“Penguin Tenaga,” Jadi Kapal Bertenaga Hibrida Pertama di Singapura

Penguin, operator kapal penumpang di Singapura, belum lama ini telah meluncurkan “Penguin Tenaga,” yakni kapal kecil berukuran 15 meter dengan penumpang 12 orang.  Kapal ini telah disertifikasi oleh Berau Veritas dengan notasi kelas zero emision atau nol emisi dan mampu berjalan dalam mode listrik murni.

Baca juga: MS Roald Amundsen – Kapal Hibrida Asal Norwegia, Siap Berlayar Pada Musim Panas 2019

Kapal bertenaga hibrida tersebut mampu melaju dengan kecepatan lima knot selama lebih dari 30 menit. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman sumber marinelink.com (8/4/2021), dalam mode diesel konvensional, kapal dapat mencapai kecepatan maksimum hingga 24 knot. Sebagai informasi, sebagai kapal hibrida, Penguin Tenaga mengusung dua sumber tenaga, yakni dari listrik yang dihasilkan dari sel surya dan mesin diesel konvensional.

Pasokan tenaga surya dihasilkan dari panel surya yang dipasang di atap kapal, tenaga surya menghasilkan energi listrik yang digunakan untuk mengisi ulang perangkat seluler dan baterai di kapal. Nantinya kapal hibrida ini akan digunakan untuk melayani jalur di Pulau Bukom dan mendukung operasi penyulingan fasilitas Shell.

Sea Forrest Power Solutions Pte Ltd, anak perusahaan BH Global Corporation Limited, memasok sistem dan kontrol hybrid kapal, sementara Danfoss Power Solutions Pte Ltd menyediakan motor listrik dan inverter EDITRON, Durapower Technology (Singapura) Pte Ltd menyediakan baterai lithium ion dan ZF Asia Pacific Pte. Ltd. menyediakan kotak roda gigi, poros dan baling-baling.

 

 

Bisakah Pilot Pesawat Boeing Terbangkan Pesawat Airbus?

Sejak Boeing mengakuisisi McDonnell Douglas pada tahun 1997, praktis, industri penerbangan global mengarah ke duopoli antara Boeing dan Airbus. Selama dua dekade lebih ini, keduanya selalu membuat pesawat-pesawat di pangsa pasar yang sama dengan ciri khas teknologi masing-masing.

Baca juga: Apa Sih Perbedaan Antara Boeing dan Airbus Dimata Seorang Pilot?

Meski spesifikasi dan cara menerbangkannya nyaris sama, namun, pilot dari salah satu produsen pesawat itu bisa menerbangkan pesawat kompetitor?

Dilansir dari Simple Flying, dari dua pangsa pasar pesawat, yaitu narrowbody dan widebody, Boeing dan Airbus senantiasa bersaing menjadi yang terbaik lewat pesawat-pesawat unggulannya. Berikut head to head pesawat Airbus dan Boeing di kedua pasar tersebut.

Airbus A320 vs Boeing 737.
Airbus A330 vs Boeing 777.
Airbus A350 vs Boeing 787.
Airbus A380 vs Boeing 747.

Dari keseluruhan pesawat di atas, pada umumnya kinerja mesin, aerodinamika, komponen pesawat, nyaris sama satu sama lain. Kendati demikian tentu tetap ada perbedaan mendasar pada kedua pesawat, mulai dari desain interior-eksterior hingga kokpit dan teknologinya.

Terkait perbedaan pesawat Boeing dan Airbus, seorang pilot bernama Steve Zago punya cerita tersendiri. Berdasarkan pengalamannya menerbangkan pesawat Boeing 737NG dan Airbus A330, di antara perbedaan paling mencolok dan krusial terletak pada penggunaan yoke dan joystick oleh Boeing dan Airbus.

“Jika Anda ingin membelokkan pesawat 25 derajat ke arah kiri, maka anda harus membelokkan sedikit kemudi ke arah kiri sembari menariknya ke arah belakang – dengan tujuan untuk tetap menjaga ketinggian pesawat. Namun di Airbus, Anda tidak lagi harus menarik tuas kemudi ke arah belakang, cukup membelokkan joystick ke arah kiri dan pesawat akan berbelok,” jelasnya.

Selain itu, penggunaan teknologi sistem kontrol penerbangan fly-by-wire oleh Airbus dan sistem kontrol penerbangan manual oleh Boeing juga turut menjadi pembeda ketika diterbangkan pilot.

“Di Boeing 737NG, tugas saya ketika sistem autopilot dimatikan adalah menjaga pengaturan yang ada di sayap agar pesawat tetap berada di ketinggian yang aman. Tidak ada komputer atau layar indikator fly-by-wire yang memberitahu sistem kontrol penerbangan untuk menjaga terus sayap sebelum approaching menuju bandara yang sebelumnya telah saya input,” lanjutnya.

Menjawab pertanyaan di awal, dari penjelasan di atas, sudah pasti, kendati cara menerbangkannya sama, namun, perbedaan teknologi antara pesawat Airbus dan Boeing membuat pilot yang biasa menerbangkan salah satu pesawat buatan kedua itu belum tentu bisa menerbangkan pesawat buatan lainnya.

Lagi pula, secara regulasi, lisensi pilot juga turut menentukan. Dari enam lisensi pilot, yaitu Student Pilot License (SPL), Private Pilot License (PPL), Commercial Pilot License (CPL), Instrument Rating (IR) dan Type Rating, Multi Engine Rating (MER), dan Airline Transport Pilot License (ATPL), umumnya pilot pesawat Airbus dan Boeing setidaknya mempunyai lisensi sampai level MER untuk twin engine dan ATPL untuk quad engine atau quad jet.

Namun, itu masih umum, nantinya pilot masih harus memiliki lisensi yang menunjuk pada tipe pesawat sehingga tidak bisa sembarangan untuk menerbangkan pesawat tipe lainnya. Tak seperti lisensi pada kendaraan di darat, seperti misalnya SIM A, yang berarti pengendara boleh mengendarai mobil merk Mercedes Benz, BMW, Lexus atau Toyota, Honda, Suzuki, dan lainnya, pada pesawat terbang berbeda.

Baca juga: 4 Poin Head to Head Boeing vs Airbus, Mana Lebih Unggul?

Bila pilot Airbus A350 ingin menerbangkan Boeing 737, ia harus mengambil lisensi pesawat itu dan biayanya sangat mahal. Itulah jawaban mengapa sebuah maskapai ada yang mempunyai satu tipe pesawat saja, seperti Ryanair dan Southwest Airlines hanya menerbangkan keluarga Boeing 737 serta short range British Airways dan Lufthansa yang seluruhnya terdiri dari pesawat keluarga Airbus A320.

Singkatnya, pilot pesawat Boeing tidak bisa menerbangkan pesawat Airbus tanpa melewati sertifikasi pesawat yang ingin diterbangkan. Begitu juga sebaliknya.

Kasihan, Gegara Karantina Kejam di Hong Kong, Jumlah Penumpang Cathay Pacific Turun 94 Persen

Aturan karantina super ketat oleh otoritas Hong Kong membuat operasional Cathay Pacific ambrol. Terbaru, jumlah penumpang maskapai, yang mengandalkan rute internasional dan tidak mempunyai pangsa pasar domestik ini, dikabarkan anjlok sampai 94 Persen sepanjang Maret 2021 dibanding Maret 2020.

Baca juga: Parah, Pilot dan Pramugari Cathay Pacific Kerja 5 Pekan Tanpa Libur!

Tidak hanya itu, dibanding Februari 2021, jumlah kapasitas kursi sepanjang Maret 2021 lalu juga jauh menurun hampir 50 persen. Rata-rata pesawat hanya mengangkut 598 penumpang per hari di bulan Maret, menurun dari rata-rata di bulan Februari mencapai 755 penumpang per hari.

Penurunan hampir terjadi di seluruh jaringan Cathay Pacific yang dulunya sangat perkasa. Kapasitas ke Amerika Utara turun 83,9 persen pada Maret 2021 dibandingkan dengan Maret sebelumnya. Kapasitas ke Eropa turun 95,8 persen. Kapasitas ke Pasifik Barat Daya turun 96,8 persen. Semua penerbangan ke Asia Selatan, Afrika, dan Timur Tengah tetap ditangguhkan atau turun 100 persen.

Kapasitas ke Asia Tenggara Maret ini turun 89,5 persen dibandingkan Maret 2020. Kapasitas ke Asia Utara turun 77,9 persen. Kapasitas ke daratan Cina yang jadi andalan selama bertahun-tahun juga turun 39,9 persen.

Hal ini tentu sangat aneh dimana pandemi Covid-19 tidak separah tahun lalu dan vaksin sudah tersedia, namun, kapasitas kursi penumpang justru lebih parah dibanding ketika virus tersebut mulai merebak ke seluruh dunia.

“Bisnis penumpang kami terus menghadapi tantangan yang signifikan,” kata Cathay Pacific Group Chief Customer and Commercial Officer, Ronald Lam, dalam sebuah pernyataan. “Dengan persyaratan karantina kru yang diperketat di Hong Kong, kami hanya berhasil mempertahankan jadwal reguler pada Maret, mengoperasikan layanan penumpang hanya ke 18 tujuan,” lanjutnya, seperti dikutip dari Simple Flying.

Bila tak ada perubahan signifikan yang win-win solution dari otoritas, termasuk juga animo masyarakat dalam bepergian menggunakan pesawat, bukan tak mungkin Cathay Pacific akan mengalami periode yang jauh lebih menyakitkan dibanding tahun lalu, sekalipun tahun ini masih panjang dan segala kemungkinan masih dimungkinkan.

Tahun lalu, maskapai nasional Hong Kong ini tercatat mengalami kerugian sebesar US$2,8 miliar sepanjang 2020. Buntut dari itu, finasial Group Cathay pun loyo dan menyebabkan terjadinya gelombang PHK besar-besaran, pemotongan gaji, serta bangkrutnya anak perusahaan mereka, Cathay Dragon, yang baru diakuisisi pada 2016 dari semula Dragonair.

Sepinya penerbangan dan rendahnya okupansi atau load factor per penerbangan juga diperparah dengan kebijakan karantinan kru yang sangat ketat. Perusahaan mengatakan, kebijakan karantina kru yang sangat ketat memaksa mereka merogoh kocek setidaknya US$52 juta per bulan.

Baca juga: Bandara Hong Kong dan Heathrow, Dua Bandara Besar yang Terpuruk Pandemi

Belakangan, pilot dan pramugari Cathay Pacific dipaksa harus bekerja keras. Itu karena mereka dihadapi dengan jadwal baru yaitu kerja selama lima pekan tanpa libur. Tidak hanya itu, sepulang bekerja, mereka tidak diperbolehkan kembali ke rumah masing-masing melainkan harus bermalam di Hotel Headland milik Cathay Pacific dan kembali bekerja esok hari.

Mulai 20 Februari 2021 lalu, otoritas Hong Kong telah menerapkan kebijakan karantina mandiri selama 14 hari untuk awak pesawat, baik itu pramugari maupun pilot. Saat memasuki hari ke-15, mereka tetap akan mendapat pengawasan penuh petugas selama tujuh hari.

Biaya Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung Membengkak, Sri Mulyani Buka Suara

Dalam pengerjaan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung ternyata ada pembengkakan biaya. Hal ini membuat Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati meminta konsorsium Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang terlibat untuk menghitung rinciannya sebelum pemerintah dan anggota konsorsium bernegosiasi dengan Cina yang menjadi mitra proyek tersebut.

Baca juga: PT KCIC: Akhir 2019 Progres Kereta Cepat Jakarta-Bandung Ditargetkan Tembus 53 Persen

Penghitungan rincian pembengkakan biaya ini diinstruksikan oleh Menkeu dalam rapat koordinasi terbatas awal April 2021 kemarin. Di mana pada rapat tersebut, Menkeu meminta kekurangan dana dihitung lebih detail tidak hanya belanja modal tapi juga pada masa operasi atau istilahnya cash shortfall.

Dikutip KabarPenumpang.com dari tempo.co (19/4/2021), Rapat Koordinasi Terbatas itu dihadiri Menkeu Sri Mulyani, Menteri BUMN Erick Tohir, Menhub Budi Karya Sumadi dan Menko Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan. Untuk diketahui, saat ini proses penghitungan biaya proyek kereta cepat masih berlangsung. Penghitungan ini rumit karena harus memperhitungkan arus kas pada saat kereta sudah beroperasi.

Awalnya proyek kereta cepat Jakarta-Bandung membutuhkan biaya $6071 miliar atau sekitar Rp88,4 triliun. Kemudian ternyata biaya itu membengkak sekitar 23 persen dari nilai semula atau setara dengan Rp20 triliun.

Pembengkakan ini terjadi karena munculnya berbagai kebutuhan yang tidak diprediksi pada awal proyek. Dari perjanjian awal ternyata kelebihan biaya ini ditanggung konsorsium. Melalui PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia, konsorsium BUMN mengantongi 60 persen saham PT Kereta Cepat Indonesia-China. Adapun 40 persen sisanya dimiliki China Railway International Co Ltd.

Belum lama ini, PT Wijaya Karya Tbk meminta pemerintah memangkas porsi kepemilikan saham Indonesia di konsorsium KCIC. Direktur Utama WIKA Agung Budi Waskito menilai langkah itu dapat ditempuh untuk mengurangi beban membengkaknya biaya kereta cepat.
“Kami sedang melakukan negosiasi dengan pihak Cina agar porsi Indonesia ini bisa lebih kecil dari 60 persen.  Dengan begitu, cost overrun yang terjadi sama sekali tidak akan berpengaruh terhadap apa yang sudah kita setorkan,” tutur Agung.

Baca juga: Stasiun Padalarang Baru Menjadi Hub Kereta Cepat Jakarta-Bandung Dibangun Dua Tahap

Saat dimintai konfirmasi, Corporate Secretary PT Kereta Cepat Indonesia-China Mirza Soraya membenarkan bahwa detail mengenai penambahan biaya tak terduga masih dalam proses pembahasan dan negosiasi di tingkat para pemegang saham. Menurut dia, konsultasi antara pemerintah Indonesia dan Cina terus dilakukan.

1 Mei 2021, Singapura Resmi Gunakan IATA Travel Pass untuk Data Covid-19 Pelancong 

Sebentar lagi pelancong akan bisa masuk ke Singapura seperti sebelum pandemi. Pasalnya Negeri Singa ini akan mulai menggunakan IATA Travel Pass yang mana akan digunakan untuk mempermudah dalam melacak status Covid-19 pelancong.

Baca juga: Tak Perlu Bawa Surat Hasil Test Covid-19 atau Vaksin, Emirates Gandeng IATA Hadirkan Travel Pass

Di mana Singapura akan menerima hasil PCR Covid-19 sebelum keberangkatan melalui IATA Travel Pass. Kebijakan penggunaan Travel Pass tersebut akan mulai berlaku 1 Mei 2021. Nantinya para pelancong yang bepergian ke Singapura bisa menunjukkan Travel Pass mereka pada saat check in sebelum penerbangan.

Tak hanya itu, IATA Travel Pass juga digunakan ketika pelancong tiba di pos pemeriksaan imigrasi Bandara Internasional Changi. Adanya Travel Pass dari IATA karena Singapura bekerja sama dengan asosiasi ini. Bahkan ini termasuk dalam kolaborasi Otoritas Penerbangan Sipil Singapura (CAAS) dan IATA untuk memfasilitasi perjalanan yang lebih lancar dan efisien melalui sertifikat digital uji Covid-19.

“Mendapatkan kepercayaan dari pemimpin penerbangan seperti Singapura, menerima IATA Travel Pass adalah hal yang sangat penting,” kata Willie Walsh, Direktur Jenderal IATA yang dikutip KabarPenumpang.com dari detik.com (16/4/2021).

Dia mengatakan, uji coba yang tengah berlangsung membuat mereka berada di jalur yang tepat untuk IATA Travel Pass menjadi alat penting untuk memulai kembali industri dengan memberikan kredensial kesehatan perjalanan yang diverifikasi kepada pemerintah. Willie menambahkan, pelancong bisa mendapat keyakinan penuh bahwa data pribadi aman dan berada di bawah kendali mereka.

“Keberhasilan upaya bersama kita akan menjadikan kemitraan IATA dengan pemerintah Singapura sebagai model untuk diikuti oleh pihak lain,” tuturnya.

Sertifikat kesehatan digital itu diprediksi akan menjadi fitur utama dalam perjalanan udara ke depan. Travel Pass diprediksi menjadi solusi terpercaya dan aman untuk memverifikasi kredensial kesehatan para pelancong akan sangat penting dalam memfasilitasi perjalanan udara yang lancar dan menjaga kesehatan masyarakat.

Setelah uji coba yang berhasil dilakukan Singapore Airlines, otoritas kesehatan dan pengawasan perbatasan Singapura akan menerima IATA Travel Pass sebagai bentuk presentasi yang valid dari hasil tes pra-keberangkatan Covid-19 untuk masuk ke Singapura. Informasi yang disajikan pada IATA Travel Pass akan memiliki format yang memenuhi persyaratan tes pra-keberangkatan Covid-19 Singapura yang berlaku untuk masuk ke Singapura.

“Kami telah membangun kemitraan lama dan mendalam dengan IATA untuk mengembangkan solusi guna memfasilitasi perjalanan. Kolaborasi terbaru dengan IATA ini menunjukkan komitmen bersama kami untuk mendorong adopsi sertifikat kesehatan digital dan memulihkan perjalanan udara internasional,” kata Kevin Shum, direktur jenderal CAAS.

“Saat kami berupaya membangun kembali dengan aman Hub udara Changi, kami akan terus mencari solusi lain yang dapat memberikan cara yang sama amannya dan dapat diverifikasi dalam berbagi sertifikat kesehatan untuk perjalanan internasional yang aman,” Shum menambahkan.

Baca juga: IATA Kembangkan Aplikasi Seluler untuk Bantu Perjalanan di Masa Pandemi

Saat ini, lebih dari 20 maskapai penerbangan telah mengumumkan uji coba IATA Travel Pass. Bagi wisatawan yang ingin ke Singapura menggunakan IATA Travel Pass harus menanyakan kepada maskapai penerbangan yang mereka bawa untuk kelayakan menggunakan IATA Travel Pass.

Sstt… Tak Banyak yang Tahu, Ternyata Garuda Indonesia Retro Livery Setengah Hati!

Boeing 777-300ER Garuda Indonesia Retro livery Brand Logo 1969-1985 bangkit kembali dari peraduannya selama dua tahun lebih. Bila sebelumnya di-PHP-in istana terkait rencana kunjungan Presiden Jokowi ke Las Vegas, Amerika Serikat (AS) Maret 2020 silam dalam gelaran ASEAN-US Summit, beberapa waktu lalu, pesawat tersebut akhirnya benar-benar bisa kembali ke langit.

Baca juga: Dibalik Kedatangan 6 Juta Bulk Vaksin Sinovac, PK-GIK ‘Bangkit’ Pasca Gagal Terbangkan Jokowi

Hanya saja, euforia kembalinya pesawat lansiran tahun Januari 2016 membuat avgeek pada umumnya terlena dan tak menyadari adanya perbedaan retro livery brand logo 1969-1985 yang digunakan Boeing 777-300ER Garuda Indonesia PK-GIK dengan pesawat Garuda Indonesia di tahun dimana livery tersebut digunakan di seluruh armada. Dimana letak perbedaannya? Mari kita lihat.

Dari data airplane-pictures.net, sebelum dijadwalkan mengantar presiden, Boeing 777-300ER atau Triple Seven Garuda Indonesia Retro livery Brand Logo 1969-1985 diketahui sudah kurang lebih setahun menganggur.

Pesawat itu diketahui terakhir kali terbang dan tertangkap kamera pada 21 Agustus 2019 di Bandara Schiphol, Belanda.

Meskipun tak ada keterangan resmi dalam rangka apa pesawat tersebut berada di sana, namun, itu sebetulnya tidak begitu aneh mengingat Garuda Indonesia memang mempunyai penerbangan ke sana. Selain itu, bandara tersebut juga menjadi hub Eropa Garuda, melengkapi Jepang melalui Bandara Tokyo Haneda yang menjadi hub Asia maskapai.

Sebelum dicat livery retro, pesawat tersebut diketahui sempat menggunakan livery brand logo Garuda Indonesia saat ini. Pesawat tertangkap kamera terakhir kali menggunakan livery itu pada 16 Juli 2018 silam juga di Bandara Schiphol, Belanda.

Setahun berikutnya atau pada 5 April 2019, PK-GIK kembali tertangkap kamera di bandara yang sama menggunakan Retro livery Brand Logo 1969-1985 untuk pertama kalinya.

Sejak awal menggunakan Retro livery Brand Logo 1969-1985, PK-GIK bisa dibilang tidak sepenuhnya me-retro livery tersebut.

Sebab, livery asli brand logo 1969-1985 dilengkapi warna silver setelah warna merah, oranye, dan putih di badan pesawat. Bahkan, warna silver pada pesawat meliputi bagian labung, sayap, mesin, dan horizontal stabilizer pesawat. Contohnya pada pesawat DC-10-30 ini.

DC-10-30 Garuda Indonesia yang masih dilengkapi warna silver pada bagian setengah badan pesawat ke bawah. Foto: Istimewa

Meski belum ada keterangan resmi dari pihak Garuda Indonesia terkait hal ini, namun, rasanya hal itu erat kaitannya dengan problem teknis atau berbau ilmiah.

Dilansir rd.com, seorang professor Aeronautics and Astronauctics di MIT (Massachusetts Institute of Technology), John Hansman mengatakan bahwa penggunaan warna terang di badan pesawat diperuntukkan supaya bisa memantulkan sinar matahari.

“Selain itu, penggunaan warna terang juga bisa meminimalisir pemanasan dan kerusakan pada mesin akibat radiasi matahari,” imbuh John. Bahkan, beberapa jalan di Amerika juga mengecat putih jalannya dengan alasan yang sama.

Penggunaan warna putih di pesawat sedikit banyaknya akan meminimalisir biaya pendinginan di dalam kabin, dan juga melindungi beberapa bagian pesawat yang rentan mengalami kerusakan akibat panas. Tidak hanya selama mengudara, warna putih ini juga akan memantulkan sinar matahari selama mereka parkir di landasan.

Baca juga: Mengapa Maskapai Gunakan Livery Khusus? Inilah Jawabannya

Tidak hanya itu, dihimpun dari sumber lain, penggunaan warna putih juga akan memudahkan petugas untuk melakukan pengecekan sebelum dan sesudah pesawat mengudara.

Biasanya para petugas akan memeriksa apakah bagian badan pesawat ada yang retak, penyok, atau kerusakan lain yang memungkinkan pesawat mengalami kendala saat mengudara. Dapat dibayangkan jika pesawat menggunakan warna gelap seperti hitam atau biru tua termasuk juga silver yang tergolong warna gelap, tentu akan sulit menemukan kerusakan tersebut.

Jodoh Tak Kemana, Inilah Kisah Pasangan yang Berkenalan di Bandara

Bertemu di bandara dan menjadi pasangan hingga saat ini, mungkinkah terjadi? Nyatanya ada yang seperti ini dan masih terus bersama hingga sekarang. Pasangan ini adalah Irja dan Jesus, di mana keduanya pertama kali bertemu di Bandara Meksiko.

Baca juga: Ada Aplikasi ‘Cari Jodoh’ di Bandara, Patut Dicoba Buat Para Jomblo!

Pertemuan itu terjadi ketika Irja Uotila yang tinggal di New York memutuskan mengejar impiannya mengunjungi Amerika Latin. Namun sayangnya dia tidak bisa berbahasa Spanyol dan dirinya berdiskusi dengan teman-temannya, termasuk Marcus, mantan rekan kerja Irja yang dibesarkan di Meksiko.

KabarPenumpang.com dari cnn.com, Irja ingin mengunjungi Oaxaca dan harus transit di Meksiko dan bermalam. Marcus kemudian menghubungi teman sekolahnya Jesus Estrella Jurado dan bertanya apakah bisa menemui Irja di bandara.

Ternyata hal itu disambut baik oleh Jesus dan meski dia tidak mengenal tentang Irja demi membatu Marcus. Jesus kemudian membuat papan nama buatan sendiri dan mengeja nama Irja dan membeli karangan bunga saat wanita itu tiba di bandara.

Ketika Irja melangkah melewati kerumunan saat kedatangan di Bandara Mexico City, Jesús langsung dipukul olehnya. “Hanya senyumnya, matanya,” kenangnya sekarang.

Irja, sementara itu, kelelahan karena dia langsung berangkat kerja ke bandara, tetapi begitu dia diperkenalkan dengan Jesús, dia merasa nyaman dengan kehadirannya. “Dia tampak baik,” kenangnya sambil berpikir. Ada semacam kesopanan dalam dirinya, katanya, yang langsung dia hangatkan.

Meski hanya bertemu satu malam, ternyata keduanya tetap terhubung sejak kepulangan Irja ke New York. Di tahun yang sama yakni 1991, tepatnya tiga bulan setelah Irja ke Meksiko, Jesus ke New York untuk bekerja dan pulang setelah urusannya selesai.

Hingga akhirnya pada Desember 1995, Irja dan Jesús menikah dalam upacara sipil, diikuti dengan upacara keagamaan kecil pada tahun berikutnya. Mereka membeli cincin bersama dalam perjalanan pulang ke Taxco awal tahun itu. Pada saat itu, mereka belum menetapkan tanggal pernikahan, tetapi sepertinya itu adalah kesempatan yang sempurna.

Pada 2021, Irja dan Jesús akan merayakan 30 tahun sejak mereka bertemu di Bandara Mexico City, dan 25 tahun sejak mereka merayakan pernikahan mereka di New York. Dalam beberapa dekade terakhir, mereka telah mengunjungi Taxco berkali-kali, termasuk dengan putrinya Erica. Mereka juga menikmati kembali ke Museum Frida Kahlo dengan Erica di belakangnya. Keluarganya juga menghabiskan waktu di Finlandia dan bepergian bersama di Eropa.

“Bepergian memberi Anda perspektif yang berbeda, perspektif tentang budaya Anda sendiri, tetapi juga, menurut saya hal itu akan membuka pikiran Anda,” kata Irja.

Tiga puluh tahun sejak mereka pertama kali bertemu, baik Irja dan Jesús masih menikmati belajar hal-hal baru tentang satu sama lain baik dan tidak begitu baik, kata mereka sambil tertawa. Dan meski pasangan itu sering kali mengingat kembali kebetulan ajaib dari pertemuan pertama mereka, mereka juga menantikan masa depan.

Baca juga: Eva Air Tawarkan Kencan Antar Penumpang ‘Jomblo’ Secara Acak di Udara, Tiket Ludes dalam Sekejap

“Meskipun kami memiliki perbedaan, sangat menyenangkan bisa bersama, dan tetap menikmati perasaan yang membuat kami memutuskan untuk bersama, semoga untuk tahun-tahun mendatang. Hidup terus menjadi begitu murah hati, begitu indah. Jadi itulah perasaan saya bersyukur untuk itu,” kata Jesús.

Ini yang Dilakukan Pilot dan Pramugari Saat Terjadi Kebakaran di Kabin Pesawat

Kebakaran di dalam kabin tentu bukan keinginan siapapun. Namun, ketika itu terjadi, kru penerbangan, dalam hal ini pilot dan pramugari, harus bisa menanganinya dengan porsi masing-masing.

Baca juga: Intip Dibelakang Layar Pelatihan Awak Kabin Emirates

Standar Operasional Prosedur (SOP) terkait ini sendiri tidak dikeluarkan oleh masing-masing maskapai, melainkan langsung oleh Administrasi Penerbangan Federal AS (FAA), Badan Keselamatan Penerbangan Eropa (EASA), dan Otoritas Penerbangan Sipil Inggris (CAA).

Menurut dokumen Advisory Circular yang diterbitkan FAA, kebarakan di kabin pesawat harus sesegera mungkin ditangani atau paling tidak sebelum 8-10 menit. Bila tidak, api akan cepat menjalar ke bagian lain kabin hingga semakin sulit ditangani. Pada akhirnya, itu bisa berujung fatal.

“Kebakaran dalam penerbangan yang dibiarkan tanpa pengawasan, terutama yang tidak dapat diakses dengan mudah, dapat menyebabkan kegagalan yang sangat besar dan mengakibatkan hilangnya pesawat sama sekali,” bunyi keterangan di FAA Advisory Circular 120-80A berjudul “In-flight fires.”

“Uji kebakaran yang dilakukan oleh berbagai otoritas pengatur telah menunjukkan bahwa api yang dibiarkan menyebar ke area atas pesawat dapat menjadi tidak terkendali dalam waktu 8–10 menit,” bunyi keterangan lainnya.

Berdasarkan dokumen tersebut, sebagaimana dikutip Simple Flying, ketika kebakaran di dalam kabin terjadi, pilot setidaknya harus melakukan empat hal.

1. Melindungi diri sendiri dengan mengenakan alat pelindung, termasuk kacamata asap dan masker oksigen.

2. Segera daratkan pesawat di bandara terdekat atau mendarat darurat di lokasi aman lainnya selain bandara. Ini termasuk berkomunikasi dengan ATC bandara terkait insiden kebakaran di dalam kabin.

Perlu dicatat, pada proses ini, FAA menekankan, mendarat sesegera mungkin dapat menentukan hasil akhir berupa keselamatan kru dan penumpang serta pesawat itu sendiri atau sebaliknya, kebakaran hebat melanda dan menewaskan penumpang, kru, serta menghanguskan pesawat.

3. Memberi tahu pramugari agar mempersiapkan pendaratan darurat.

4. Bantu memadamkan api dengan peralatan dan perlengkapan yang tersedia, jika memungkinkan.

Tak seperti pilot yang harus berkomunikasi dengan pihak eksternal, dalam hal ini ATC, pramugari praktis hanya berfokus pada kebakaran itu sendiri dan keselamatan penerbangan, termasuk penumpang dan sesama kru. Setidaknya, ada tiga hal yang wajib dilakukan pramugari ketika terjadi kebakaran di pesawat.

1. Alih profesi menjadi pemadam kebakaran. Pramugari yang sudah siap untuk memadamkan api, dibantu dengan Protective Breathing Equipment (PBE), sejenis seragam tahan panas.

Cara pramugari memadamkan api juga bergantung pada penyebab dari mana api berasal. Sebagai contoh, bila itu disebabkan baterai lithium, maka cara memadamkannya ialah menggunakan air. Selain itu, bisa menggunakan fire extinguisher.

Baca juga: Kargo di Kabin Penumpang Bikin Pramugari Beralih Fungsi Jadi ‘Petugas’ Pemadam Kebakaran

2. Berkomunikasi dengan pilot di kokpit terkait lokasi, sumber api, dan seberapa parah kebakaran. Ini termasuk meminta penumpang untuk tetap tenang dan menggunakan masker oksigen bila memungkinkan.

3. Merelokasi penumpang, mencari persediaan fire extinguisher, memberi handuk untuk penumpang agar tetap bisa bernapas, dan menjauhkan barang-barang mudah terbakar dari sumber kebakaran. Perlu dicatat, prosedur penanganan kebakaran mungkin bisa berbeda, tergantung lokasinya. Seperti di dapur, lantai, toilet, oven, dan lainnya.

Awak Aviasi Indonesia Menulis dan Punya Komunitas CCM “Cabin Crew Menulis”

Setiap orang bisa menulis meski bukan lulusan ilmu komunikasi ataupun jurnalistik. Bahkan para pilot, awak kabin dan lainnya yang bekerja di dunia aviasi juga bisa menulis dengan baik. Ini terlihat dari adanya sebuah komunitas yang menampung hobi para pekerja penerbangan di dunia menulis.

Baca juga: Bagi-bagi Hadiah Model A350-900, Blogger ini Buka Kontes Menulis Tentang Singapore Airlines

Komunitas itu bernama Cabin Crew Menulis atau CCM yang mewadahi pekerja aviasi menulis berbagai cerita dan pengalaman seputar dunia aviasi untuk para awak kabin baik yang masih aktif, mantan awak kabin ataupun yang ingin menjadi bagian dari awak kabin. Bisa dikatakan CCM merupakan komunitas aviasi menulis pertama yang ada di Indonesia.

Kehadiran CCM ini awalnya dari Instagram @cabincrewmenulis hingga kini tertuang di situs resmi cabincrewmenulis.com. Para pegiat membagikan pengalaman mereka untuk pembaca dari cerita tentang emergency landing, life after flying stories, kisah percintaan awak kabin hingga tips dan trik.

Dikutip KabarPenumpang.com dari beritasatu.com, komunitas ini juga memberikan informasi rekrutmen awak kabin dari berbagai maskapai penerbangan. Memenuhi rasa penasaran masyarakat, komunitas CCM juga berbagi cerita menyeramkan yang dialami oleh para awak kabin.

Ternyata komunitas ini rutin berbagi pengalaman secara langsung bersama para awak kabin lain melalui Instagram setiap Selasa yang nantinya siaran langsung itu disimpan melalui IGTV. CCM berdiri sejak 31 Januari 2020 yang diprakarsai oleh Ratri Handayani yang juga seorang awak kabin dari maskapai internasional.

“Ide membuat komunitas ini berawal dari obrolan bersama rekan-rekan cabin crew setelah bertugas. Banyak sekali cerita menarik yang harus dibagi, bisa menjadi hiburan bahkan informasi bagi masyarakat,” ujar pemilik Instagram @ratrihdy ini.

Lahirnya komunitas CCM ini juga dilatarbelakangi oleh kegelisahan Ratri mengenai pandangan atau stigma negatif masyarakat pada awak kabin. Padahal, para awak kabin juga memiliki prestasinya masing-masing secara akademisi, olahraga, fotografi, model dan lainnya.

Baca juga: Troli Virtual, Awak Kabin Tak Lagi Langsung Bersentuhan dengan Penumpang

“Banyak yang tidak diketahui masyarakat mengenai dunia aviasi, dari cerita selama terbang sampai sisi lain dan prestasi para kru kabin. Saya yakin banyak yang penasaran juga, makannya komunitas ini akan membantu masyarakat mendapat informasi yang mereka butuhkan,” jelasnya.

Tangkal “Cabin Fever” Selama Pandemi, Ini Solusinya

Berdiam diri cukup lama di dalam rumah selama pandemi ternyata bisa menimbulkan berbagai macam hal, baik yang positif maupun negatif. Biasanya hal negatif ini disebut sebagai cabin fever atau demam kabin.

Baca juga: Hadapi Karantina Wilayah, Ini 8 Hal yang Bisa Anda Lakukan Bersama Anak di Rumah

Cabin fever ini bisa terlihat dari rasa kurang nyaman, kurangnya motivasi, mudah tersinggung, pola tidur tidak teratur atau berbagai hal lainnya. Nah, seseorang yang terkena cabin fever disebabkan mereka minim melakukan aktivitas

Dirangkum KabarPenumpang.com dari bradfordfamilydentist.ca, bahkan awal seseorang bisa terkena cabin fever ketika menganggap work from home atau bekerja dari rumah selama masa pendemi seperti liburan sehingga di bawa santai. Padahal jika dilakukan dengan jangka waktu yang lama seseorang akan bosan dan terkena cabin fever ini.

Untuk mengatasinya, bisa dilakukan dengan mencari hiburan dan aktivitas kebugaran. Perlu dicatat, tinggal di rumah bukan berarti tidak bisa keluar untuk berolahraga dan mencari udara segar. Anda bisa bersepeda atau berkeliling taman, sebab udara segar membantu merasa lebih baik setelah tinggal lama di rumah.

Jangan lupa jadwalkan rutinitas harian, sehingga meski bekerja di rumah bukan untuk bermalas-malasan. Anda bangun dan mandi pagi agar pikiran tetap terjaga. Anda juga bisa membersihkan rumah secara berkala. Biasanya ini adalah hal yang paling sulit dilakukan meski dihari libur karena sudah lelah bekerja. Sehingga saat WFH memberikan Anda banyak waktu membereskan rumah.

Dengan tetap aktif secara fisik maupun mental, Anda tidak akan terkena cabin fever karena masih tetap melakukan aktivitas yang menjaga kesehatan pikiran dan badan. Anda juga bisa tetap terhubung dengan orang terdekat, saling bertukar kabar dan cerita meski melalui media sosial.

Cara ini bisa membantu Anda dan orang lain meringankan beban di masa pandemi yang mana tidak bisa berhubungan secara langsung. Untuk menjauhkan Anda dari cabin fever, selain berbagai macam hal yang disebutkan, memberikan kesenangan pada diri pribadi pun bisa dilakukan.

Baca juga: Usai Pandemi, Rencanakan Berlibur di Flotel Yuk

Melakukan spa sendiri di rumah, mengadakan makan malam ala restoran bersama keluarga serta berdoa bersama juga bisa menjauhkan Anda dari cabin fever. Dengan berbagai solusi ini, rasanya cabin fever akan jauh dari dan Anda bisa tetap menikmati hari-hari yang menyenangkan.