteri Perhubungan kala itu, Ignasius Jonan, pada 3 Juni 2015 dan diundangkan satu hari kemudian yakni pada 4 Juni 2015.

PM 97 Tahun 2015 menyatakan maskapai berjadwal wajib memiliki paling sedikit lima pesawat dan menguasai minimal lima pesawat dengan jenis yang mendukung kelangsungan usaha sesuai rute yang dilayani.

Menurut sumber KabarPenumpang.com, alasan dari regulasi tersebut ialah memberikan jaminan pelayanan bahwa alat produksi tidak bermasalah. Hal ini juga untuk memberikan kepastian tentang status kepemilikan modal.

Singkatnya, bisnis pesawat udara tak bisa dimasuki oleh sembarang orang mengingat investasinya cukup besar. Tentu, investasi besar tersebut tak dimaksudkan untuk memonopoli penerbangan, melainkan agar para pengusaha maskapai penerbangan benar-benar memperhatikan faktor safety atau keamanan dan keselamatan penerbangan.

Dalam salinan draf final UU Ciptaker yang diterima redaksi KabarPenumpang.com, Pasal 118 Ayat 2 klaster Penerbangan UU Cipta Kerja, ketentuan minimal kepemilikan pesawat tidak tercantum lagi. Kabag Hukum Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Endah Purnama Sari pun membenarkannya. “Itu (aturan maskapai wajib punya minimal 5 pesawat) dihapus,” katanya kepada Kompas.com, Rabu (7/10).

Sebagai gantinya, pada Pasal 19 ayat (2) huruf c UU Ciptaker diatur soal adanya rencana usaha (business plan) untuk kurun waktu paling singkat 5 (lima) tahun yang akan datang. Di dalamnya wajib memuat jenis dan jumlah pesawat udara yang akan dioperasikan.

Dalam klausul tersebut, pemerintah merombak aturan kepemilikan pesawat bagi maskapai berjadwal, tidak berjadwal, dan khusus angkutan kargo yang sebelumnya telah diatur dalam UU No. 1/2009 tentang Penerbangan.

Dalam Pasal 22 ayat (1) berbunyi pemegang izin usaha angkutan udara niaga wajib memiliki dan menguasai pesawat udara dengan jumlah tertentu. Kemudian pada ayat (2), dijabarkan mengenai kepememilikan dan penguasaan pesawat udara dengan jumlah tertentu.

Maskapai berjadwal memiliki paling sedikit satu unit pesawat udara dan menguasai paling sedikit dua unit pesawat udara dengan jenis yang mendukung kelangsungan operasional penerbangan sesuai dengan rute yang dilayani.

Baca juga: Omnibus Law Untungkan Pengusaha, Maskapai Tak Lagi Wajib Miliki Lima Pesawat! Nyawa Penumpang Taruhannya?

Adapun maskapai tidak berjadwal memiliki paling sedikit satu unit pesawat udara dengan jenis yang mendukung kelangsungan operasional penerbangan sesuai dengan rute yang dilayani.

Presiden Joko Widodo sendiri diketahui, dalam laman resmi DPR RI, sudah menandatangani UU Ciptaker pada tanggal 2 November 2020 dan resmi menjadi UU No 11 Tahun 2020. Karenanya, tak heran hanya dengan tiga pesawat saja, maskapai ultra LCC baru Indonesia, Super Air Jet, bisa berdiri dan tak lama lagi akan memulai penerbangan perdana.