Ecuatoriana Airlines, Maskapai Baru yang Lahir Saat Maskapai Lain Terancam Bangkrut

Di tengah masa-masa sulit akibat pandemi virus Corona, industri penerbangan dunia justru kedatangan maskapai baru, Ecuatoriana Airlines. Maskapai yang berbasis Quito, Ekuador, itu sebetulnya sudah berdiri sejak Mei 1957, namun pada 2006 maskapai itu stop operasi akibat kesulitan keuangan.

Baca juga: Zipair Tokyo Akhirnya Resmi Mengudara Saat Maskapai Lain Bangkrut, Tapi Hanya Penerbangan Kargo

Kendati sudah mendapat suntikan modal dari investor baru, namun, memulai kembali operasi dengan re-branding dan strategi baru di era dimana maskapai sedunia justru terancam bangkrut, tentu bukanlah pilihan terbaik.

Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) sendiri akhir Desember lalu memprediksi maskapai penerbangan global bakal merugi hingga US$157 miliar atau sekitar Rp2.219 triliun lebih (kurs Rp14.135) sepanjang 2020 dan 2021. Parahnya lagi, perkiraan itu ialah hitungan kasar dan bisa jadi jauh lebih buruk.

Sampai akhir Desember 2020 lalu, laporan allplane.tv, sudah ada 30 maskapai bangkrut. Laporan CNBC International bahkan lebih besar, dimana 40 maskapai di seluruh dunia dinyatakan bangkrut. Angka itu pasti akan bertambah seiring ketidakjelasan masa depan penerbangan global.

Kendati demikian, di dalam bisnis, termasuk bisnis penerbangan, akan selalu datang dan pergi. Lagi pula, kedatangan Ecuatoriana Airlines di sisi lain memang terbilang tepat. Saat ini, maskapai penerbangan yang beroperasi di Ekuador hanya menyisakan Avianca dan LATAM, setelah pada tahun 2020 lalu pemerintah menyetop operasional maskapai regional di negara itu, TAME Ecuador.

Avianca dan LATAM sendiri bukan berarti mendominasi secara mutlak. Keduanya diketahui tengah menjalani prosedur kebangkrutan Bab 11 dan mau tak mau harus mengurangi operasi mereka.

Avianca sejauh ini memiliki lima rute domestik di Ekuador, mengoperasikan 20 penerbangan mingguan dan menawarkan 2.655 kursi. Sedangkan menerbangi enam rute domestik Ekuador dengan 16 penerbangan harian dan tiga rute internasional.

Secara segmen, Avianca merupakan maskapai full service dan LATAM Airlines merupakan maskapai LCC. Antara maskapai LCC dan full service tentu ada pasar medium service. Di situlah Ecuatoriana Airlines berada.

“(Ecuatoriana) akan berada di tengah antara maskapai berbiaya rendah (LCC) dan maskapai full service. Tarif kami akan rendah. Kisaran harga pada rute tertentu hanya sekitar antara 50 dan 65 dolar,” kata Eduardo Delgado, CEO Ecuatoriana Airlines.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan, Ecuatoriana Airlines akan beroperasi dengan enam pesawat Bombardier Q Series atau Dash 8, yaitu seri Q400 dengan kapasitas 76 penumpang dan Q200 kapasitas 37 penumpang.

Baca juga: Cathay Dragon Bangkrut, Ribuan Pilot dan Pramugari Gigit Jari!

Saat ini, maskapai baru itu masih dalam proses memperoleh Air Operator Certificate (AOC) dan paling lambat baru akan menerimanya pada Juni 2021 mendatang. Seluruh persiapan lain seperti awak pesawat, staf darat, karyawan kantor, logo, perizinan dari pemerintah kota, dan lain sebagainya telah dan akan dipersiapkan mulai April mendatang.

Begitu juga dengan rute, sekalipun sudah ada desas-desus bahwa Ecuatoriana Airlines akan beroperasi di 29 rute dari tujuh kota, namun, kepastiannya baru akan diumumkan nanti tak lama setelah AOC diterima maskapai.

Jepang Uji Coba Bus dengan Teknologi 5G Antara Stasiun

Bus dengan teknologi 5G tanpa pengemudi mulai diuji coba di Jepang pada 15 Februari kemarin. Uji coba tersebut dilakukan oleh Pemerintah Kota Maebashi, Universitas Gunma dan organisasi lainnya. Bus ini akan melintasi rute sejauh satu kilometer antara Stasiun JR Maebashi dan Stasiun Cuo Maebashi Jomo Electric Railway.

Baca juga: Adopsi Vehicle-to-x, Bus Otonom Telkomsel 5G Ramaikan Asian Games 2018

Dilansir KabarPenumpang.com dari mainichi.jp (17/2/2021), bodi bus akan dilengkapi kamera, sensor laser untuk mendeteksi rintangan dan Global Positioning System (GPS) untuk mengontrol akselerator. Selain itu rem serta pengoperasian lainnya sesuai dengan lampu lalu lintas serta kondisi sekitar.

Sama seperti pendahulunya yang menggunakan teknologi 4G atau LTE, bus 5G ini juga hanya akan melaju dengan kecepatan maksimal 19 km per jam. Dengan jaringan 5G, digadang-gadang akan meningkatkan keamanan dengan adanya peningkatan pada resolusi gambar dari kamera yang dipasang di sekitar kendaraan dan jalanan yang dilintasinya.

Selain itu pada saat yang sama, verifikasi teknologi dari fungsi pengenalan wajah akan dilakukan untuk memungkinkan pembayaran tanpa uang tunai. Sehingga kedua teknologi ini akan ditagertkan penggunaannya ditahun fiskal 2022.

Untuk diketahui, dalam percobaan terbaru, dua kamera dan sensor laser baru ditambahkan ke sisi jalan sehingga memungkinkan bus untuk secara akurat memahami kondisi jalan di sekitar Stasiun Chuo Maebashi, yang merupakan titik buta bagi bus. Namun, karena mengemudi tanpa awak sama sekali tidak diizinkan secara hukum, kursi pengemudi akan ditempati oleh pengemudi dari Nippon Chuo Bus Co. yang berbasis di Maebashi, yang mengoperasikan bus.

Sehingga bila diperlukan maka pengemudi akan beralih ke mengemudi manual. Selain itu, ruang kendali jarak jauh yang didirikan di Pusat Penelitian Penerapan Sistem Transportasi NextGen Universitas Gunma akan memantau sistem dan menanggapi situasi di mana sulit untuk membuat keputusan berdasarkan mengemudi otomatis saja.

Baca juga: Jaringan 5G Dipercaya Mampu Mengubah Wajah Pariwisata

“5G akan memungkinkan transmisi data dengan kapasitas besar dan sedikit penundaan, yang akan meningkatkan keselamatan dan efisiensi bus. Kami akan melakukannya. suka melakukan berbagai verifikasi untuk penggunaan praktis,” ujar Associate Professor Takeki Ogitsu dari Gunma University.

Uji coba bus teknologi 5G akan berlanjut hingga 28 Februari 2021.

Airbus Ternyata Juga Punya Paten Folding Wingtip Andalan Boeing 777X

Pada 25 Januari 2020 silam, Boeing 777X sukses terbang perdana. Selain pamornya mentereng karena didapuk menjadi pesawat komersial terpajang di dunia dengan 76.73 m dan menggunakan mesin terkuat di dunia GE9X, itu juga karena Boeing 777X karena fitur folding wingtipnya yang berbeda dari yang lain.

Baca juga: Heboh Fitur Folding Wingtip di Boeing 777X, Apa Sih Bedanya Winglet dan Wingtip?

Kendati demikian, usut punya usut, ternyata fitur folding wingtip atau ujung sayap lipat yang diusung Boeing 777X bukanlah satu-satunya yang sudah mendapat paten, melainkan ada folding wingtip lain gagasan Airbus yang baru mendapat paten pada tahun 2014 lalu, jauh lebih anyar dibanding folding wingtip Boeing yang sudah mendapat paten sejak tahun 1990-an.

Dikutip dari Simple Flying, laporan aeroTELEGRAPH menyebut sejak pertama kali dipatenkan pada tahun tersebut, Boeing sebetulnya sudah ingin mengembangkan pesawat dengan fitur ujung sayap lipat. Namun, karena kurangnya minat, pengembangan pesawat itu terus tertunda sampai beberapa tahun belakangan dimana Boeing 777X sukses menjalankan first flight.

Sebagai kompetitor utama, Airbus juga tak mau ketinggalan sehingga muncullah ide membuat folding wingtip sampai mendapat paten pada tahun 2014. Kita sudah sama-sama tahu, bahwa teknologi yang dipatenkan adalah teknologi baru dan belum ada teknologi lain yang serupa dengannya. Termasuk fitur folding wingtip. Karena fitur folding wingtip dari Airbus dan Boeing sama-sama sudah mendapat hak paten, itu berarti keduanya terdapat perbedaan.

Perbedaan dari folding wingtip Airbus dan Boeing sendiri terletak pada lipatan di ujung sayapnya itu. Bila ujung sayap Boeing terlipat ke atas, folding wingtip Airbus terlipat ke bawah. Sesimpel itu, bukan?

Meskipun terkesan hanya sekedar tak mau kalah dengan kompetitornya, Airbus mengklaim folding wingtip miliknya -yang notabene terlipat ke bawah- punya sederet keunggulan. Pertama, folding wingtip yang terlipat ke bawah diklaim lebih aman. Itu karena gaya aerodinamis dapat menyebabkan ujung sayap dapat terlipat ke atas dalam penerbangan sehingga membahayakan sifat aerodinamis pesawat.

Kedua, teknologi folding wingtip ini akan menggunakan apa yang disebut sebagai locking mechanisms dan aktuator yang lebih ringan daripada ujung sayap lipat ke atas milik Boeing.

Baca juga: 4 Poin Head to Head Boeing vs Airbus, Mana Lebih Unggul?

Sekalipun memiliki setidaknya dua keunggulan dibanding folding wingtip ke atas milik Boeing, Airbus belum mengembangkan teknologi tersebut lebih jauh. Itu karena, pada saat mendaftarkan paten tersebut, tren pesawat penumpang berkapasitas besar masih akan mendominasi. Namun, seperti yang kita lihat saat ini, fakta justru sebaliknya.

Pesawat superjombo buatan Airbus yang jadi pesawat komersial terbesar di dunia, A380, justru menjadi usang. Itu karena maskapai penerbangan di dunia tidak lagi menjalankan model jaringan hub-to-hub yang menuntut kapasitas besar melainkan sudah point-to-point yang menuntut kapasitas besar namun juga efisiensi tinggi dengan dua mesin.

Selain Sabet Rute Domestik Tersibuk, Ini Sederet Prestasi Penerbangan Indonesia di Februari 2021

Penerbangan internasional Indonesia memang masih belum bisa diharapkan, namun tidak demikian dengan rute domestik. Dalam survei terbaru lembaga analisis penerbangan global OAG yang berbasis di Inggris di bulan Februari 2021, dua rute domestik Indonesia berhasil menempati posisi tujuh dan kesembilan tersibuk di dunia.

Baca juga: 10 Maskapai dan Rute Narrowbody Jarak Jauh Terbesar di Dunia, Ada Maskapai Indonesia?

Selain itu, Indonesia juga mencatat dua prestasi lainnya di bulan ini. Dua itu ialah menempati posisi ketujuh pada kategori 20 bandara dengan kapasitas keberangkatan domestik berjadwal tersibuk di dunia dan 20 negara teratas di dunia dengan kapasitas penerbangan berjadwal.

Dilansir dari laman resminya, posisi pertama rute domestik tersibuk di dunia bulan Februari 2021 ditempati oleh rute dari Bandara Internasional Jeju menuju Bandara Gimpo Seoul di Korea Selatan. Diperingkat kedua sampai keempat berturut-turut diisi oleh rute-rute di Asia, yaitu rute dari Bandara Hanoi ke Ho Chi Minh di Vietnam, Bandara Chitose Sapporo ke Haneda Tokyo, dan Bandara Fukuoka ke Haneda Tokyo di Jepang.

Masuk lima besar rute tersibuk di dunia pada bulan Februari 2021 masih ditempati oleh rute Asia, sekalipun bukan Asia Pasifik, melainkan Asia Barat atau Timur Tengah, yaitu rute Jeddah-Riyadh. Rute lain di Korea Selatan juga kembali masuk ke jajaran rute domestik tersibuk, diwakili oleh rute dari Bandara Gimpo Seoul-Busan.

Tetangga Korea Selatan, Jepang, juga menempati wakil lain di posisi ke-10 dalam jajaran tersebut, yaitu rute Tokyo Haneda-Okinawa Naha. Satu-satunya rute di luar Asia dalam jajaran rute domestik tersibuk di dunia pada bulan Februari 2021 ini adalah rute dari Bandara Cancun-Mexico City, Meksiko, yang menempat posisi kedelapan.

Sedangkan dua rute tersibuk di dunia dari Indonesia menempati posisi ketujuh dan kesembilan. Posisi ketujuh ada rute Jakarta-Medan Kualanamu dengan 382.975 kursi dan di posisi kesembilan diisi oleh rute Jakarta-Makassar dengan 370.931 kursi, jauh tertinggal memang dibanding posisi pertama dan kedua yang berturut-turut mencapai hampir 1,2 juta kursi dan 1,1 juta kursi.

Baca juga: Inilah 6 Negara dengan Jumlah Bandara Terbanyak di Dunia, Nomor 6 dari Asia! Indonesia, kah?

Di samping masuk jajaran rute domestik tersibuk di bulan Februari 2021, Indonesia juga masuk ke jajaran 20 bandara dengan kapasitas keberangkatan domestik berjadwal tersibuk di dunia, dimana Bandara Soekarno-Hatta menempati posisi ketujuh dan 20 negara teratas di dunia dengan kapasitas penerbangan berjadwal, dimana Indonesia menempati posisi keempat, di bawah Amerika Serikat, Cina, dan India.

Kendati sederet prestasi ini hanya di bulan Februari, namun, bukan tak mungkin jika penanganan virus Corona jauh lebih baik dan perkembangan kasus aktifnya jauh menurun, industri penerbangan Indonesia akan lebih cerah dan mencetak sederet prestasi lainnya.

Kapal Tanker Listrik Pertama Akan Mengarungi Teluk Tokyo di 2022

Kendaraan listrik tidak hanya menyusuri perjalanan darat saja, tetapi moda transportasi laut pun sudah mulai menggunakan listrik. Selain kapal ferry dan kapal cepat, sebentar lagi sebuah kapal tanker listrik akan mulai mengarungi Teluk Tokyo, Jepang.

Baca juga: Sungai Chao Phraya di Bangkok Kini Dilayani Kapal Ferry Bertenaga Listrik

Kapal tanker ini disebut e5 dan yang menarik akan digunakan untuk mengirimkan bahan bakar konvensional ke kapal lain. KabarPenumpang.com melansir dari laman newatlas.com (15/2/2021), dua kapal tanker tersebut saat ini tengah dalam proses pembangunan oleh KOA Industry Co Ltd dan Imura Shipyard.

Rencananya kapal pertama akan memulai layanannya tahun depan dan kapal kedua menyusul di tahun 2023. Pengembangan proyek e5 merupakan konsorsium perusahaan pelayaran dan teknologi maritim.

Untuk diketahui, dua kapal tanker e5 yang tengah dalam pembangunan tersebut dipesan oleh Asahi Tanker dan Kawasaki Heavy Inudstries tengah merancang sistem propulsinya. Nantinya kapal yang memiliki panjang 62 meter tersebut akan digunakan untuk mengirim bahan bakar di Teluk Tokyo, Jepang.

Setiap kapal tanker e5 akan memiliki berat sekitar 499 ton dan akan menggunakan dua paket baterai lithium-ion 1.740-kWh Ocra ESS yang dibuat oleh Corvus Energy. Baterai ini berkapasitas gabungan 3.480 kWh atau 3,5 megawatt per jam.

Paket tersebut akan memberi daya pada dua motor pendorong azimuth 300 kW yang akan memberi kecepatan jelajah sekitar sepuluh knot atau sekitar 19 km per jam. Bahkan dengan baterai per pengisian daya saat ini dijelaskan bisa digunakan selama “berjam-jam”.

Karena menggunakan penggerak motor listrik, kapal tanker e5 tidak akan menghasilkan emisi gas buang. Selain itu dengan menggunakan motor listrik, laju kapal tanker tersebut seharusnya akan lebih mulus dan menghasilkan lebih sedikit getaran serta kebisingan dibandingkan dengan mesin tradisional.

Baca juga: e-Oshima, Kapal Ferry Bertenaga Listrik dengan Baterai Sejenis di Boeing 787 Dreamliner

Hal ini membuat kondisi onboar lebih nyaman bagi awak kapal. Tak hanya itu, bila terjadi bencana alam di kawasan Teluk Tokyo, maka kapal ini dapat menyediakan listrik untuk layanan darurat.

Toko Bebas Bea Pertama di Dunia ada di Bandara Shannon Irlandia

Para pelancong yang bepergian ke luar negeri sangat senang ketika berbelanja buah tangan apalagi jika membelinya di toko bebas bea. Biasanya toko bebas bea ini lebih banyak ditemukan di bandara dan barang yang dibeli harganya lebih murah dibandingkan di toko buah tangan lainnya karena tidak ada pajak.

Baca juga: Inggris Hapuskan Toko Bebas Bea di Bandara, Maskapai AS Hapus Penjualannya Saat di Udara

Namun, tahukah Anda bagaimana asal adanya toko bebas bea ini? KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, ternyata toko bebas bea pertama di dunia didirikan Brendan O’Regan di Bandara Shannon di Irlandia tahun tahun 1947 dan masih beroperasi hingga hari ini.

Kehadiran toko bebas bea ini awalnya dirancang untuk menyediakan layanan bagi penumpang maskapai trans Atlantik yang biasanya melakukan perjalanan antar Eropa dan Amerika Utara. Di mana pesawat yang mengangkut para pelancong ini berhenti untuk mengisi bahan bakar.

Toko ini menjual linen Irlandia, parfum Prancis, porselen Jerman, dan minuman keras kepada penumpang yang menuju ke Amerika Utara. Bahkan 20 persen penjualan wiski penyulingan Irlandia dilakukan melalui tokobebas bea di Uni Eropa dan tempat lainnya.

Sehingga jika bebas bea intra Uni Eropa dihapuskan, maka perusahaan diperkirakan kehilangan bisnis senilai sekitar £10 juta. Untuk diketahui, tahun 1996, pasar bebas bea Irlandia bernilai £103 juta. Hanya tiga negara anggota, Finlandia, Luksemburg dan Swedia, yang lebih bergantung pada penjualan bebas bea intra-UE daripada Irlandia.

Kesuksesan toko bebas bea di Irlandia kemudian diikuti oleh negara lainnya yakni pada 13 tahun kemudian dua pengusaha Amerika, Charles Feeney dan Robert Warren Miller, mendirikan apa yang sekarang disebut Pembelanja Bebas Bea (Duty Free Shoppers atau DFS).) pada tanggal 7 November 1960.

DFS mulai beroperasi di Hong Kong dan menyebar ke Eropa dan tempat lain di seluruh dunia. Mengamankan konsesi eksklusif untuk penjualan bebas bea di Hawaii pada awal 1960-an merupakan terobosan komersial untuk DFS, yang memungkinkan perusahaan untuk fokus pada pelancong Jepang.

DFS terus berinovasi, berekspansi ke toko bebas bea di luar bandara dan ke toko besar di pusat kota Galleria yang kemudian tumbuh menjadi pengecer perjalanan terbesar di dunia. Pada tahun 1996 LVMH Moët Hennessy Louis Vuitton mengakuisisi saham Feeney dan dua pemegang saham lainnya dan pada tahun 2012 bersama-sama memiliki DFS dengan Miller.

Dalam periode yang sama ini, beberapa daerah berkembang sebagai tujuan belanja bebas bea. Mereka dicontohkan oleh Saint Martin dan Kepulauan Virgin AS di Karibia, Hong Kong dan Singapura. Sedangkan yang lain mengklaim harga kompetitif untuk bebas bea.

Baca juga: “Duty Free” Pada Minuman Keras, Untung Yang Dihasilkan Sedikit

Umumnya, barang bebas bea dan dikenakan pajak atas impor untuk dijual di manapun di tujuan belanja. Pedagang dapat membayar inventaris, bisnis atau pajak lainnya, tetapi pelanggan mereka biasanya tidak membayar secara langsung. Tidak adanya bea atau pajak lain atas barang yang dijual tidak menjamin bahwa barang-barang tersebut merupakan barang murah. Biaya barang identik dari sumber bebas bea yang berbeda dapat bervariasi. Mereka sering bergantung pada ada atau tidaknya pesaing terdekat, misalnya toko bandara.

Banyak Ruginya, FGD PATLI Desak Pemerintah Kurangi Bandara Internasional

Tanpa disadari publik, Indonesia rupanya sudah mempunyai 30 bandara internasional yang tersebar di seluruh penjuru negeri, mulai dari Bandara Soekarno-Hatta, Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bandara Kualanamu, Bandara Internasional Yogyakarta, Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan, Bandara Sultan Hasanuddin, Bandara Sam Ratulangi, Bandara Juanda, dan lain sebagainya.

Baca juga: Pemerintah Dianggap Langgar UU, FGD PATLI Ungkit Urgensi Pembentukan Majelis Profesi Penerbangan

Menurut Presiden Jokowi, 30 bandara internasional yang dimiliki Indonesia saat ini terlalu banyak. Padahal, di negara-negara lain tidak seperti itu.

Sejalan dengan itu, Desmon Ismael, dosen di Institut Transportasi dan Logistik (ITL) Trisakti, menyebut saat ini maskapai-maskapai di Indonesia sangat butuh campur tangan pemerintah. Di antaranya ialah mengurangi bandara internasional.

“Harusnya dibatasi saja jadi lima atau tiga bandara internasional,” jelasnya dalam Focus Group Discussion (FGD) yang digagas Perkumpulan Ahli Transportasi & Logistik Indonesia (PATLI) dan ITL, Selasa (16/2).

Lebih lanjut, ia mengungkapkan, selain bagus untuk membantu maskapai, mengurangi bandara internasional juga bisa membuat iklim penerbangan di Indonesia lebih sehat. Sebab, di masa pandemi virus Corona seperti sekarang ini, penerbangan domestik amat mendominasi.

Dengan mempersempit ruang gerak maskapai asing untuk beroperasi di bandara-bandara internasional yang ada, otomatis maskapai dalam negeri bisa lebih leluasa mengambil ceruk pasar itu.

Seperti sudah diketahui bersama, sejak tahun 2015 lalu, pemerintah telah menetapkan lima bandara internasional untuk menghadapi open sky policy atau SAM (Single Aviation Market). Sejak saat itu, perlahan, bandara internasional baru mulai bermunculan dengan maksud mendongkrak sektor pariwisata melalui rute internasionalnya.

Akan tetapi, munculnya banyak bandara internasional baru justru membuat risau sebagian kalangan, salah satunya, Heru Legowo. Menurut mantan Direktur PT. Gapura Angkasa yang juga pemerhati penerbangan ini, dengan mulai banyak bermunculannya bandara internasional, konsep hub & spoke atau bandara pengumpan, bandara pengumpul, dan bandara hub menjadi tidak konsisten.

“Amerika yang banget luas saja hanya beberapa bandara yang statusnya internasional. Selain proteksi, juga kalau hanya airline luar yang masuk dan kita gak punya flight sebaliknya, yang untung airline asing, kita melongo saja,” ujarnya.

Sekarang, lanjut Heru, dari bandara yang sebenarnya bandara pengumpan dapat langsung terbang ke Singapura, tanpa harus melalui Soekarno-Hatta (Soetta). Bila kondisi ini terus berlangsung, Bandara Soetta tidak lagi menjadi bandara hub.

Justru Bandara Changi di Singapura yang berfungsi sebagai hub-nya bandara-bandara di Indonesia. Tentu saja sangat disayangkan. Semestinya, Heru masih menjelaskan, jangan terlalu banyak bandara kita yang melayani penerbangan internasional. Jika airline kita tidak cukup mampu untuk bersaing, maka bandara-bandara itu menjadi sasaran empuk.

Baca juga: Cirium Lihat Industri Penerbangan Indonesia Kembali Bergairah, IATA Pesimis

Dan yang menikmati kue pasar penumpang itu adalah airline regional. Airline kita jika tidak siap, bakal gigit jari saja. Meskipun demikian, ia tetap optimis untuk mencari cara guna mendongkrak wisatawan mancanegara yang bermuara pada tumbuhnya sektor pariwisata.

“Berarti bandara pendukungnya harus punya koneksi yang bagus dan anytime ada connecting flightnya,” Jelas Heru, saat ditanya perihal solusi untuk tetap mendongkrak wisatawan mancanegara tanpa harus besar-besaran menginternasionalisasi bandara.

ANA Uji Coba Bus Otonom Angkut Karyawan di Bandara Haneda

Bus otonom atau tanpa pengemudi, kini mulai wara wiri di area bandara, seperti belum lama ini All Nippon Airways atau yang dikenal dengan ANA mulai melanjutkan inovasi dalam teknologi otonom dengan mengandalkan serangkaian tes untuk prototipe bus tanpa pengemudi di Bandara Haneda Tokyo, Jepang.

Baca juga: Bus Otonom Pertama di Jepang Meluncur di Prefektur Ibaraki

Bahkan dari rangkaian uji coba ekstensif, ANA menjadi maskapai Jepang dan pertama di dunia yang menggunakan kendaraan ototnom untuk mengangkut karyawan di bandara. Bus membentuk komponen utama dari visi ANA untuk bandara “Sederhana & Cerdas” di masa depan yang akan dicapai melalui penerapan teknologi otonom berkelanjutan secara luas.

“Di ANA, kami terus mencari cara untuk memanfaatkan teknologi terbaru untuk meningkatkan efisiensi. Selain menandai langkah maju yang signifikan untuk bandara, bus otonom yang sepenuhnya bertenaga listrik akan menghasilkan lebih sedikit emisi dan penurunan jejak karbon di bandara,” kata Masaki Yokai, wakil presiden senior ANA yang dikutip KabarPenumpang.com dari aviationpros.com (1/2/2021).

Uji coba tersebut berlangsung pada 1-12 Februari kemarin dan mengangkut sebanyak 57 karyawan dalam satu waktu. Selain mengembangkan bus canggih, ANA sebelumnya sudah menguji teknologi otonom mereka di Bandara Kyusu Saga. ANA melakukan uji coba terbaru ini bekerja sama dengan inisiatif mobilitas BOLDLY Softbank, Advanced Smart Mobility, dan BYD Jepang.

Pengujian akan dibatasi pada area terlarang di Bandara Haneda tempat pesawat dan kendaraan kargo berada. Nantinya, jika uji coba ini berhasil, ANA menargetkan untuk menerapkan teknologi bus tanpa pengemudi di bandara-bandara lain pada tahun 2025. Pengujian putaran pertama dilakukan pada Februari 2018, dengan pengujian selanjutnya selama Q1 tahun 2019 dan 2020 untuk lebih menyempurnakan teknologinya.

Sistem otonom memberikan umpan balik waktu nyata yang dapat digunakan petugas operator untuk mengevaluasi status kendaraan setiap saat. Selain membantu menyempurnakan teknologi di balik bus otonom, pengujian tersebut akan membantu pengembang lebih memahami bagaimana penerapannya di bandara untuk efisiensi maksimum.

Baca juga: Bus Listrik Otonom Melenggang Mulus di Bandara Haneda

Tak hanya otonom, bus juga dilengkapi dengan motor listrik sebagai penggeraknya agar lebih ramah lingkungan. Untuk diketagui, bus otonom ini adalah contoh terbaru ANA bekerja untuk menjadi yang terdepan dalam inovasi teknologi. Selain meringankan beban kerja karyawan Haneda, ANA bertujuan menciptakan layanan yang lebih efisien bagi mereka yang bepergian melalui bandara di masa depan.

Pemerintah Dianggap Langgar UU, FGD PATLI Ungkit Urgensi Pembentukan Majelis Profesi Penerbangan

Sederet pengamat penerbangan yang tergabung dalam Focus Group Discussion (FGD) Perkumpulan Ahli Transportasi & Logistik Indonesia (PATLI) mengungkit kembali pembentukan Majelis Profesi Penerbangan (MPP).

Baca juga: Pengamat Penerbangan: Sebelum Semuanya Kembali Normal, Seluruh Maskapai Adalah LCC!

Sebagaimana diketahui, MPP ini merupakan amanat undang-undang yang termaktub dalam pasal 364 undang-undang (UU) No.1 Tahun 2009 tentang Penerbangan. Tetapi, sejak disahkan, MPP belum juga terbentuk sampai saat ini.

Mantan Direktur Operasional AirNav Indonesia, Wisnu Darjono, mengungkapkan, MPP bukan hanya penting untuk membuat penerbangan aman dan nyaman -terlebih selama pandemi virus Corona- tetapi juga penting karena itu sudah disahkan. Artinya, dikarenakan sampai sekarang MPP masih belum terbentuk, itu artinya pemerintah melanggar UU dan pastinya ada konsekuensi atas pelanggaran ini.

“Keselamatan penerbangan karena pandemi harus kita perhatikan sekali. Untuk menjamin keselamatan penerbangan harus ada pembenahan. Dari 2009 sampai sekarang majelis profesi penerbangan belum ada. MPP masuk undang-undang. Itu artinya pemerintah tidak melaksanakan UU. Kalau tidak melaksanakan UU, pemerintahan memiliki masalah besar. Apa konsekuensinya kalau pemerintah tidak menjalankan UU?” jelasnya.

Sejalan dengan itu, dalam forum yang sama, Capt. Toto Hardiyanto Subagyo, mengungkapkan bahwa keberadaan MPP ini akan memberikan kontribusi berarti terhadap keberlangsungan bisnis penerbangan Indonesia.

Dalam paparannya, tantangan bisnis penerbangan untuk mencapai keberhasilan yang bekelanjutan juga didukung setidaknya tiga faktor lain, seperti program next generation of aviation professionals (NGAP) yang digagas Internasional Civil Aviation Organizational (ICAO), aviation training & capacity building roadmap, dan competency-based training & training best practices.

Kembali ke soal MPP, pengamat penerbangan lain sebelumnya juga sudah banyak yang buka suara. Chappy Hakim, misalnya, Pendiri Pusat Studi Air Power Indonesia itu menyayangkan belum terbentuknya MPP yang di antara tugasnya menindaklanjuti laporan akhir KNKT dalam konteks corrective action yang harus dilakukan.

Di tempat terpisah, Ketua Masyarakat Hukum Udara dan Partner dari kantor Konsultan Hukum Hanafiah Ponggawa & Partners, Andre Rahadian membeberkan, pembentukan majelis profesi penerbangan ini urgensinya cukup tinggi dan diharapkan dapat memberikan kontribusi dan masukan pada para penegak hukum dalam aspek penanggulangan kecelakaan maupun penegakan etika bagi pekerja maupun pihak terkait dalam penerbangan seperti pilot, engineer, navigasi dan juga airline.

Baca juga: Kata Pengamat Penerbangan: Secara Substansial Bisa Saja Garuda Dikatakan Bangkrut

Lebih lanjut, Ketua Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI) itu mengatakan, majelis ini nantinya menjadi wadah terhadap para ahli untuk dapat menyampaikan pendapatnya kepada penegak hukum, dikarenakan banyaknya faktor yang dapat menjadi penyebab kecelakaan pesawat dan juga peraturan yang kini di terapkan di Indonesia merupakan hasil dari ratifikasi konvensi Internasional.

Hanya saja, Andre mengakui pembentukan majelis profesi penerbangan dalam hal ini sulit terealisasi dikarenakan adanya hambatan pada payung hukum pembentukan majelis tersebut. Sekalipun sudah terbentuk, MPP harus menjadi majelis independen, tidak dibawah Kemenhub namun tetap pada garis koordinasi seperti AirNav maupun KNKT.

Inggris Berlakukan Karantina Mandiri di Hotel Bagi Wisatawan Selama 10 Hari, Biayanya Rp124 Juta!

Inggris mulai berlakukan skema baru karantina mandiri di hotel bagi wisatawan. Skema ini mengharuskan wisawatan asing dari 33 negara yang masuk dalam daftar merah melakukan isolasi mandiri di hotel-hotel di dekat bandara selama 10 hari. Biayanya pun cukup fantastis, mencapai 6.400 pound atau sekitar Rp124 juta (kurs 19.360).

Baca juga: Begini Potret Karantina Mandiri sambil Berlibur ala Australia

Seruan Asosiasi Transportasai Udara Internasional (IATA) sejak Juni tahun lalu kepada pemerintah di seluruh dunia untuk tidak mengkarantina wisatawan asing saat tiba di negara mereka tampaknya tidak teralu berefek. Sebab, masih banyak negara-negara di dunia yang masih menerapkan karantina mandiri sesampainya di negara tujuan.

Menurut IATA, karantina mandiri tidak diperlukan karena sebelum naik pesawat, wisatawan telah melewati serangkaian proses panjang untuk memastikan hanya penumpang sehat yang diizinkan bepergian dengan pesawat.

CEO IATA, Alexandre de Juniac menyebut, bila negara-negara di dunia masih menerapkan kebijakan tersebut, sektor perjalanan dan pariwisata mereka akan terus tertekan. Ujungnya, perekonomian nasional pun akan terus macet dan menimbulkan efek domino berupa PHK.

Akan tetapi, tentu saja negara-negara di dunia tidak ingin mengambil risiko. Pada akhrinya karantina mandiri tetap berjalan di banyak negara, tak terkecuali Inggris. Negeri yang terkenal memiliki liga sepak bola paling kompetitif di dunia tersebut bahkan bukan hanya menerapkan kewajiban karantina mandiri bagi wisatawan dari 33 negara yang masuk daftar merah, melainkan mematok harga sangat tinggi untuk itu, mencapai Rp124 juta.

Dikutip dari Simple Flying, sebetulnya, bila dirinci harganya tak semahal itu. Harga untuk karantina mandiri selama 10 hari hanya dipatok sebesar 1.750 pound atau sekitar Rp34 juta (kurs 19.360).

Biaya sebesar itu termasuk akomodasi, transportasi, kamar, tes Covid-19 (hari kedua dan ke-10), serta makanan dan minuman. Harga bisa berubah jika wisatawan membawa orang dewasa untuk berbagi kamar dengan tambahan sebesar £650 dan £325 untuk anak-anak.

Baca juga: Apes! Keluar Hanya Beli Masker, Pilot AS Kena Penjara 4 Minggu Gegara Langgar Perintah Lockdown di Singapura

Tak cukup sampai di situ, wisatawan juga akan dikenakan biaya tambahan berupa denda sebesar 4.000 pound Rp77 juta lebih (kurs 19.360), jika tidak memesan paket karantina mandiri di hotel sebelum keberangkatan pesawat.

Bagi wisatawan di luar 33 negara yang masuk ke dalam daftar merah, mereka tidak ikut menjalankan kewajiban karantina mandiri di hotel. Tetapi, mereka harus mengikuti tes Covid-19 dengan biaya £210 atau Rp4 juta (kurs 19.360). Bila hasilnya negatif, mereka bisa langsung melenggang bebas di Negeri Matahari yang Tak Pernah Tenggelam itu. Bila positif, mereka harus mengikuti kewajiban karantina mandiri selama 10 hari dan membayar 1.750 pound.