Lokomotif Tua Terdampar di Hutan Paraguay, Ingatkan Kejayaan Industri Glasgow

Ketika melihat sebuah lokomotif terdampar di sebuah hutan, apa yang terlintas di pikiran Anda? Sengaja diletakkan di situ atau memang dulunya ada jalur hingga ke dalam hutan tersebut. Lokomotif ini bisa dilihat di tengah hutan Paraguay dan bila terlihat dari foto, berada diantara akar pohon dan rerumputan.

Baca juga: 27 September 1825, Kereta Penumpang dengan Lokomotif Uap Pertama Kali Mengular

Bahkan ketika Anda melihat foto lokomotif di tengah hutan mengingatkan pada masa kejayaan industri Glasgow di Skotlandia, Inggris. Di mana saat itu sekitar seperempat lokomotif uap dunia dibangun di kota.

Apalagi ketika Glasgow berada di puncak kejayaan industri berat sebagai pembuat lokomotif dunia. Glasgow sendiri merupakan perusahaan lokomotif Inggris Utara yang mengekspor lokomotifnya ke jalur kereta api di seluruh dunia.

Bisa dikatakan, Glasgow merupakan perusahaan manufaktur terbesar di Eropa tepatnya di Springburn dan Polmadie. KabarPenumpang.com melansir dari laman glasgowlive.co.uk (4/1/2021), teronggoknya lokomotif di tengah hutan Paraguay tidaklah mengherankan.

Pasalnya lokomotif tersebut terdampat di hutan Paraguay yang letaknya sekitar 6500 mil dari tempat kelahirannya. Penemuan luar biasa tersebut dibuat dekat dengan kota Encarnación di selatan Paraguay dekat perbatasan Argentina.

Foto lokomotif nomor 230 yang tersebar di dunia maya tersebut diyakini diproduksi antara tahun 1910 dan 1912 oleh The North British Locomotive Co. Ltd. Foto tersebut ketika tersebar ditambahkan dengan keterangan, “Tahun-tahun pasti telah berlalu sejak ditinggalkan, dan hutan yang tumbuh di sekitarnya itu menyembunyikannya.”

Baca juga: Mallard, Lokomotif Uap Tercepat di Dunia Berusia 82 Tahun

Namun, tak ada dokumen yang jelas tentang penyebab lokomotif tersebut berada di tengah hutan. Penemuan lokomotif di tengah hutan ini setelah pada Mei tahun lalu ditemukan sebuah bangkai kapal uap yang dibangun di Glasgow.

Kalau ke Taiwan Dapat Taksi Ini, Jangan Lupa Menyanyi Biar Dapat Diskon

Unik, bahagia dan cukup menantang adalah hal yang akan dirasakan ketika naik dalam sebuah taksi di Taiwan. Ini karena setiap penumpang harus bernyanyi untuk dapat diskon, hadiah yang tunai. Pemilik taksi ini adalah Tu Ching Liang yang menhadirkan karaoke di dalam taksinya. Taksi kuning Tu dilengkapi, mikrofon, iPad dan speaker yang letaknya diluar taksi.

Baca juga: Unik, di Taiwan Ada Museum Taksi yang Dibuka Temporer

“Saya telah mengemudikan taksi selama 27 tahun, memberikan uang sebagai hadiah karena menyanyi karaoke selama delapan tahun, dan merekam video selama enam tahun. Saya telah merekam sepuluh ribu video,” katanya.

“Saya pernah tampil di acara TV dari sepuluh negara berbeda,” tambah Tu.

Ketika seorang penumpang naik taksi milik Tu, berarti membuat kesepakatan bernyanyi untuk pengemudi Anda. Jika tidak bernyanyi, penumpang tidak dapat diskon dan tidak akan memenangkan hadiah apapun. Tu berkata, banyak orang terlalu malu untuk bernyanyi, tetapi dia tetap memaksa mereka.

“Itu untuk melatih keberanian mereka. Untuk melatih mereka menjadi superstar,” jar Tu.

KabarPenumpang.com melansir theguardian.com (4/1/2021), saat penumpang akan menyanyi, Tu sesekali memberi peringatan bahwa speaker ada di luar mobil dan nyaring.

Ia hanya sesekali memberi peringatan terlebih dahulu bahwa speaker ada di luar mobil dan nyaring. Jika Tu menyukai upaya penyanyi, dia akan memberi diskon perjalanan untuk mereka, terkadang memberikan hadiah uang tunai di mana biasanya, orang memberi tip lebih banyak daripada yang seharusnya.

Apa yang dimulai hampir satu dekade lalu sebagai sebuah permainan, yang menawarkan diskon kepada penumpang jika mereka dapat menebak judul lagu, telah berkembang menjadi semacam kerajaan media sosial. Kamera di dalam mobil Tu merekam setiap pertunjukan yang baik, yang buruk, pemalu, pemabuk yang dia upload ke YouTube. Beberapa telah ditonton lebih dari dua juta kali.

“Saya seorang pemberi pengaruh internasional,” katanya.

Saat berkendara di sekitar distrik timur mencari penumpang, Tu menggulirkan beberapa penumpang favorit dan terkenalnya. Dia mengklaim telah menemukan karir menyanyi Edward Chen, seorang aktor Taiwan dan detak jantung yang diklaim Tu dengan beberapa lisensi kreatif diberi kontrak rekaman setelah pertunjukan taksi karaokenya.

“Orang-orang membayar untuk pergi ke konser dan melihat orang-orang bernyanyi, tetapi di sini mereka membayar saya untuk menyanyi untuk saya,” katanya.

Tu memiliki mimpi suatu hari nanti ada Ed Sheeran sebagai penumpang. Mobil berhenti di luar bar dan Tu mengeluarkan mikrofon. Pada hari-hari pandemi ini, kehidupan Taipei relatif normal menurut standar internasional hingga bulan lalu, kasus penularan lokal tidak tercatat sejak April tetapi tidak ada turis karena pembatasan perbatasan.

Tu mengatakan hal itu tidak terlalu memengaruhinya bahkan dengan pesaing yang berkeliling, dan dia sebagian besar bergantung pada bisnis lokal.

“Orang Taiwan suka menyanyi. Jadi lumayan banyak taksi dengan karaoke. Tapi sulit untuk memfilmkan dan menyanyi, seperti yang saya lakukan. Dan polisi bisa mendenda saya untuk pembicara di luar. Itu juga sulit,” katanya.

Baca juga: Taksi dengan Hiasan Lampu Natal di Raleigh Telah Kehilangan Pemiliknya

Pada akhirnya, Tu setuju untuk tidak melakukan pembunuhan saya atas lagu Titanic di internet, tetapi dia tidak bisa menahan tawa terakhirnya, dan saat dia mengusir ledakan rekaman melalui speaker eksternal taksi. Mungkin itu adalah keputusasaan yang disebabkan cuaca, atau mungkin semua orang terbiasa melihat Tu di kemacetan, tapi untungnya tidak ada yang memperhatikan.

Kursi Ditendang oleh Anak-Anak, Penumpang Wanita Tinju Seorang Ibu

Tindakan pemukulan oleh penumpang kepada penumpang lain dalam penerbangan kerap kali terjadi. Hal ini terjadi karena masalah yang sepele atau dikarenakan salah satu penumpang tersebut mabuk dan melakukan pemukulan itu.

Baca juga: Dipukuli Awak Kabin, Penumpang Pria Gugat American Airlines dan Tuntut US$160 Ribu

Namun baru-baru ini, seorang wanita memukul penumpang karena masalah sepele. Insiden tersebut terjadi dalam penerbangan Spirit Airlines yang memiliki tujuan ke Bandara Internasional Portland, Oregon, Amerika Serikat.

Karena hal tersebut membuat, seorang wanita didakwa melakukan penyerangan setelah diduga meninju seorang ibu dalam penerbangan Spirit Airlines di Bandara Internasional Portland pada Minggu (3/1/2021). Dalam dokumen pengadilan mengatakan Daydrena Jaslin Walker-Williams merasa kesal dengan penumpang yang duduk dibelakangnya.

Saat itu ada seorang ibu dengan dua anak berusia tiga dan tujuh tahun. Kedua anak itu menendang kursi wanita 29 tahun tersebut dan membuatnya kesal dengan penumpang itu. KabarPenumpang.com melansir laman fox40.com (5/1/2021), penyelidik mengatakan bahwa dia memberitahu ibu itu untuk mencegah kedua anaknya menendang tetapi diabaikan.

Selama wawancara dengan polisi, Daydrena mengklaim dia tidak memberi tahu pramugari tentang dipukul karena ‘reaksi pertamanya adalah berkelahi’. Daydrena mengklaim bahwa ibu anak itu memukul bahunya.

Namun sayang, pejabat mengatakan tidak ada saksi mata yang melihat Daydrena dipukul. Meski begitu Daydrena mengaku meninju wajah ibu tersebut sebanyak dua hingga tiga kali. Karena perbuatannya bibir korban berlumuran darah dan ada benjolan di kepala.

Pramugari Spirit Airlines juga melaporkan kesaksian atas penyerangan itu dan mengatakan korban tidak melawan serta mereka tidak melihat dia memukul bahu Daydrena. Bahkan petugas mengatakan kepada terdakwa bahwa tidak ada yang melihat korban memukulnya.

Baca juga: Dianggap Tak Miliki Tiket Valid, Penumpang Diamankan dan Giginya Patah

Daydrena didakwa melakukan serangan kejahatan tingkat empat dan pelecehan. Setelah didakwa oleh kantor Kejaksaan Distrik Multnomah County atas penyerangan dan pelecahan kejahatan. Namun Daydrena dibebaskan dengan jaminan hanya beberapa jam setelah penangkapannya.

Keuangan Makin Goyang, Boeing Tutup Pusat R&D Manufaktur di Seattle

Boeing dikabarkan bakal menutup pusat riset & development (R&D) manufaktur atau biasa juga dikenal sebagai pusat Advanced Developmental Composites (ADC) di Seatlle, Negara Bagian Washington, Amerika Serikat (AS). Penyebabnya, apalagi kalau bukan krisis keuangan di internal perusahaan akibat pandemi virus Corona yang membuat industri penerbangan kacau balau.

Baca juga: Akibat Corona, Boeing dan Airbus Bahas Merger untuk Selamatkan Bisnis

“Ini adalah salah satu dari beberapa langkah yang kami ambil untuk merampingkan operasi kami dan membuat penggunaan ruang fasilitas kami lebih efisien,” tulis Boeing dalam sebuah pernyataan.

Lebih lanjut, Boeing mengabarkan bahwa untuk sementara waktu, proses pengerjaan pesawat-pesawat non komersial akan dipindah sebagian ke fasilitas Boeing di Puget Sound, Washington. Tetapi, tidak untuk para pekerja. Serikat Pekerja Teknik Profesional di Aerospace (SPEEA) menyebut, bangkrutnya Boeing menyebabkan sebanyak 29 anggotanya atau karyawan Boeing dipecat.

“Kami tentu prihatin tentang hal ini, tidak hanya hilangnya pekerjaan yang ada, tetapi juga untuk pekerjaan yang akan datang pada pesawat baru di masa depan,” katanya, sebagaimana dikutip dari seattletimes.com.

Meski beberapa pengerjaan pesawat di fasilitas tersebut akan dialihkan, namun, menurut seorang sumber dari dalam tubuh perusahaan mengatakan, bahwa dirinya khawatir akan masa depan Boeing. Sebab, banyak hal besar dimulai dari fasilitas ini.

Fasilitas penelitian dan pengembangan nan megah, dengan bangunan ikonik tanpa jendela berwana putih ditambah logo Boeing tersebut, diketahui sudah sejak beberapa dekade lalu menjadi andalan Boeing sebagai pusat inovasi masa depan.

Program-program penelitian manufaktur paling penting dan rahasia, baik militer maupun komersial, terjadi di tempat ini. Teknologi kunci untuk membangun pesawat pembom B2 Stealth, F-22 Raptor, dan 787 Dreamliner juga lahir dari tempat ini.

Di antara berbagai fasilitas canggih di pusat inovasi ini, autoclave adalah salah satunya. Autoclave sendiri adalah oven raksasa yang digunakan Boeing untuk memanggang material komposit karbon hingga menjadi keras untuk kemudian dipotong menggunakan peralatan robotik guna menghasilkan potongan-potongan besar dan terstruktur, sesuai dengan desain di komputer.

Baca juga: Sejarah Merger Boeing dengan McDonnell Douglas, Sempat Ditentang Eropa sampai Presiden AS Turun Tangan

Fasilitas ADC di Seattle juga disebut menjadi pusat pelatihan insinyur dan mekanik tamu dari Jepang dan Italia untuk melakukan pekerjaan produksi.

Selain pusat inovasi ADC di Seattle, Boeing diketahui juga masih memiliki fasilitas lainnya, baik itu fasilitas pengembangan dan inovasi, gudang, maupun fasilitas produksi pesawat komersial dan militer, seperti di Everett, Puget Sound, Renton, dan Anacortes.

Taksi Drone Otonom EHang 216 Bakal Manjakan Pengunjung Kota Wisata Terpopuler di Guangdong

Taksi udara atau taksi drone otonom EHang 216 tak lama lagi akan hadir di Guangdong, Cina. Kepastian itu didapat setelah perusahaan taksi terbang drone pertama di dunia itu meneken nota kesepakatan dengan perusahaan real estate asal Hong Kong, Greenland Hong Kong Holdings Limited, atas perjanjian kerjasama layanan joy flight atau tamasya udara di Forest Lake atau biasa juga dikenal Kota Yeuhu, Zhaoqing, sebuah kota tujuan wisata paling populer di Guangdong.

Baca juga: Keren, Taksi Drone Otonom EHang 216 Sukses Ajak Penumpang Terbang Keliling Langit Cina

Dilansir New Atlas, selain menghibur pengunjung kota wisata dalam program tamasya atau pariwisata udara, taksi drone otonom EHang 216 juga bakal menghibur masyarakat yang berkunjung dengan atraksi aerial media show, sejenis atraksi akrobatik nan menawan dari deretan drone EHang, seperti membentuk sebuah kata, benda, bendera, bangunan, dan berbagai bentuk lainnya, seperti video di bawah ini.

Forest Lake, yakni sebuah area berupa tujuh danau alami dan lahan seluas 3 juta meter persegi, digadang akan semakin diminati pengunjung jika Bandara Internasional Pearl River Delta sudah selesai dibangun pada 2025 mendatang.

Pada kondisi itu, taksi drone otonom EHang 216 diproyeksi bakal menjadi kendaraan alternatif untuk sampai ke bandara, dimana Forest Lake menjadi hubnya, sekalipun hal itu masih membutuhkan pengembangan dan konsep yang lebih matang.

Taksi drone otonom EHang 216, sejak awal kemunculannya, memang begitu menarik perhatian publik. Drone tersebut dinilai lebih efektif dan efisien dibanding helikopter, sekalipun EHang 216 memiliki rotor yang lebih banyak, yakni 16.

Taksi drone otonom EHang 216 mampu memuat dua penumpang dan terbang selama 21 menit di kecepatan mencapai 130 km per jam.

Baca juga: Taksi Drone EHang Masuki Tahun Layanan Pertama dengan Konsep Passenger Drone Hotel

Saat ini, layanan tamasya udara dan pertunjukan aerial media show taksi drone otonom EHang 216 masih dalam proses uji coba di Forest Lake. Jika berhasil, kedua perusahaan akan membawa konsep serupa ke kota-kota lain di seluruh daratan Cina. Sementara itu, EHang akan tetap fokus mengembangkan jangkauan bisnisnya dimana sebelumnya perusahaan itu telah melakukan uji coba di AS, Korea Selatan, Dubai, dan Eropa.

Selain bermain di pangsa pasar penumpang, EHang 216 juga tengah mengincar pasar drone kargo. Pada akhir Mei lalu, taksi udara otonom pertama di dunia ini dilaporkan telah mengantongi izin untuk melayani kargo udara atau logistik angkutan berat oleh Administrasi Penerbangan Sipil Cina (CCAC). Dengan begitu, praktis, EHang menjadi kendaraan udara otonom kelas penumpang (AAV) pertama di dunia yang berhasil mendapatkan izin masuki layanan kargo udara.

Praktisi Hukum Leasing: Hibah Bisa Dilakukan Bila Pesawat Sudah Lunas

Meski tak berlaku untuk semuanya, tetapi sebagian armada pesawat, khususnya pesawat angkut yang dioperasikan oleh TNI AU berasal dari hibah. Sebut saja pesawat jet Fokker F-28 Fellowship, Boeing 737-400 dan pesawat angkut berat Lockheed L-100, pada zamannya pernah digunakan oleh maskapai sipil di Tanah Air.

Baca juga: Margin Keuntungan Tipis, Lufthansa Hibahkan Rute Penerbangan Menuju Bangkok

Seiring kebijakan operator yang telah mempertimbangkam beragam hal, pesawat-pesawat yang disebut di atas kemudian berpindah tangan ke otoritas militer, meski asasinya tetap sebagai pesawat angkut. Seperti Fokker F-28 yang pernah menjadi tulang punggung rute domestik Garuda Indonesia pada dekade 80-an, telah dibibahkan sebagai inventori Skadron Udara 17/VVIP Lanud Halim Perdanakusuma. Menurut data rzjets, empat unit F-28 Fellowship dihibahkan Garuda Indonesia kepada TNI AU dalam kurun waktu 1983-2013. Keempat pesawat tersebut masuk dalam inventori Skadron Udara 17/VIP dengan tail number A-2801, A-2802, A-2803, dan A-2804.

Kemudian pesawat yang disebut sebagai kembaran C-130 Hercules, yaitu L-100 yang dioperasikan Skadron Udara 17 dan Skadron Udara 31, merupakan hibah dari Pelita Air Service. Sesuai kebijaksanaan pemerintah, pada tahun 1995 TNI AU mendapat hibah dua unit L-100-30 dari maskapai Merpati Nusantara Airlines, dan tiga unit L-100-30 dari Pelita Air service. Kelima pesawat tersebut kini menjadi etalase Skadron Udara 31, masing-masing dengan nomer A-1325, A-1326, A-1327, A-1338 dan A-1329.

Yang paling baru, pada tahun 2016, TNI AU mendapatkan hibah Boeing 737-400 dari Lion Air Group, dimana pesawat yang sebelumnya bernomer registrasi PK-LIW kini berubah registrasinya menjadi A-7308. Hal ini menjadikan Lion Air Group sebagai institusi swasta pertama di Indonesia yang menghibahkan pesawatnya kepada TNI AU.

Terlepas dari siapa yang menghibahkan pesawat, yang pasti dalam sebuah hibah pasti ada proses; termasuk persyaratan. Di antara syarat wajib sebuah pesawat dihibahkan, satu hal yang tidak boleh tidak ialah pesawat harus milik sendiri, harus sudah lunas, bukan pesawat sewaan ataupun sejenisnya.

Menurut praktisi hukum leasing dan keuangan pesawat, Hendra Ong, bukti kepemilikan sendiri atas barang yang dihibahkan bisa dilihat dari bill of sale pesawat. Bill of sale menjelaskan nama pemberi hibah sebagai pemilik pesawat.

“Hibah hanya bisa dilakukan atas pesawat milik pemberi hibah. Dibuktikan dari bill of sale pesawat yang menjelaskan nama pemeberi hibah sebagai pemilik pesawat,” katanya kepada KabarPenumpang.com, Selasa (5/1).

Baca juga: Ketiban Durian Runtuh, Qatar Hibahkan Pesawat Mewah Boeing 747-8i Kepada Turki!

Lebih lanjut, ia mengungkapkan, bahwa dengan syarat tersebut, seharusnya tidak ada kasus pemberian hibah pesawat yang masih menjadi milik orang lain, bukan atas nama pemberi hibah. Sebab, kalau ada, hibah tersebut tidak sah.

“Seharusnya tidak ada. Karena kalau ada, maka hibah tersebut batal demi hukum,” pungkasnya, saat ditanyai kemungkinan hibah yang itemnya bukan atas nama pemberi hibah.

Anti Macet! Ambulans Terbang VTOL Bertenaga Hidrogen Hadir di Amerika Serikat

Macet masih menjadi momok menakutkan dalam kerja-kerja ambulans. Belum lama ini, nyawa seseorang di Jambi dilaporkan melayang akibat ambulans yang ditumpanginya terjebak macet. Nyawa seorang ibu yang tengah mengalami pendarahan hebat pasca melahirkan ini seharusnya bisa tertolong andai saja bisa cepat sampai ke rumah sakit.

Baca juga: Aplikasi “Ambulans Jadi Taksi” Agar Terhindar dari Kemacetan Segera Diluncurkan, Setuju Kah?

Andai saja waktu bisa diputar, mungkin, petugas medis di sana bisa memanfaatkan mobil taksi terbang pertama di dunia buatan perusahaan asal Israel, Urban Aeronautics. Sekalipun namanya taksi terbang, namun, pada pengaplikasiannya, ia bisa digunakan untuk berbagai keperluan; termasuk sebagai ambulans.

Dikutip dari New Atlas, kendaraan yang bergerak menggunakan kombinasi antara bahan bakar hidrogen dan juga bahan bakar minyak ini diklaim mampu mengangkut beban hingga 500 kg atau lebih, cukup untuk menerbangkan satu pilot, satu pasien, dan satu petugas yang menyertainya, serta dua petugas EMS, dan peralatan medis pendukung sebagai pertolongan pertama selagi menuju rumah sakit.

Selain itu, dengan desain ducted-fan (tanpa sayap dan rotor), CityHawk berkemampuan vertical take-off and landing (VTOL) atau lepas landas dan mendarat otomatis ini, ditambah desain compact footprint di bagian kaki, hampir bisa diandalkan di segala medan. Bahkan di gang sempit dan jalan kota yang penuh dengan kendaraan sekalipun, sebuah kemampuan yang sudah pasti hampir tak dimiliki oleh kompetitor di Silicon Valley.

Selain itu, bila dibandingkan dengan kemampuan helikopter sejenis Bell 206, ambulans terbang CityHawk Urban Aeronautics ini juga diklaim jauh lebih senyap dan menawarkan ruang kabin 20-30 persen lebih banyak.

Dengan berbagai kemampuan di atas, yang tentu saja dapat menunjang mobilitas pertolongan medis, Hatzolah Air, sebuah organisasi transportasi medis nirlaba, beberapa bulan yang lalu dikabarkan meneken pemesanan empat unit ambulans terbang. Organisasi itu nantinya akan mengerahkan ambulans terbang dalam layanan layanan medis darurat (EMS) di berbagai perkotaan di seluruh dunia, terutama di New York, basis layanan mereka di Amerika Serikat.

“Pemesanan awal empat ambulans udara CityHawks oleh Hatzolah merupakan pertunjukan kepercayaan diri yang luar biasa dalam program kami dan perusahaan kami,” kata Nimrod Golan-Yanay, CEO Urban Aeronautics.

“Kami berharap dapat memenuhi janji kami untuk merevolusi mobilitas udara perkotaan (UAV) dan kemampuan tanggap darurat kota-kota besar di seluruh dunia,” tambahnya.

Sementara itu, Presiden Hatzolah Air, Eli Rowe, mengungkapkan rasa bahagianya sebagai pelanggan pertama ambulans udara itu.

“Kami sangat senang menjadi tidak hanya distributor di seluruh dunia untuk Urban Aeronautics Air Ambulance CityHawk, tetapi juga pelanggan pertamanya,” katanya.

Baca juga: Australia Ciptakan Ambulans Udara eVTOL Paling Efisien di Dunia Bertenaga Hidrogen

“Misi Hatzolah selalu tentang perawatan pasien dan menambahkan VTOL CityHawk memiliki potensi untuk menyelamatkan ribuan nyawa setiap tahun,” tutupnya.

Bila tak ada aral melintang, ambulans terbang ini bisa dioperasikan Hatzolah Air 3-5 tahun mendatang setelah mendapat sertifikasi dari FAA. Selain bisa dioperasikan sebagai ambulans terbang, mobil taksi terbang pertama di dunia ini juga bisa dioperasikan untuk antar-jemput barang, penyemprotan lahan pertanian, tanggap darurat dan bencana, pemadam kebakaran, pemeliharaan jaringan listrik, logistik lepas pantai, dan lain sebagainya.

Kisah “Azab” Big Bunny, Pesawat Private DC-9 Mewah Milik Bos Majalah Playboy

Di masa lalu, Majalah Palyboy begitu populer di seluruh dunia. Meski masih eksis sampai sekarang, namun, era digital membuat konten andalannya menjadi lumrah dijumpai. Terlepas dari itu semua, ada cerita menarik dari sang bos besar majalah dewasa yang terbit pertama pada Desember 1953 itu, Hugh Hefner. Tetapi, tidak mutlak membicarakan Hefner, melainkan The Playboy Mansion terbangnya, Big Bunny Douglas DC-9, sebuah pesawat jet private mewah milik Hefner.

Baca juga: Mengenal “Big Bunny,” Pesawat DC-9 Mewah Peninggalan Boss Playboy

Pasca pertama kali dikirim dari pabrik pada Februari 1969, dengan biaya sekitar US$5,5 juta (mungkin sekitar US$40 juta untuk ukuran sekarang), Hefner mulai menjadikan pesawat itu bak istana terbang. Hari-harinya dilalui dengan bekerja, berpesta, dan menghabiskan waktu dengan deretan gadis cantik. Tak lupa, di antara aktivitasnya di dalam pesawat tersebut ialah memantau jalannya sesi foto bugil.

Singkatnya, semua cerita tentang kemewahan dan kenikmatan hidup ada pada sang bos Majalah Playboy kelahiran Chicago, Illinois, Amerika Serikat itu.

Akan tetapi, setelah genap satu dekade, seperti dikutip dari Simple Flying, Big Bunny DC-9 yang sehari-hari terbang antara Chicago dan Los Angeles, AS, mulai berada di ujung tanduk atau dalam istilah lain sedang di “Azab” Tuhan.

Seluruh kemewahan yang terletak di The Playboy Mansion terbang, seperti sound sistem surround delapan jalur, beberapa televisi, dua proyektor film dan sistem video yang berteknologi canggih, jendela elektrokromik dimana kaca bisa meredup dan menghitam dengan sebuah tombol, sistem komunikasi satelit, serta awak kabin seksi yang direkrut dan dilatih khusus, justru pada akhirnya menjadi beban tersendiri untuk Hefner. Terlebih, ketika Majalah Playboy sudah tak lagi mendapat banyak tempat di masyarakat.

Sudah begitu, Big Bunny juga tak lagi diperlukan Hefner untuk mendukung mobilitasnya bekerja bolak-balik di Chigaco dan Los Angeles. Lebih parahnya lagi, Jet Playboy, yang dahulu sering dikunjungi orang terkenal pada masanya dan sering disewa untuk perjalanan tur internasional hingga persiapan pesta mewah menyambut tamu luar negeri serta momen-momen spesial, juga ikut ditinggalkan. Padahal, di masa kejayaannya, Big Bunny amat dekat dengan sederet bintang kenamaan dunia, semisal Elvis Presley.

Baca juga: Bukan Pramugari, “Hooters Girls” adalah Pelayan Restoran yang Diperbantukan di Kabin

Alhasil, meski berat, pesawat serba hitam ikonik itu pun dijual. Menurut Planespotters.net, pesawat dengan nomor registrasi N950PB ini dijual ke Omni Aircraft Sales pada Maret 1976, dan bulan berikutnya bergabung dengan Linea Aeropostal Venezolana. Empat tahun kemudian, tepatnya pada 1979, ia dikirim untuk terbang bersama Aeromexico dan terus beroperasi hingga 2004. Setelah pensiun, ia diterbangkan ke Guadalajara, Meksiko, untuk menemui “ajalnya”.

Beberapa tahun berikutnya, Big Bunny atau Kelinci Besar itu dibongkar dan dipindahkan ke sebuah taman di Cadereyta de Montes, Querétaro, Meksiko. Jet Playboy Douglas DC-9 ini dijadikan sebagai wahana eduwisata anak-anak akan pesawat dan dunia penerbangan secara umum.

Toyota Patenkan Mobil Tanpa Awak yang Bisa Pergi Ke Tempat Cuci Sendiri

Dalam pikiran Anda, mobil tanpa awak sudah jelas tidak dikemudikan oleh seseorang dan dijalankan dengan sistem kontrol. Namun apalagi yang Anda pikirkan dengan mobil tak berawak ini? Apakah Anda pernah berpikir bagaimana mobil tak berawak pergi ke tempat cuci mobil? Mungkin saja pikiran ini ada dan bagaimana mobil tak berawak harus pergi ke tempat cucian?

Baca juga: Mobil Otonom May Mobility Mengular dengan Proteksi Anti Covid-19

KabarPenumpang.com melansir dari laman insidehook.com (3/1/2021), belum lama ini, tepatnya pada malam Natal, Kantor Paten dan Merek Dagang Amerika Serkat merilis paten yang diajukan oleh Toyota. Paten tersebut adalah memungkinkan mobil tanpa pengemudi yang kotor pergi ke tempat cucian tanpa campur tangan manusia.

Di Jalopnik, Elizabeth Blackstock menawarkan sebuah pandangan mendalam terkait pengajuan paten tersebut. Di mana pengajuan itu untuk sistem mobil tanpa pengemudi dan dapat menentukan kapan merasa kotor dan kemudian menuju ke tempat cuci mobil terdekat untuk membersihkan diri.

Bisa dikatakan, ini merupakan kendaraan tak berawak yang setara dengan menyadari bahwa ini waktunya untuk dibersihkan. Seperti yang dijelaskan Blackstock, sistem yang dijelaskan dalam pengertian paten saat mobil melaju di jalan kotor atau dalam cuaca buruk.

Kemudian menghubungi tempat cuci mobil, yang memberi tahu mobil kapan harus masuk untuk dibersihkan. Sistem ini juga memungkinkan pengemudi untuk memilih keluar dari pencucian tertentu, jika waktu sangat penting.

Ini adalah pandangan yang menarik tentang pemikiran di balik sistem ini dan sesuatu yang secara radikal dapat mengubah salah satu tugas utama yang terkait dengan kepemilikan mobil. Itu semua dilakukan dengan membuat mobil tanpa pengemudi sedikit lebih sadar diri dengan cara yang tidak terduga.

Berikut ini Toyota menjelaskan bahwa dalam sistem penilaian pencucian mobil, pengakuisisi memperoleh informasi perjalanan kendaraan. Unit penahan kondisi mempertahankan kondisi pencucian mobil tertentu. Unit penilai menentukan apakah informasi perjalanan yang diperoleh di pengakuisisi memenuhi kondisi pencucian mobil tertentu atau tidak.

Baca juga: Project Vektor, Mobil Otonom untuk Kota Pintar Buatan Jaguar Land Rover

“Unit penahan informasi jalan yang tidak beraspal menyimpan informasi jalan yang tidak beraspal yang menunjukkan adanya jalan yang tidak beraspal. Kondisi pencucian mobil tertentu termasuk bepergian di jalan beraspal dengan kendaraan. Ketika kendaraan yang telah mengirimkan informasi perjalanan adalah kendaraan penggerak otomatis yang mampu melakukan pengemudian otomatis dan ketika informasi perjalanan dari kendaraan penggerak otomatis memenuhi kondisi pencucian mobil, unit instruksi pencucian mobil mengirimkan sinyal instruksi untuk memindahkan kendaraan penggerak otomatis ke stasiun pencucian mobil,“ kata Toyota menjelaskan.

Kedua Kalinya Thailand Larang Makanan dan Minuman di Penerbangan Domestik

Berbagai macam cara dilakukan oleh maskapai untuk mencegah penyebaran virus corona di dalam penerbangan mereka. Salah satunya adalah menghilangkan makanan dan berbagai hiburan seperti majalah di dalam kabin.

Baca juga: Maskapai Dunia Hilangkan Makanan Ringan dan Majalah dalam Penerbangan

Salah satu negara yang melakukan pelarangan makanan, minuman dan hiburan di dalam penerbangan adalah Thailand. Negeri Gajah Putih ini kembali melarang adanya makanan, minuman, koran dan majalah dalam penerbangan domestik mereka kecuali kartu informasi keselamatan. Bahkan penumpang yang membawa makanan ringan dan minuman untuk dikonsumsi dalam pesawat tidak diperbolkehkan.

Hal ini dikarenakan, masker harus selalu digunakan oleh penumpang dalam penerbangan domestik mereka. Dilansir KabarPenumpang.com dari lonelyplanet.com (5/1/2020), meski begitu untuk masalah darurat, awak kabin tetap menyediakan air minum untuk penumpang yang membutuhkannya dan itu harus diminum jauh dari penumpang lainnya.

Pelarangan seperti ini pertama kali dilakukan Thailand pada 26 April 2020 lalu dan mencabut larangan tersebut pada 31 Agustus 2020. Dalam pelarangan yang diberlakukan tersebut, semua maskapai harus mengikuti peraturan atau mereka akan menghadapi kemungkinan hukuman dari regulator yakni Otoritas Penerbangan Sipil Thailand.

“Waktu pembersihan setelah setiap perhentian penerbangan domestik sangat singkat, karena operator cenderung melakukan perputaran secepat mungkin dan saya pikir operator tidak mungkin dapat membersihkan semua barang ini secara menyeluruh. Oleh karena itu, memiliki bahan bacaan yang tidak penting pada on-board akan membuat lebih banyak risiko terpapar virus,” kata Chula Sukmanop, direktur jenderal Penerbangan Sipil Otoritas Thailand (CAAT).

Meski penumpang dilarang membawa makanan dan minuman, tetapi pemerintah Thailand mengizinkan penumpang untuk membawa materi cetakan mereka sendiri ke dalam pesawat. Tetapi kemungkinan besar mereka akan diminta untuk membawa barang-barang tersebut saat turun pesawat.

Baca juga: Cegah Covid-19, Inilah Solusi Agar Penumpang Tak Berhimpitan Saat Masuk ke Dalam Kabin Pesawat

Untuk diketahui, perjalan udara domestik di Thailand saat ini sekitar 40 persen dari kapasitas biasanya. Keputusan untuk pelarangan adanya makanan, minuman, koran dan majalah berlaku mulai 31 Desember 2020.