Bocorkan Data Penumpang, Awak Kabin Maskapai Israel Bakal Dibui Lima Tahun

Data penumpang merupakan hal yang paling penting bagi maskapai sehingga tidak bisa sembarang untuk disebarkan. Namun bagaimana jika data penumpang bocor dan yang menjualnya adalah orang dalam maskapai untuk kepentingan pribadi? Pastinya akan ada sanksi dari maskapai dan juga dari pihak petugas keamanan jika maskapai melaporkan hal tersebut.

Baca juga: Data Manifes Penumpang Bocor, Begini Penjelasan Lion Air Group

Seperti yang terjadi pada maskapai Israel yang mana awak kabin seniornya menghadapi kemungkinan dipenjara hingga lima tahun. Hal ini karena awak kabin yang sudah lama melayani di maskapai yang tidak disebutkan namanya tersebut dituduh membocorkan data penumpang yang sensitif dan menjual akses ke sistem komputer penerbangan rahasia.

KabarPenumpang.com melansir laman paddleyourownkanoo.com (7/6/2020), masalah ini kemudian ditangani oleh pasukan pertahanan Israel atau The Israeli Defence Forces (IDF) dan Badan Perlindungan Privasi Israel. Mereka mengumumkan rincian penyelidikan pada Minggu (7/6/2020) setelah kekhawatiran pertama kali dilaporkan ke pihak berwenang oleh maskapai tempat awak kabin tersebut bekerja.

IDF mengatakan, awak kabin tersebut membocorkan data pribadi penumpang bukan hanya sekali tetapi sudah bertahun-tahun. Data penumpang tersebut yang disebarkan mencakup informasi medis, status keanggotaan penumpang, detail paspor, alamat rumah dan penumpang VIP yang sangat dihormati maskapai.

Pertama kali tuduhan dilaporkan, tidak disebutkan nama maskapai yang terlibat. Namun IDF mengkonfirmasi bahwa maskapai yang melaporkan tindakan awak kabinnya itu adalah milik Israel. Maskapai nasional Israel yakni El Al menjadi maskapai terbesar di Israel, tetapi negara itu juga memiliki maskapai kecil yang termasuk Israir dan Arkia.

Setelah dilakukan penyelidikan, Badan Perlindungan Privasi menemukan bahwa awak kabin menjual rincian login mereka ke sistem komputer maskapai penerbangan jarak jauh. Awak kabin tersebut memberikan kebebasan kepada penjahat yang terlibat untuk mengakses informasi apa pun yang ingin mereka lihat atau ketahui.

“Basis data yang dikelola oleh entitas swasta seperti bisnis dan perusahaan juga mengandung informasi yang paling sensitif dan pribadi,” jelas juru bicara Badan Perlindungan Privasi.

Baca juga: Gegara Corona, Maskapai El Al Gunakan Pesawat Penumpang Kosong untuk Keperluan Kargo

Juru bicara itu mengatakan memberikan akses ke informasi ini kepada orang yang tidak berwenang dapat dihukum hingga lima tahun penjara. Kasus ini telah diserahkan ke Departemen Cyber ​​Kantor Kejaksaan Negeri untuk ditinjau dan kemungkinan penuntutan.

Ketimbang Lepas Masker, Pramugari Garuda Kenapa Tak Pakai Masker Transparan Saja?

Garuda Indonesia kembali menuai polemik. Setelah permasalahan terkait utang jatuh tempo tuntas, kini maskapai pelat merah itu lagi-lagi jadi sorotan pasca kabar mengenai kebijakan mengganti penggunaan masker dengan face shield muncul ke permukaan. Bahkan, hingga berita ini ditulis, trending Twitter dengan keyword Garuda sudah dicuitkan lebih dari 4 ribu kali.

Baca juga: Pramugari Garuda Indonesia Dikomplain Gegara Masker, Sinyal Kuat Penumpang Ingin Cuci Mata?

Sebagaimana ramai diberitakan, hal itu diakibatkan dari banyak dikomplain penumpang dewasa. Rata-rata, mereka komplain karena tak bisa melihat ekspresi pramugari saat melayani mereka, entah sambil tersenyum atau sebaliknya. “Banyak penumpang dewasa komplain tentang pramugari kami yang menggunakan masker,” kata Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra belum lama ini dalam webinar Stadium Generate Binus Univesity.

Dirunut ke belakang, sinyal keputusan Garuda Indonesia untuk melepas pemakaian masker dan menggantinya dengan face shield, agar penumpang bisa melihat senyum (wajah) pramugari, sebetulnya sudah sejak awal Januari lalu disinggung bos maskapai pelat merah ini.

“Kalau pakai masker kan tidak ketahuan apa dia itu senyum atau bagaimana. Jadi (masker) bisa dibuka dan sebagai gantinya pakai face shield,” jelas Irfan kepada wartawan dalam konferensi pers virtual melalui Zoom, Jumat (5/6).

Seperti biasa, dalam menyikapi sebuah polemik, netizen selalu terbelah. Di antara mereka ada yang pro dan kontra. Dilihat KabarPenumpang.com, bagi mereka yang kontra, setidaknya alasan keamanan dan ketidakjelasan atau konsistensi maskapai mengikuti protokol kesehatan menjadi titik sorotan.

Sebab, di saat moda transportasi lain mewajibkan petugas memakai masker, Garuda Indonesia justru sebaliknya, melepas masker dengan dalih komplain dari penumpang. Padahal, dari segi keamanan, menanggalkan masker dan menggantinya dengan face shield dinilai membahayakan awak kabin dan penumpang. Bahkan, pengamat kebijakan publik, Agus Pambagio menyebut taruhannya nyawa.

Lagi pula, dari sisi regulasi, memakai masker adalah protokol kesehatan dari WHO yang diadaptasi oleh ICAO. Di samping itu, aturan soal kapasitas kursi maksimal 70 persen juga bermasalah dan mengancam keselamatan. Kolaborasi dari keduanya tentu akan membahayakan. Tak ayal, dengan kebijakan yang sudah tersiar luas di masyarakat ini pun sampai mendapat sorotan dari media Malaysia, Astro Awani.

Padahal, ketimbang menuruti penumpang dan pada akhirnya menggadai keselamatan bersama dari ancaman wabah Covid-19 atau sebaliknya, tidak mendengarkan penumpang hingga mereka pun beralih ke maskapai lain, Garuda Indonesia dinilai beberapa kalangan masih mempunyai alternatif lain. Salah satunya, menggunakan masker transparan.

Masker transparan belakangan pamornya mulai naik setelah istri KASAD Jenderal TNI AD Andhika Perkasa, Diah Erwiany atau biasa juga disebut Diah Perkasa, menggunakannya akhir April lalu. Kala itu, ia disorot (publik) karena terharu saat mengetahui perjuangan tenaga medis di RSPAD Gatot Subroto. Di samping itu, netizen juga menyoroti penggunaan masker transparan yang dinilai tak menghalangi orang lain untuk melihat ekspresi wajah penggunanya.

Sementara itu, Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi menyebut alasan Garuda Indonesia mengakomodir aspirasi penumpang karena tak bisa melihat wajah pramugari absurd. Ia menekankan untuk jangan biarkan pramugari melepas masker. Seharusnya, manajemen tetap mewajibkan pramugari memakai masker sampai kondisi aman agar bisa melilndungi diri sendiri dan orang lain.

Baca juga: Garuda Indonesia Bakal Hapus Kewajiban Pakai Masker, Pramugari ‘Cukup’ Kenakan Face Shield

Meskipun demikian, sampai saat ini, Irfan mengaku pramugari Garuda Indonesia masih dan akan terus menggunakan masker dalam pelayanan. Ia pun menyebut bahwa ada pihak-pihak yang telah mempelintir kabar tersebut sehingga menuai polemik di masyarakat. “Dipelintir (pramugari Garuda lepas masker). Masker masih kita gunakan,” tegasnya kepada KabarPenumpang.com via pesan singkat.

“Masih terus dong (pramugari menggunakan masker). Komplain itu kan bagian dari feedback (dari penumpang),” tutupnya.

Mengharukan, Warga Iringi ‘Kepergian’ Airbus A380 Terakhir Saat Lewati Pedesaan Perancis

Konvoi kendaraan yang membawa badan pesawat A380 terakhir belum lama ini melewati pedesaan Perancis. Mengetahui hal itu, warga pun berduyun-duyun datang memenuhi rute yang dilintasi konvoi kendaraan sambil tepuk tangan dan berteriak dengan meriah (saat iring-iringan melintas), bahkan saat malam hari sekalipun. Padahal, saat malam hari, desa-desa di Perancis biasanya sudah sunyi dimulai sejak matahari tenggelam.

Baca juga: Meski Jaya di Udara, Rupanya Airbus Andalkan Jalur Laut dalam Proses Perakitan Pesawat

Laporan Simple Flying, kemeriahan dan keharuan tersebut bermula saat bagian pesawat Airbus A380 terakhir -dengan kode registrasi MSN 272 tersebut- keluar dari pabrik Saint-Nazaire dengan dibawa oleh tiga truk besar, melewati pedesaan Perancis seperti Gers, Haute-Garonne, Gimont, dan Leignac menuju fasilitas perakitan akhir di pinggiran Toulouse, Perancis.

Tak seperti biasanya, sekalipun rute menuju fasilitas perakitan akhir di Toulouse sudah dilalui sejak 14 tahun lalu, namun, baru kali ini warga memenuhi nyaris sepanjang jalan di pedesaan yang dilalui. Hal itu tentu maklum, mengingat kendaraan yang melintas pada Rabu malam itu membawa bagian terakhir A380 yang akan dirakit.

Saking padat serta tingginya antusiasme warga yang melihat momen bersejarah itu, di beberapa titik, jalan-jalan menjadi sangat sempit –bahkan disebut nyaris tak ada jarak antara garis kerumunan warga dengan truk- sehingga memaksa iring-iringan truk memperlambat lajur. Selama truk-truk tersebut melitas, jutaan tepuk tangan tak henti-hentinya mengiringi sambil terus mengikut kendaraan keluar dari desa.

Selain dihadiri warga desa, CEO Airbus, Guillaume Faury juga ikut mengiringi konvoi truk pembawa bagian Airbus A380 terakhir. Malam itu, dari berbagai titik kerumunan, Faury lebih memilih untuk menepi di Levignac, salah satu wilayah di distrik Haute-Garonne, untuk menyambut karyawan muda Airbus, sambil melihat iring-iringan truk berlalu.

Karyawan yang ikut andil dalam memproduksi A380 terakhir dipajang di badan pesawat. Foto: Getty Images via Simple Flying

Melengkapi momen mengharukan di malam bersejarah itu, bila sebelumnya bagian-bagian badan pesawat A380 itu hanya ditutupi kain merah atau putih bertuliskan logo perusahaan, kini, Airbus menambahkan tulisan yang menandakan malam terakhir jalur tersebut dilewati bagian A380, “Goodbye Saint-Nazaire.”

Tak hanya itu, sebagai tanda penghargaan tertinggi kepada para karyawan yang tetap bekerja di masa pandemi corona ini, Airbus juga menyertakan mereka yang ikut memproduksi tiga bagian besar A380 ini juga dipajang di masing-masing jendela.

Belum jelas MSN 272 diperuntukkan untuk siapa. Yang jelas, saat ini, Airbus masih berhutang sembilan pesawat A380, dimana delapan di antaranya pesanan Emirates dan satu sisanya ANA. Namun, Emirates sejauh ini dikabarkan telah menegosiasi Airbus untuk mengambil tiga pesawat saja dan membatalkan lima lainnya; meskipun dengan dikenakan denda. Adapun ANA dikabarkan tetap akan mengambil pesawat komersial terbesar di dunia itu.

Baca juga: Libatkan 1.500 Perusahaan, Inilah Proses Perakitan Airbus A380 Yang Fenomenal

Sebagai informasi, proses perakitan Airbus A380 memang tidaklah mudah. Setidaknya ada 4 juta bagian pesawat Airbus A380 yang mesti disatukan sebelum bisa terbang. Misalnya, sayapnya dibangun di Broughton, Wales, bagian badan pesawat berasal dari Hamburg, Jerman, dan Saint-Nazaire, Perancis, sirip ekor horisontal diproduksi di Cadiz, Spanyol, dan sirip ekor vertikal di Hamburg.

Dari baut hingga mesin A380 terdiri dari sekitar 4 juta bagian yang diproduksi oleh 1.500 perusahaan dari 30 negara di seluruh dunia. Maka dari itu, tak heran bila konvoi di malam bersejarah Rabu lalu, truk-truk hanya membawa tiga badan Airbus karena bagian lainnya diproduksi di tempat lain.

Kapal Pesiar Asuka II Terbakar Saat Bersandar di Pelabuhan Yokohama

Kapal pesair Asuka II yang tengah merapat di Pelabuhan Yokohama dekat Tokyo terbakar dibagian atasnya. Insiden ini terjadi pada Selasa (16/6/2020) kemarin dan langsung dilakukan pemadaman untuk mencegah api meluas.

Baca juga: Bill Gates Ramai Disebut Telah Beli Kapal Pesiar Mewah Seharga Rp8,8 Triliun, Ini Faktanya!

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman kyodonews.net (16/6/2020), markas penjaga pantai regional ke-3 yang berbasis di Yokohama mengatakan menerima laporan melalui radio dari seorang anggota kru sekitar pukul 01.00 malam waktu setempat. Kemudian awak kapal berusaha memadamkan api tersebut bersama penjaga pantai.

Namun penyebab kebakaran tersebut tidak diketahui dengan segera dan penjaga pantai melaporkan tidak ada yang terluka kerena penumpang tidak ada di dalam kapal. Api tersebut akhirnya berhasil padam setelah tiga jam dilakukan pemadaman yakni sekitar pukul 04.15 malam waktu setempat.

Penjaga pantai mengatakan, api mulai terlihat di area penyimpanan di dek atas Asuka II. Operator perusahaan induk kapal pesiar Nippon Yusen K.K mengatakan, sebanyak 153 awak berada di kapal untuk tugas penting dan membantu memadamkan api.

Kapal pesiar Asuka II telah merapat di Pelabuhan Yokohama sejak awal April setelah kembali dari Singapura tempat kapal pesiar ini menjalani perawatan. Untuk diketahui, kapal pesiar Asuka II awalnya dibangun oleh galangan kapal Mitsubishi Heavy Industries di Nagasaki, Jepang, sebagai Crystal Harmony untuk Crystal Cruises.

Pada tahun 2006, Crystal Harmony dipindahkan dari armada Crystal Cruises ke perusahaan induk Crystal, Nippon Yusen Kaisha, dan memasuki layanan dengan nama saat ini yaitu Asuka II. Kemudian Asuka II pada Februari 2009 menjadi kapal pesiar terbesar di Jepang.

Kapal pesiar Crystal Harmony melakukan pelayaran perdananya di perairan Amerika Selatan dan Karibia dan sempat terbakar karena kebocoran bahan bakar di ruang mesin bantu sekitar 320 km dari Christobal. Kemudian melayang tanpa daya selama 16 jam dan setelah perbaikan berhasil berhasil mencapai pelabuhan dengan uapnya sendiri dan menurunkan penumpangnya di Panama.

Baca juga: Jadi Heboh Setelah Serangan Virus Corona, Inilah Sosok Kapal Pesiar “World Dream”

Crystal Harmony berlayar ke pulau Curaçao, dikawal oleh sebuah kapal tunda, untuk diperbaiki. Setelah 15 tahun pelayanan, Crystal Harmony pensiun dari armada Crystal pada tahun 2005. Kapal ini dipindahkan ke perusahaan induk Nippon Yusen Kaisha untuk menggantikan Asuka dan kemudian menjalani renovasi dan memasuki kembali layanan sebagai Asuka II.

Asuka II, yang telah beroperasi sejak Februari 2006, memiliki panjang 241 meter dan berat sekitar 50 ribu ton. Ini memiliki kapasitas penumpang 872 dan 150 awak.

Krisis Besar, Qatar Airways Tolak Pesawat Airbus dan Boeing Hingga 2022

Qatar Airways memutuskan untuk menolak kedatangan pesawat Airbus dan Boeing setidaknya hingga tahun 2022 mendatang. Hal itu dikarenakan anjloknya permintaan perjalanan penumpang serta krisis uang tunai yang tengah dihadapi perusahaan. Bahkan, saking krisinya, pesanan Boeing 777X, besar kemungkinan akan ditunda hingga 2030 mendatang.

Baca juga: Awak Kabin Qatar Airways Gunakan Kostum Hazmat untuk Layani Penumpang

“Kami telah memberi tahu Boeing dan Airbus bahwa kami tidak akan ambil pesawat baru tahun ini dan tahun depan,” kata CEO Qatar Airways Group, Akbar Al Baker kepada Sky News, sebagaimana dilansir executivetraveller.com.

“Semua pesawat pesanan kami yang seharusnya dikirim dalam dua atau tiga tahun ke depan, sekarang akan molor sampai setidaknya delapan hingga sepuluh tahun mendatang. Kami akan mulai menerima pesawat pesanan kami seiring meningkatnya frekuensi penerbangan dan permintaan perjalanan,” tambahnya.

Salah satu dari tiga maskapai terbesar di Timur Tengah itu diketahui sudah memesan sekitar 160-200 pesawat kepada duopoli produsen pesawat dunia, Airbus dan Boeing, dengan total investasi mencapai puluhan miliar dolar.

Adapun rinciannya, 50 A321neo dan A321neo LR, 12 Airbus A350-1000, 23 Boeing 787-9, 110 dari Boeing 777X (60 tipe 777-9 dan 50 tipe 777-8), serta pesawat pesakitan yang saat ini tengah di-grounded di seluruh dunia 60, Boeing 737 MAX 8.

Terkait Boeing 737 MAX 8 ini, bahkan, pimpinan tertinggi Qatar Airways itu dengan tegas menyebut pihaknya tak lagi butuh MAX. “Kami telah memberi tahu Boeing bahwa kami harus menggantinya dengan pesawat jenis lain. Kami tidak akan membutuhkan lagi 737 MAX,” jelasnya.

Dalam sesi wawancara bersama Sky News UK, Al Baker juga menyinggung soal kebijakan Qatar Airways terhadap pesawat komersial terbesar di dunia, Airbus A380. Ia menyebut, A380 besar kemungkinan akan terus di-grounded sampai pertengahan 2021 atau bahkan tidak terbang sama sekali sebagai kemungkinan terburuk.

Baca juga: Boeing 737 MAX ‘Tumbang’, Rusia Tantang Airbus A320neo Lewat MC-21

“Qatar Airways saat ini menggrounded 10 A380 dan pesawat tersebut tidak akan kembali selama setidaknya satu tahun atau mungkin tidak akan pernah (terbang),” ucapnya.

Skenario tersebut bukannya tanpa alasan. Dalam pengamatan Al Baker, dampak dari wabah Covid-19 terhadap industri penerbangan global setidaknya telah membuat pihaknya menggrounded sekitar 50an pesawat. Itupun masih mungkin bertambah mengingat krisis akibat corona seperti sekarang ini masih akan terus berlangsung sampai dua hingga tahun mendatang. “Saya pikir saya akan sangat terkejut jika sesuatu (industri kembali normal) akan terjadi sebelum 2023/2024,” pungkasnya.

Kembali Beroperasi, AirAsia Indonesia Baru Buka Dua Rute

AirAsia Indonesia mulai kembali beroperasi pada hari ini (19/6/2020) dan akan menyesuaikan rencana penerbangan berjadwal mereka secara bertahap di rute tertentu. Selain itu dengan membuka kembali penerbangan AirAsia Indonesia akan terus memantau perkembangan situasi.

Baca juga: India Mulai Buka Penerbangan Domestik, Penumpang Disarankan Tidak Gunakan Toilet Selama di Pesawat

Mereka juga akan melakukan langkah antisipasi yang diperlukan untuk memulai kembali layanan penerbangan berjadwalnya. Dikutip KabarPenumpang.com dari newsroom.airasia.com, nantinya calon penumpang yang terdampak karena perubahan ini akan menerima pemberitahuan pembatalan beserta informasi pilihan kompensasi melalui email dan SMS ke nomor yang terdaftar saat pembelian tiket.

Dalam pengoperasiannya kembali, AirAsia mengimbau seluruh calon penumpang yang akan melakukan penerbangan nantinya selalu memerhatikan dan memenuhi persyaratan kesehatan, imigrasi serta pembatasan perjalanan yang ditetapkan otoritas wilayah maupun pemerintah setempat. Rute penerbangan domestik yang dioperasikan kembali oleh AirAsia Indonesia yakni Jakarta – Denpasar (PP) dan Jakarta – Medan (PP) dengan jadwal hari Senin, Rabu Jumat dan Minggu.

Adapun jam keberangkatan dari Jakarta pukul 09.25 WIB dan tiba di Denpasar 12.25 WITA, sedangkan berangkat dari Denpasar pukl 12.10 WITA dan tiba di jakarta 13.35 WIB. Sedangkan keberangkatan Jakarta – Medan berangkat pukul 12.10, tiba 14.40 WIB dan kembali dari Medan – Jakarta pukul 15.05, tiba 17.25 WIB.

Semua penumpang AirAsia yang melakukan penerbangan domestik maupun internasional wajib mematuhi ketentuan berikut sesuai Surat Edaran Gugus Tugas Penanganan Covid-19 No.7/2020. Di mana setiap penumpang memastikan dirinya memenuhi persyaratan untuk melakukan perjalanan.

AirAsia Indonesia melakukan protokol kesehatan seperti pemeriksaan suhu tubuh penumpang, memberikan jarak antrean dengan tanda baik di kios check in maupun konter ketika di bandara. Bahkan penumpang juga disarankan untuk check in melalui website atau aplikasi AirAsia untuk mengurangi kontak fisik.

Selain itu, AirAsia selama masa pandemi tak menjual makanan berat sehingga calon penumpang diminta untuk memesan makanan terlebih dahulu 24 jam sebelum mereka terbang baik dari situs AirAsia maupun aplikasi. Meski begitu, awak kabin tetap melakukan penjualan camilan dalam kemasan dan minuman dalam botol atau kaleng.

Untuk diketahui, AirAsia Indonesia dengak kode penerbangan QZ menghentikan sementara seluruh layanan penerbangan mereka mulai 1 April 2020. Hal ini dilakukan karena AirAsia mempertimbangkan situasi risiko wabah Covid-19 dan untuk mendukung upaya pemerintah Indonesia dalam mengatasi penyebarannya.

Baca juga: Tiga Maskapai Besar Ini Kompak Bebaskan “Change Fees” di Tengah Wabah Covid-19

Meski menghentikan perjalanan berjadwal saat itu, AirAsia Indonesia juga tetap menawarkan layanan penerbangan dalam repatriasi Warga Negara Indonesia maupun Warga Negara Asing. Selain itu juga menjadi pesawat kargo yang mengirim bantuan ke lokasi-lokasi yang terdampak karena pembatasan perjalanan.

Insiden di Aberdeen Belanda, Pesawat Embraer 145 ‘Jepit’ Bombardier Q400

Pesawat FlyBe dilaporkan menabrak pesawat lainnya milik Loganair yang tengah parkir di Bandara Aberdeen, Belanda. Dari gambar yang beredar, pesawat Bombardier Q400 tampak menghantam bagian sisi kanan belakang Embraer 145 dan membuatnya terjepit di bawah mesin pesawat.

Baca juga: Bodi Pesawat JAL Robek Gegara Tertabrak Truk Katering Garuda, “Netizen: Gaji 100 Tahun Pun Ga Akan Sanggup Bayar”

Daily Mail melaporkan, kejadian tersebut bermula saat pesawat dari maskapai yang telah bangkrut itu tengah melakukan Elephant Walk di bandara. Namun, entah apa yang merasuki pilot, alih-alih masuk ke runway, pesawat malah nyasar ke apron dan menabrak pesawat Loganair.

“Tepat sebelum jam 6 sore kemarin, jet regional Loganair Embraer 145, yang tengah parkir tanpa penumpang atau awak pesawat, ditabrak oleh pesawat Flybe Bombardier Q400, yang kami pahami saat itu sedang melakukan persiapan untuk take off setelah sekian lama di-grounded di Bandara Aberdeen,” kata juru bicara Loganair.

Dari pengakuan awak kabin FlyBe, insiden pesawat menabrak pesawat lainnya itu tidak terlalu kencang. Namun demikian, pesawat memang sempat terguncang sebelum akhirnya sedikit mendorong Embraer 145 dan bersarang di bawah mesin. Beruntung, baik dari pihak Loganair maupun FlyBe tidak ada korban jiwa maupun korban luka.

“Yang paling penting adalah tidak ada yang terluka dalam insiden itu, dengan para kru yang bekerja di pesawat eks-Flybe (yang telah bangkrut) aman, dan selamat, walaupun pesawat sempat terguncang akibat kejadian itu,” juru bicara Loganair melanjutkan.

“Kami tidak berharap bahwa kejadian malang ini akan menyebabkan gangguan (delay) kepada pelanggan pada penerbangan Loganair lainnya dari Aberdeen, sebab kami memiliki pesawat cadangan yang selalu siaga dan tersedia untuk memenuhi jadwal kami,” tambahnya.

Insiden seperti itu sejak lama memang kerap terjadi. Penyebabnya bisa karena kesalahan teknis oleh pilot atau gangguan eksternal seperti cuaca, atau bisa juga disebabkan karena terlalu banyak pesawat yang parkir di bandara; seperti apa yang menimpa dua pesawat Cathay.

Sebelumnya, pada pertengahan April lalu, menurut Travel Radar dua pesawat milik Cathay Pacific, A350 AND B777 dilaporkan bersenggolan di Bandara Hong Kong. Belum jelas waktu persis kejadian tersebut, entah kemarin atau lusa.

Namun, petugas ground control bandara mengaku, pihaknya menerima informasi adanya insiden senggolan dua pesawat pada pukul 12:30 (waktu setempat) di Taxiway J. Taxiway J belakangan memang terungkap sudah dimanfaatkan otoritas bandara untuk memarkirkan pesawat karena space yang ada sudah tak lagi menampung.

Baca juga: Tak Hanya Tabrak Tiang, Pesawat Juga Saling Bertabrakan di Apron dan Landas Pacu

Akibat dari insiden tersebut, baik Airbus A350 ataupun Boeing 777 keduanya mengalami sedikit kerusakan. Airbus A350 mengalami kerusakan pada winglet sebelah kanan sedangkan Boeing 777 rusak pada stabilizer horizontal sebelah kiri.

Senggolan antar dua pesawat Cathay Pacific pun seperti mengulang insiden serupa. Pesawat terbaru A350-1000 milik British Airways dilaporkan bersenggolan dengan pesawat Boeing 777-300ER milik Emirates di Bandara Internasional Dubai, Uni Emirat Arab, pada Selasa (14/4).

Tak Puas dengan Layanan Singapore Airlines, Desain Interior Pesawat Bebas Covid-19 Ini Pun Lahir

Banyak inovasi diawali oleh sebuah pengalaman tak memuaskan. Tak terkecuali dengan Jeffrey O’Neill. Pemuda jebolan sekolah manajemen Boston University ini sampai harus mengeluarkan desain kursi kelas ekonomi premium jarak jauh, Zephyr Seat, setelah mengalami pengalaman tak menyenangkan bersama salah satu maskapai terbaik di dunia, Singapore Airlines.

Baca juga: Virus Corona Bikin Singapore Airlines Turun Kelas Jadi Maskapai LCC?

Dalam pengakuannya kepada CNN International, cerita pengalaman buruknya bersama Singapore Airlines bermula saat ia menumpangi pesawat rute New York-Singapura beberapa tahun yang lalu. Dengan menempuh jarak sejauh 18 jam 45 menit nonstop, kursi kelas ekonomi premium yang ia tumpangi nyatanya tak membuat ia bisa dengan mudah berbaring. Alhasil, selama perjalanan, ia tak bisa tidur.

“Saya mungkin berada di maskapai penerbangan berperingkat terbaik di dunia, dan saya mendapatkan layanan yang luar biasa dan makanannya bisa dimakan, tetapi saya tidak bisa tidur,” kenang founder sekaligus CEO Zephyr Aerospace ini.

“Ini benar-benar tidak nyaman. Mengapa sangat sulit untuk menemukan cara yang terjangkau untuk berbaring di (pesawat) penerbangan selama 19 jam?” lanjutnya.

Zephyr Seat memudahkan penumpang untuk berbaring di kursi ekonomi premium pada penerbangan jarak jauh. Foto: Zephyr Aerospace via CNN International

Menariknya, pengalaman buruk bersama Singapore Airlines itu seolah mendapat antitesa. Kala itu, saat dalam perjalanan di Argentina sekitar dua tahun lalu, ia menumpangi sebuah bus yang menawarkan fasilitas kursi double-decker. Saat mencobanya, ia pun teringat dengan pengalaman buruk bersama Singapore Airlines tadi. Dari situlah ia terpikir untuk menghadirkan desain kursi interior pesawat –nyaris serupa dengan yang ia alami- pada penerbangan ekonomi premium jarak jauh (long haul).

Dilihat dari dimensi dan bentuknya, desain double-decker Zephyr Seat bisa dibilang memanfaatkan celah atau ruang kosong antara kursi (standar) dengan kompartemen kabin (overhead). Karena bentuknya memanjang ke atas, memuat satu orang di bawah dan lainnya di atas, Zephyr Seat juga dibilang lebih menjaga privasi dan bahkan ancaman wabah Covid-19 sekalipun, mengingat, saat ini ICAO telah merekomendasikan untuk menerapkan aturan physical distancing di pesawat.

Tentu, secara tidak langsung, Zephyr Seat telah menerapkan hal tersebut tanpa harus mengkosongkan kursi, sebagaimana desain interior kursi yang ada saat ini.

Dengan begitu, walaupun satu kursi diisi hanya satu orang, maskapai tetap bisa menjaga kapasitas mirip seperti desain ekonomi premium sebelumnya, dengan konfigurasi 2-4-2. Hanya bentuknya saja yang dibuat memanjang ke atas. Penumpang pun bisa dengan mudah berbaring atau duduk berkat adanya kursi retract yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan.

“Kami pada dasarnya memasang kembali seluruh kursi di atas yang lain. Jadi dibuat dua tingkat dan tidak setinggi seperti yang dibayangkan, hanya empat setengah kaki dari space masuk kursi bawah ke kursi atas,” jelasnya.

Baca juga: Sambut New Normal, Interior Kabin ini Digadang Mampu Cegah Sebaran Corona di Pesawat

Meskipun masih desain tahap awal, O’Neill mengaku telah membuka komunikasi dengan empat maskapai besar di Amerika Serikat (AS), termasuk Delta Air Lines. Pada tahun 2019 lalu, ia juga pernah membawa desain ini ke Airline Interiors Expo di Hamburg, Jerman dan mendapat beberapa masukan untuk menjadikan Zephyr Seat double-decker lebih diterima di pasaran. Selain itu, Zephyr Seat juga digandag-gadang jadi desain kursi masa depan.

“Harga untuk kelas bisnis dan first class akan meningkat tajam jauh dari biasanya, mungkin sekitar 85 persen. Itu berarti pilihan traveler yang paling terjangkau namun nyaman –di luar kelas bisnis dan first class- kini menjadi kenyataan,” tutupnya.

Kabar Sedih, Australia Tutup Akses Masuk Buat Wisatawan Hingga 2021

Mungkin bagi sebagian orang di Indonesia, Australia bakal terasa begitu ‘jauh,’ pasalnya Negara Benua tersebut telah menutup rapat-rapat bagi hadirnya wisatawan, setidaknya hingga tahun 2021 mendatang. Konkritnya, bagi Anda yang ingin berwisata atau ada niatan menengok sanak saudara yang menetap di Australia, maka harus gigit jari. Kebijakan lockdown bagi turisme ini terkait pandemi Covid-19, dimana Pemerintah Australia berusaha memproteksi kesehatan warganya dari potensi masuknya virus yang kemungkinan dibawa oleh pelancong.

Baca juga: Bandara Changi Hadirkan Transit Holding Areas untuk Penumpang Singapore Airlines

Meski hal tersebut merupakan kabar yang membuat sedih, namun, negara asal Koala ini tetap berusaha untuk melonggarkan aturan masuk bagi pelajar dan pengunjung yang sudah atau berencana tinggal dalam jangka panjang di Australia, seperti halnya warna negara asing yang telah mendapatkan hak sebagai permanent resident. Hal tersebut dikatakan oleh Menteri Perdagangan Simon Brimingham pada Rabu (17/6/2020).

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman mothership.sg (17/6/2020), Simon mengatakan, meski begitu aturan karantina selama 14 hari untuk warga negara yang kembali tetap diterapkan kepada para pelajar internasional dan pelancong yang akan tinggal dalam jangka panjang. Kewajiban karantina selama 14 hari menjadi pertanda tak memungkinkan bagi terbukanya sektor pariwisata, pasalnya setiap turis yang tiba di Australia, sudah akan kehabisan waktu 14 hari di karantina, sebelum nantinya dibebaskan bila dinyatakan tak terkangkit Covid-19.

Simon menambahkan, kembalinya pelajar internasional akan menjadi pendorong bagi universitas yang menghadapi kerugian finansial karena pembatasan selama ini. Apalagi pelajar internasional adalah penghasil devisa terbesar keempat Australia yang menghasilkan sebesar Aus$38 miliar setahunnya.

Saat ini Australia punya lebih dari 7300 kasus Covid-19 dan 102 orang meninggal. Ini mencatat kenaikan harian terbesar dalam infeksi baru lebih dari sebulan dan sebagian besar kasus Covid-19 terjadi di Negara Bagian Victoria. Victoria sendiri merupakan negara bagian kedua terpadat dan mencatatkan 21 kasus baru dalam semalam dengan 15 diantaranya adalah pelancong yang kini dalam karantina.

Baca juga: Marak Virus Corona, Wanita di Australia ini Timbun Tisu Toilet untuk Stok 12 Tahun!

Terkait hal tersebut, KabarPenumpang.com telah mencoba mendapatkan tanggapan dari Wakil Duta Besar Australia di Indonesia Allaster Cox, namun belum ada jawaban sampai tulisan ini diturunkan.

Menolak Pakai Masker Selama Penerbangan, Siap-siap Pramugari Akan ‘Catat’ Nama Penumpang!

Saat calon penumpang masuk ke area bandara, sesuai standar dan protokol pencegahan  Covid-19, maka semua diwajbkan mengenakan masker, dan itu telah berlaku di seluruh dunia. Namun, saat penumpang sudah berada di dalam kabin pesawat, rupanya banyak yang justru melepas masker, mungkin karena jengah terus-terusan mengenakan masker dalam perjalanan, apalagi jika yang dilakoni adalah long flight.

Baca juga: JetBlue Jadi Maskapai Besar AS Pertama yang Wajibkan Penumpang Pakai Masker

Nah, guna menrapkan kepatuhan pada penumpang, selain himbauan, maka maskapai seperti American Airlines rupanya punya cara tersendiri untuk menangani penumpang yang menolak mengenakan masker saat di kabin.

American Airlines dengan cepat menerapkan kebijakan baru pada penumpang yang tidak mau menggunakan masker saat di dalam kabin. Bahkan penolakan tersebut bisa berujung kepada penumpang itu kemungkinan di masa depan tak lagi boleh terbang bersama maskapai American Airlines.

Pemberitahuan ini dibagikan pada hari Selasa (16/6/2020) kepada awak kabin yang mana American Airlines meminta mereka untuk meningkatkan situasi yang melibatkan penumpang bandel. Awak kabin dalam pemberitahuan tersebut hanya cukup melaporkan nama-nama para penumpang bandel yang tak mengenakan masker.

Dilansir KabarPenumpang.com dari forbes.com (16/6/2020), seorang awak kabin American Airlines yang baru-baru ini melakukan perjalanan selama seminggu mengatakan, banyak penumpang yang menggunakan masker, tetapi semakin banyak yang tidak menggunakan. Awak kabin yang tidak mau disebutkan namanya itu menambahkan, pernah mendapati seorang penumpang tidak menggunakan masker padahal sudah diminta.

Dalam kasus seperti ini, pemberitahuan tersebut mengatakan awak kabin harus memberikan nama penumpang kepada departemen keamanan maskapai. Nantinya pihak departemen akan menentukan apakah penumpang tersebut bisa terbang dengan mereka lagi atau tidak.

Sayangnya pihak maskapai belum secara terbuka menyebutkan prosedur untuk penumpang yang tidak menggunakan masker. Dalam siaran pers yang dikeluarkan American Airlines, pada (15/6/2020), mereka mengatakan akan memberlakukan kebijakan yang sudah diumumkan pada 4 Mei lalu di mana setiap penumpang wajib menggunakan masker.

Otoritas penerbangan mengatakan dalam pengumuman publik sebelum berangkat, awak kabin harus mengingatkan penumpang bahwa masker harus dikenakan. Namun, persyaratan penggunaan masker tidak berlaku jika ada pengecualian medis. Meski begitu awak kabin juga akan membagikan masker kepada penumpang yang tidak memilikinya.

Dalam pengumuman pra-penerbangan, penumpang akan diberitahu, maskapai sekarang meminta semua pelanggan untuk mengenakan penutup wajah selama penerbangan. Mengenakan penutup wajah membantu melindungi Anda dan orang-orang di sekitar Anda dan menunjukkan pertimbangan kepada orang lain yang bepergian.

“Meskipun diperbolehkan untuk melepas penutup wajah saat makan atau minum, Anda harus mengenakan penutup wajah Anda sepanjang waktu selama penerbangan kami. Jika Anda tidak mau mengikuti persyaratan ini, Anda mungkin tidak diizinkan terbang bersama kami di masa depan,” kata American Airlines.

Baca juga: Garuda Indonesia Bakal Hapus Kewajiban Pakai Masker, Penumpang ‘Cukup’ Kenakan Face Shield

United Airlines juga membuat kebijakan yang sama dengan mewajibkan seluruh penumpang menggunakan masker selama penerbangan.