Menperindag Singapura: Bekerja dari Rumah Akan Terus Dominan Pasca Covid-19

Bekerja dari rumah alias work from home menjadi satu kegiatan yang terjadi pada masa pandemi virus corona (Covid-19) ini. Bahkan pertemuan seperti meeting atau yang lainnya pun sekarang sudah melalui platform online. Menteri Industri dan Perdagangan (Menperindag) Singapura Chan Chun Sing mengatakan, bekerja dari rumah akan terus menjadi norma mayoritas bahkan setelah pemutusan pembatasan berakhir pada 1 Juni mendatang.

Baca juga: Video Pramugari Bekerja dari Rumah Viral dan Banyak Dikomentari

Dia mengatakan, aktivitas kerja di lokasi atau kantor telah dikurangi menjadi 30 persen sebelum adanya pemutusan pembatasan yang dimulai pada 7 April. Chan mengatakan sekitar 17 persen tenaga kerja Singapura saat ini pergi bekerja karena mereka berada di layanan penting.

“Bagi mereka yang dapat bekerja dari rumah, kami mengharapkan mereka untuk terus bekerja dari rumah di masa mendatang. Karena saat ini sudah banyak yang terbiasa menggunakan platform online untuk pertemuan dan kegiatan kerja lainnya,” kata Chan.

Dia menyebutkan, mereka tidak dapat membuka beberapa tempat hiburan, tetapi tetap fokus pada kapasitas dan kemampuan produksi terlebih dahulu. Chan mengatakan, sektor-sektor yang memungkinkan Singapura untuk berdagang dengan dunia dan mengakses pasokan kritias akan secara progresif dimulai terlebih dahulu.

Saat ini pemerintah Singapura sedang mencari skema bantuan untuk sektor-sektor yang akan dibuka kembali nantinya. Meski begitu tidak ada batas waktu sampai kapan ekonomi akan kembali ke kapasitas penuh.

“Jika kita dapat terus mempertahankan jumlah yang sangat rendah dalam penyebaran masyarakat, itu akan memberi kita kepercayaan yang lebih besar untuk secara progresif membuka lebih banyak sektor untuk pulih sedekat kapasitas penuh saat kita mungkin bisa,” kata Chan yang dikutip KabarPenumpang.com dari straitstimes.com (3/5/2020).

“Kami akan memastikan bahwa kami menjaga konektivitas untuk semua hubungan udara, darat dan laut kami, tidak hanya untuk Singapura, tetapi juga untuk kawasan dan rantai pasokan global,” tambahnya.

Chan mengatakan bahwa fokusnya bukan pada jumlah tetapi kondisi kerja yang aman. Perusahaan akan dibuka secara progresif mulai 12 Mei setelah mereka menerapkan praktik manajemen yang aman. Dia menambahkan, saat ini diskusi juga sedang berlangsung dengan beberapa negara termasuk Jepang dan Korea Selatan tentang dimulainya kembali perjalanan bisnis penting.

“Ini akan mengharuskan kita untuk memiliki koordinasi pada standar pemeriksaan kesehatan untuk jaminan timbal balik (dan) mengharuskan kita untuk memiliki sistem untuk melacak dan melacak, jika ada orang yang terinfeksi. Saya pikir ini akan menjadi modus operandi tentang bagaimana hal-hal akan berkembang dalam beberapa bulan ke depan, jika tidak satu atau dua tahun, karena kita akan mengambil waktu untuk menyesuaikan diri dengan normal baru ini. Dan kita semua harus memikirkan kembali jalannya. kita hidup dan bekerja untuk melakukan ini,” ujarnya.

Baca juga: Jaga Jarak Sosial, Persempit Penyebaran Covid-19

Diketahui Chan mengatakan hal ini, sehari setelah Pemerintah menyusun rencana untuk meringankan beberapa pembatasan ketat yang diberlakukan selama pemutus sirkuit Singapura. Pada hari Sabtu, pemerintah mengumumkan perpanjangan langkah-langkah pemutus pembatasan yang diperketat diberlakukan pada 21 April yang akan berakhir pada 4 Mei untuk satu minggu lagi, dengan beberapa bisnis kemudian secara progresif dibuka mulai 12 Mei.

Penumpang Harus Bawa “Surat Tugas” Saat Naik KRL, Bagaimana Nasib Pekerja Informal?

Beberapa hari terakhir didapatkan sekitar enam orang penumpang kereta rel listrik atau KRL positif terinfeksi virus corona atau Covid-19. Hal itu kemudian membuat penumpang KRL dari Bogor, Depok dan Bekasi diwajibkan untuk membawa surat tugas dan menunjukkannya kepada petuagas stasiun ketika akan naik KRL.

Baca juga: Anies: KRL Berpotensi Jadi Tempat Kontaminasi Virus Corona, Ini Kata KCI

Surat tugas ini juga diberlakukan sebagai upaya membatasi pengguna KRL. Namun bagaimana tanggapan penumpang dengan adanya surat tugas ini? KabarPenumpang.com kemudian bertanya pada penumpang KRL dari Bekasi yang bekerja di daerah Jakarta. Seorang penumpang bernama Damiana mengaku dirinya diberikan surat tugas dari kantornya dan mengatakan itu digunakan untuk pengecekan di stasiun.

“Iya pakai bawa surat tugas, katanya nanti di cek kenapa masih berkeliaran. Kalau pegawai swasta harus bawa surat tugas,” ungkapnya.

Dia mengaku hingga saat ini setiap berangkat kerja dan menggunakan KRL dari Bekasi belum ada pengecekan dan kereta dari Cikarang pun masih penuh untuk tujuan Jakarta. Damiana mengaku bila memang harus menggunakan surat tugas, ada dilema tetapi ini bila diwajibkan akan lebih bagus.

“Kalau diwajibkan bagus jadi patuh PSBB ketat,” tambahnya.

Meski begitu beberapa penumpang lain mengatakan, bila kebijakan ini berlaku juga harus memikirkan penumpang lain yang tidak bekerja di kantor, seperti ada urusan keluarga mendadak atau para pedagang yang bekerja di Jakarta. Sebab jika tidak dipikirkan maka masyarakat selain pekerja kantoran akan sulit nantinya menggunakan KRL.

Adanya hal ini, kemudian pihak KabarPenumpang.com mengkonfirmasi PT Kereta Commuter Indonesia (KCI). VP Corcomm PT KCI, Anne Purba ketika ditanya dengan aturan ini mengatakan, lebih baik untuk mengecek ke Pemerintah Daerah (Pemda).

Baca juga: Ada Pergantian Wesel, PT KCI dan PT TransJakarta Berkolaborasi Angkut Penumpang yang Terkena Imbas Rekayasa Jadwal KRL

“Biar tidak salah mungkin cari referensi dulu ya, apakah ini kebijakan, usulan, atau apa biar pemberitaan tidak salah,” ujar Anne yang dihubungi KabarPenumpang.com, Selasa (12/5/2020).

Dia menambahkan sampai saat ini, pihak KCI belum mengeluarkan surat pernyataan apapun terkait adanya peraturan para pekerja harus membawa surat tugas ketika naik KRL.

Canggih! Italia Jadi yang Pertama Gunakan Helm Thermal Scanning di Bandara

Bandara Internasional Leonardo da Vinci–Fiumicino, Roma, Italia jadi bandara pertama yang menggunakan helm canggih buatan Cina. Dengan teknologi augmented reality (AR) dan thermal scanner, petugas berwenang dapat dengan mudah mendeteksi suhu tubuh calon penumpang dalam jarak tiga hingga lima meter sehingga meminimalisir penerbangan dari orang sakit, dalam hal ini pengidap Covid-19.

Baca juga: Mengenal Bandara Terbesar dan Tersibuk di Italia, Leonardo da Vinci–Fiumicino

Helm canggih N901 yang dibuat di Shenzhen, Cina ini dinilai lebih baik ketimbang teknologi serupa dari Jerman dan Amerika Serikat (AS), yakni kacamata M400 AR Vuzix dan Onsight Cube Librestream yang diluncurkan nyaris bersamaan dengan “smart helmet” keluaran Kuang-Chi Technology tersebut pada awal Maret lalu.

Dikutip dari venturebeat.com, helm yang disebut mirip helm ‘Robocop’ ini sangat fungsional dalam mendeteksi orang dengan suhu di atas normal. Cara kerjanya, kamera inframerah yang memindai suhu tubuh langsung dipindai dalam sebuah display (seperti kaca pelindung helm sepeda motor) dengan tampilan color waveguide atau tampilan berdasarkan suhu tubuh melalui warna, seperti merah, kuning, dan hijau.

Selain itu, dalam display tersebut juga tertera suhu berbentuk angka. Jadi, begitu “smart helmet” buatan Cina itu mendeteksi suhu di atas batas normal, secara otomatis sensor akan mengaktifkan alarm visual dan sonik (bunyi) untuk mengingatkan adanya potensi bahaya. Dengan begitu, petugas tidak memerlukan titik fokus tingkat tinggi, cukup membagi pandangan ke segala penjuru dan helm tersebut akan mengingatkannya bila terdapat potensi bahaya.

Menariknya, “smart helmet” ini juga tersedia dalam mode “kerumunan besar” yang dapat memudahkan proses pemindaian suhu saat crowded. Selain dikelola langsung dalam bentuk data real di display atau kaca depan helm, data juga diolah atau terhubung dengan ke database pengenal wajah untuk melacak identitas orang dinilai berpotensi membahayakan dengan suhu tertentu. Proses pengiriman data dapat dilakukan dengan secepat mungkin dengan teknologi 5G, Wi-Fi, dan bluetooth yang disematkan dalam “smart helmet”.

Baca juga: Bandara Hong Kong Terapkan Teknologi Disinfeksi Canggih yang Mampu Sterilkan 99 Persen Bakteri

Saat ini, bandara Internasional Leonardo da Vinci–Fiumicino disebut baru memiliki tiga buah helm canggih buatan Kuang-Chi Technology, Cina tersebut. Namun, otoritas bandara berencana akan menambah kuantitas penggunaan saat lalu lintas udara perlahan pulih. Di samping itu, di tingkat nasional, opsi untuk menerapkan teknologi serupa di bandara lain juga terbuka, dengan bandara tersibuk di Italia itu (Leonardo da Vinci–Fiumicino) sebagai role modelnya.

Sebelumnya, Cina dilaporkan telah menerapkan teknologi modern untuk mendeteksi warga yang terkena virus corona. Tidak lagi dengan thermal scanner gun atau thermal gun, namun dengan helm pintar. Dengan perangkat pintar ini, diharapkan mampu mengurangi penyebaran virus corona di tempat umum. Helm pintar dilengkapi dengan kamera inframerah yang mampu mendeteksi suhu seseorang. Di Cina sendiri, helm telah digunakan aparat kepolisian di Chengdu, Provinsi Sichuan, Cina, serta di beberapa titik vital publik di berbagai wilayah lainnya.

Pasca Covid-19, Proses Perjalanan Udara Butuh Empat Jam Sebelum Terbang!

Pemerintah Indonesia telah telah kembali membuka penerbangan komersial. Namun dengan berbagai peraturan penerbangan ketat selama pembatasan sosial berskala besar (PSBB), seperti harus melalui gate tertentu, menunjukkan berkas kelengkapan perjalanan seperti misalnya tiket penerbangan, identitas diri, surat keterangan bebas Covid-19, surat keterangan perjalanan, dan berkas lain, mengisi kartu kewaspadaan kesehatan (Health Alert Card/HAC) dan formulir penyelidikan epidemiologi yang diberikan personel KKP, serta sederet prosedur lainnya.

Baca juga: Covid-19 Ubah Enam Hal di Industri Penerbangan, Nomor 4 Bikin Geleng-geleng!

Indonesia tentu bukan satu-satunya negara yang menerapkan peraturan ketat di dunia penerbangan. Hampir seluruh negara menerapkan hal tersebut, dengan rujukan prosedur standar keselamatan dan keamanan penerbangan, selama pandemi corona berlangsung, dari International Air Transport Association (IATA), the Airport Council International (ACI), International Civil Aviation Organisation (ICAO), the World Tourism Organisation (UNWTO), dan sejumlah lembaga atau organisasi internasional lainnya.

Akan tetapi, belakangan, prosedur ketat yang diberlakukan maskapai dan bandara, dari mulai sebelum terbang hingga tiba di bandara tujuan menjadi perbincangan hangat karena dinilai memakan waktu terlalu lama. Menurut para ahli, seluruh proses penerbangan saat ini, mulai dari proses check-in sampai tiba di bandara tujuan bisa memakan waktu empat jam.

Akibatnya, sembilan dari 10 ahli memperkirakan, perputaran bisnis di dunia penerbangan akan melambat. Saat penerbangan belum menggeliat seperti sekarang ini, merelakan waktu empat jam sebelum terbang mungkin tak jadi masalah. Namun, ketika segalanya sudah berada di titik normal, menghabiskan waktu empat jam sebelum terbang mungkin akan menjadi tantangan baru industri penerbangan mendatang.

Istilah “the new normal” pun menggaung untuk menggambarkan kondisi penerbangan saat ini dan di masa mendatang akibat pemberlakuan prosedur ketat di atas. Menurut World Travel and Tourism Council (WTTC), “the new normal” tercatat sudah banyak diberlakukan oleh beberapa bandara dan maskapai di seluruh dunia, seperti London Heathrow, JFK, dan Singapura Changi serta Air France-KLM, British Airways, Emirates Airlines, Qatar Airways, dan Qantas.

“The new normal” tersebut termasuk kebijakan no cabin bags, no lounges, no automatic upgrades, wajib pakai masker, sarung tangan, petugas dengan APD, self-check-in, physical distancing, self bag drop-off, UV atau electrostatic sanitation, sertifikat kesehatan, rapid test corona, dan disinfeksi di lorong kabin. Tak hanya itu, tren untuk mengurangi kontak langsung juga mendorong penggunaan teknologi biometrik atau pemindai wajah secara otomatis yang lebih luas, mencakup saat boarding gate, immigration gate, dan sebelum masuk pesawat. Jadi, tidak ada petugas yang mengecek kesesuaian tiket yang tertera dengan kartu identitas.

Baca juga: Kurangi Emisi Suara di Tengah Malam, Bandara Heathrow Patok Biaya Ekstra untuk Maskapai

“Akan ada protokol baru untuk check-in yang melibatkan teknologi digital; hand sanitizer stations di tempat-tempat yang sering dikunjungi termasuk tempat penyimpanan barang; pembayaran tanpa kontak, bukan uang tunai; menggunakan tangga lebih sering daripada lift di mana aturan dua meter lebih sulit dipertahankan,” tulis WTTC dalam sebuah laporan baru-baru ini, sebagaiman dikutip KabarPenumpang.com dari Forbes.

Selain itu, serupa dengan IATA, WTTC juga memperkirakan bahwa di beberapa bulan mendatang, industri penerbangan global mungkin sudah mulai menggeliat, dimulai dengan penerbangan domestik. Kemudian, kelompok usia yang lebih muda, antara 18-35, juga diprediksi akan memulai perjalanan atau liburan terlebih dahulu dibanding kelompok usia lainnya.

Lagi, Penumpang Gunting Kuku di Kabin Pesawat

Perilaku penumpang pesawat memang tidak ada yang bisa menebaknya. Bahkan apa yang akan mereka lakukan pun mungkin tak disangka-sangka dan bisa juga itu tidak diharapkan penumpang yang lainnya. Namun meski begitu masih masih banyak saja perilaku yang bisa dikatakan diluar nalar.

Baca juga: Viral di Instagram, Wanita Ini Gunting Kuku Kaki di Kabin Pesawat

Salah satunya adalah menggunting kuku di kabin pesawat. Sepertinya cerita menggunting kuku di pesawat sudah banyak yang beredar dan hal tersebut kembali berulang di masa pandemi ini. Ya, sebuah video kembali tersebar tentang perilaku seorang pria dalam penerbangan yang memicu kontroversi antar penumpang karena keputusan yang diambil.

Dilansir KabarPenumpang.com dari express.co.uk (10/5/2020), video tersebut diunggah ke media sosial dan beberapa penumpang menggambarkan pria tersebut kurang dalam kesadaran diri. Video diambil oleh penumpang yang duduk disampingnya dan menunjukkan bagian kaki pria tersebut untungnya wajahnya tak terlihat.

Dalam video, pria tersebut terlihat menggunakan celana pendek berwarna krem dan telah melepas sepatu serta kaus kaki. Kemudian mengangkat satu kakinya bersilang diatas kaki lainnya. Tak hanya itu, saat kaki diangkat pria tersebut terdengar suara gunting dengan bersamaan gerakan tangan seperti tengah memotong kuku kaki.

Buruknya lagi, kuku yang dipotong itu dibiarkan jatuh ke lantai. Video itu diposting ke akun Instagram @PassengerShaming dan telah mengumpulkan banyak komentar atas perilaku pria yang menggunting kuku itu.

“Bagi mereka yang kurang memiliki kesadaran diri: TOLONG JANGAN KETENTUAN KETENTUAN ANDA PADA PESAWAT. 1. Anda bukan satu-satunya orang di pesawat. 2. Kliping kuku tersebut bisa berakhir pada makanan, minuman, atau bola mata tetangga Anda. 3. Kata PERSONAL dalam ‘perawatan pribadi’ ada karena suatu alasan,” caption video tersebut.

Salah satu pengguna Instagram khawatir tentang dampak perilaku ini terhadap penyebaran “kuman”. Mereka menulis, “Jahat, gunting kuku dan keripik pada kuku di lantai. Kuman. “Kaki jahat di lantai jahat.”

Pengguna kedua menimpali, menulis, “Tidak mungkin … ini sangat kotor. Tidak percaya seseorang akan melakukan itu di pesawat.”

“Buat diri Anda nyaman selama penerbangan ‘TIDAK berarti Anda bisa menampilkan berbagai metode kebersihan pribadi Anda,” tulis warganet lainnya.

Yang lain lebih peduli dengan bagaimana para pelancong berhasil mendapatkan gunting kuku yang tajam melalui keamanan di tas tangannya.

“Apa yang terjadi pada masa lalu yang indah ketika gunting kuku adalah barang terlarang dalam penerbangan …. * huh * Mari kita kembali ke situ, oke?” komentar satu pengguna.

Baca juga: Viral! Video Pria Gunting Kuku Kaki di Kabin Pesawat

Namun meski begitu sampai saat ini pasti banyak yang bertanya bagaimana sebuah gunting kuku bisa masuk di dalam kabin, sedangkan gunting kecil dan pisau lipat saja pasti diambil ketika pemeriksaan keamanan.

Tiga Marinir Amerika Serikat Tahan Penumpang ‘Bingung’ di Pesawat

Memang kelakuan penumpang pesawat sering kali tidak bisa ditebak sehingga ini seringkali menyulitkan awak kabin dan membuat penumpang lain bingung harus seperti apa. Baru-baru ini karena ulah seorang penumpang, tiga orang marinir asal Amerika Serikat mau tak mau harus menahannya.

Baca juga: Heboh Pentagon Rilis Video UFO, Penumpang Pesawat Ini Bahkan Pernah Lihat UFO di Siang Bolong

Pada saat kejadian, ketiga marinir tengah dalam penerbangan rutin pulang ke Amerika dari Tokyo dengan tujuan Texas. Kapten Daniel Kult, Sersan John Dietrick dan Pfc. Alexander Meinhardt saat itu tengah menikmati film dari layar hiburan di kursi mereka dan mengenakan headphone untuk mendengarkannya.

Kemudian Dietrick mengatakan dirinya bisa mendengar seseorang dalam kamar mandi yang terdengar bingung padahal masih mengenakan headphone. Namun mereka tidak langsung mengambil tindakan tetapi mencari tahu dulu apa yang terjadi dan berkumpul di luar toilet bersama awak kabin. Awak kabin tersebut diminta untuk membuka kunci dan ketika pintu terbuka, Kult memegang pria tersebut dan menariknya ke Dietrick dan Meinhardt.

“Saya tahu harus turun tangan ketika dia menjadi bahaya bagi orang lain dan dirinya sendiri. Aku tidak berpikir dua kali untuk membantu menahannya selama sisa penerbangan,” ungkap Meinhardt yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman cnn.com (6/5/2020).

Setelah melakukan penahan kepada penumpang tersebut, ketiganya terus mengawasinya selama sisa penerbangan hingga tiba dan mendarat dengan aman di Bandara Internasional Los Angeles. Penumpang tersebut pun tidak diketahui kenapa bingung dan kemudian dibawa ke rumah sakit terdekat untuk dievaluasi secara mental.

“Pada saat ini kami tidak dapat mengidentifikasi maskapai penerbangan atau mengomentari disposisi penumpang, karena insiden itu masih dalam penyelidikan,” kata juru bicara Marinir Letnan Dua Kayla Olsen.

Baca juga: Gara-gara Hotspot WiFi ‘Nyala’ di Kabin, Dua Penumpang Diturunkan dari Pesawat!

Kantor Pengacara AS untuk Distrik Pusat California dan FBI terus menyelidiki insiden itu. Diketahui, awalnya pesawat yang tengah mengudara tersebut berjalan normal seperti biasanya, namun ketika setengah perjalanan, kemudian ada insiden karena seorang penumpang yang membarikade dirinya di toilet. Penumpang tersebut mulai berteriak beberapa hal yang mengkhawatirkan dan mengancam.

Tragis! Boeing 737 Southwest Airlines Tabrak Orang Hingga Tewas Saat Mendarat

Maskapai berbiaya rendah (LCC) Amerika Serikat (AS), Southwest Airlines belum lama ini memakan korban. Dalam sebuah penerbangan Dallas – Austin, pesawat Boeing 737-700 dengan nomor registrasi N401WN tanpa sengaja menabrak seseorang di runway 17R Bandara Austin. Tak lama setelah insiden tersebut seseorang yang identitasnya belum diungkap itu ditemukan tewas.

Baca juga: Akibat Penerbangan Sepi dan Parkiran Penuh, Sejumlah Pesawat Rusak Gegara ‘Bersenggolan’

Dikutip KabarPenumpang.com dari aviation24.be, peristiwa bermula saat pesawat Southwest Airlines dengan nomor penerbangan WN1392, 8 Mei lalu, hendak landing di Austin, Texas, pada pukul 8.12 malam waktu setempat. Sebagaimana biasa, pilot melakukan sejumlah prosedur pendaratan.

Namun, tak lama setelah touchdown, di tengah kegelapan, pilot melihat ada seseorang di runway. Pilot sebetulnya sudah melakukan manuver untuk menghindar, namun tabrakan tetap tak terhindarkan. Akibat kejadian tersebut, penerbangan pun sempat tertunda beberapa saat, termasuk pesawat Airbus A220 milik Delta Air Lines yang seharusnya mendarat tak lama setelah Southwest Airlines dan terpaksa harus go around.

Selain itu, benturan yang terjadi juga menyebabkan bagian luar mesin sebelah kiri pesawat penyok dan robek, saking kerasnya benturan. Adapun kondisi korban tidak dijelaskan lebih rinci. Namun diperkirakan tewas dalam keadaan nahas bila melihat dari kerusakan pada pesawat. Kejadian ini masih diselidiki otoritas penerbangan sipil AS (FAA) bersama kepolisian setempat.

“Penerbangan Southwest Airlines WN1392 tiba dengan selamat setelah diizinkan mendarat di landasan 17R di Bandara Internasional Austin-Bergstrom (AUS) malam ini. Pesawat Southwest bermanuver untuk menghindari seseorang yang muncul di landasan 17R tak lama setelah mendarat. Pesawat dengan cepat berhenti, dan pilot melaporkan kejadian itu kepada petugas,” kata Southwest Airlines, dalam sebuah rilis.

Insiden pesawat menabrak seseorang di landasan pacu bukan pertama kalinya untuk Boeing 737. Sebelumnya, seorang pria juga pernah tewas ditabrak pesawat yang akan lepas landas di Bandara Sheremetyevo, Moskow, Rusia, akhir 2018 lalu. Ia diketahui adalah penumpang transit di Moskow setelah terbang dari Spanyol.

Baca juga: Boeing 737-800 dan Bombardier CRJ-1000 Garuda Indonesia Nyaris Tabrakan di Bandara Soekarno-Hatta

Komite Penyelidik Rusia, melaporkan, korban ditabrak pesawat Boeing 737 yang lepas landas menuju Athena, Yunani. Ia tewas dalam kondisi mengenaskan di landasan pacu. Kepala badan pengawas penerbangan Rusia, Alexander Neradko, mengatakan, pesawat yang menabrak dioperasikan maskapai Aeroflot. Akibat kuatnya benturan, jaket, tali sepatu, serta beberapa barang yang dikenakan korban terlepas dan berhamburan di landasan.

Akibat insiden ini, satu dari tiga landasan pacu pesawat ditutup untuk dibersihkan. Jadwal keberangkatan beberapa pesawat Aeroflot pun dijadwal ulang. Tidak diketahui persis mengapa dia bisa berada di landasan pacu. Menurut laporan media lokal, dia sempat dikawal oleh kepolisian bandara menuju pintu boarding untuk melanjutkan perjalanan ke Armenia. Tapi ia memisahkan diri dan menjauh.

PT KAI Operasikan “Kereta Luar Biasa,” Ini Dia Aturannya

Beberapa moda transportasi saat ini mulai mengoperasikan kembali armadanya. Hanya saja pengoperasian ini berbeda dari biasanya yakni bukan mengangkut penumpang untuk mudik tetapi untuk perjalanan bisnis, pelayanan fasilitas kesehatan, keamanan dan pertahanan, perjalanan darurat pasien, keluarga kritis atau meninggal serta repatriasi.

Baca juga: Bertarung Melawan Bau Busuk, Inilah Peran Petugas Pembersih Limbah Toilet Kereta

Salah satunya adalah PT Kereta Api Indonesia (KAI), di mana mereka mengoperasikan perjalanan Kereta Api Luar Biasa (KLB) untuk berbagai rute mulai 12 sampai 31 Mei 2020. VP PR PT KAI Joni Martinus mengatakan untuk KLB ada enam perjalanan yang akan beroperasi untuk masyarakat yang dikecualikan sesuai dengan penerapan protokol pencegahan Covid-19 yang ketat. Joni menjelaskan pengoperasian KLB ini menyesuaikan dengan terbitnya Surat Edaran Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 No.4/2020 tanggal 6 Mei 2020 tentang Kriteria Pembatasan Perjalanan Orang dalan Rangka Percepatan Penanganan Covid-19.

“Sesuai Surat Edaran Gugus Tugas Covid-19, masyarakat yang diperbolehkan menggunakan KLB ialah pekerja di pelayanan penanganan Covid-19, pertahanan & keamanan, kesehatan, kebutuhan dasar, fungsi ekonomi penting; perjalanan darurat pasien atau orang yang memiliki keluarga inti sakit keras atau meninggal; serta repatriasi,” ungkapnya.

Adapun 3 rute yang dilayani adalah Gambir – Surabaya Pasarturi pp (Lintas Utara), Gambir – Surabaya Pasarturi pp (Lintas Selatan) dan Bandung – Surabaya Pasarturi pp. Tiket dijual mulai Senin, 11 Mei 2020 di loket stasiun keberangkatan penumpang. Pemesanan dan pembelian tiket dapat dilakukan mulai H-7 keberangkatan, oleh penumpang yang bersangkutan dan tidak dapat diwakilkan.

Untuk dapat membeli tiket tersebut, calon penumpang diharuskan melengkapi persyaratan sesuai Surat Edaran Gugus Tugas Covid-19. Persyaratan tersebut di antaranya menunjukkan surat hasil tes negatif Covid-19, surat tugas dari perusahaan, KTP atau tanda pengenal lainnya yang sah, serta dokumen pendukung lainnya sesuai peraturan.

“Jika sudah lengkap, calon penumpang melapor ke Posko Gugus Tugas Covid-19 yang tersedia di stasiun penjualan tiket untuk menyerahkan berkas. Jika sudah diverifikasi, calon penumpang akan mendapatkan Surat Izin dari Satgas Covid-19 dua rangkap. Lembar pertama diberikan ke petugas loket saat akan membeli tiket dan lembar kedua ditunjukkan kepada petugas pada saat boarding. Surat Izin tersebut berlaku hanya untuk satu kali perjalanan,” jelas Joni.

Joni mengatakan, KAI membentuk posko penjagaan dan pemeriksaan tersebut berkordinasi dengan Kementerian Perhubungan, Polisi, TNI, Pemerintah Daerah, Gugus Tugas Covid-19 Daerah, dan instansi terkait lainnya. Setiap penumpang yang akan menggunakan KLB tersebut diharuskan untuk menggunakan masker, bersuhu tubuh di bawah 38 derajat Celsius, membawa tiket, identitas asli, serta Surat Izin dari Satgas Covid-19.

“Penumpang yang akan berangkat namun tidak memenuhi persyaratan tersebut, dilarang naik kereta api dan tiket akan dikembalikan 100 persen,” tegas Joni.

Seluruh perjalanan KLB sudah menyesuaikan dengan jadwal pembatasan transportasi umum di masing-masing wilayah yang sudah menerapkan PSBB. KAI juga secara tegas dan ketat menerapkan protokol pencegahan Covid-19 mulai dari sebelum keberangkatan, dalam perjalanan, dan saat tiba di stasiun tujuan.

Dalam rangka pencegahan penyebaran Covid-19, KAI tetap membatasi kapasitas angkut dengan menjual hanya 50 persen tempat duduk dari kapasitas kereta, membuat batas antre dan duduk di stasiun dan kereta untuk menerapkan physical distancing, menyediakan alat pengukur suhu badan, ruang isolasi, pos kesehatan, hand sanitizer, wastafel portable di stasiun, rutin membersihkan fasilitas penumpang dengan disinfektan; dan berbagai langkah pencegahan lainnya. Joni menjelaskan, pengoperasian KLB ini terus dievaluasi pelaksanaannya sesuai dengan situasi yang berkembang di lapangan.

“Kami tegaskan, pengoperasian KLB ini dikhususkan hanya untuk masyarakat yang dikecualikan sesuai aturan yang telah ditetapkan pemerintah dan bukan dalam rangka Angkutan Mudik Idul Fitri 1441 H,” tutup Joni.

Baca juga: KAIS RailOne, Mengenal Vooridjer Kereta Kepresidenan RI

Kereta luar biasa (disingkat menjadi KLB) adalah kereta api yang dijalankan di luar jadwal reguler atau grafik perjalanan kereta api. KLB umumnya dijalankan pada saat kebutuhan mendesak atau sangat mendesak yang jadwal KLB ini akan diteruskan ke stasiun-stasiun yang akan dilewatinya. Walaupun di luar grafik perjalanan kereta api (gapeka) KLB tetap mengacu pada peraturan perjalanan kereta api, yakni, tetap membuat maklumat perjalanan kereta api (malka) dan warta maklumat (wam). Kereta luar biasa pada umumnya digunakan untuk membawa para pejabat negara, seperti presiden serta kabinetnya, menguji coba jalan kereta (test run), pengiriman kereta, gerbong atau lokomotif, dan pengiriman rel kereta api.

China Eastern Klaim Jadi Maskapai Terbesar di Dunia

Maskapai China Eastern, pekan lalu, mengklaim telah menjadi maskapai terbesar di dunia saat ini bila dilihat dari segi kapasitas kursi yang tersedia saat ini. Maskapai yang berbasis di Shanghai, Cina tersebut menggusur maskapai berbiaya hemat asal Amerika Serikat (AS), Southwest Airlines yang tengah dalam kondisi kritis akibat pemangkasan kursi besar-besaran.

Baca juga: Virus Corona Justru Bikin Bandara Terpencil Ini Jadi yang Tersibuk di Dunia

Dikutip KabarPenumpang.com dari thepointsguy.co.uk, menurut analis penyedia data perjalanan global atau Official Aviation Guide (OAG), John Grant, Southwest Airlines saat ini telah memangkas hingga lebih dari satu juta kursi. Mereka menjadi salah satu penyumbang terbesar penurunan kapasitas kursi global di pekan lalu sebesar 109 juta (dibanding pekan yang sama di tahun lalu) menjadi hanya 26,6 juta.

Hal itu tentu berbanding terbalik dengan China Eastern yang perlahan mulai pulih kembali seiring turunnya kasus virus corona di Cina. Setiap pekan, mereka terus mencatat peningkatan kapasitas penerbangan. Bahkan, menurut Forbes, China Eastern, yang masuk tiga besar maskapai terbesar di Cina bersama Air China dan China Southern Airlines, disebut telah berencana untuk memulai kembali antara 70 atau 80 persen penerbangan pada akhir Juni.

Pada rute-rute gemuk, seperti dari Shanghai (SHA) – Beijing (PEK) atau Shanghai (SHA) – Shenzhen (SZX), China Eastern juga sudah mulai menerbangkan armada widebodynya, A330-300, dan akan terus melakukannya pada rute gemuk domestik lainnya seperti Shanghai (SHA) – Guangzhou (CAN).

Di Cina sendiri, ketika pembatasan perjalanan mulai mereda dan industri penerbangan perlahan naik, tercatat hampir terdapat 900.000 kursi tambahan untuk memfasilitasi masyarakat dalam menikmati hari libur nasional pekan lalu. Di samping itu, lonjakan jumlah perjalanan juga didukung dengan harga tiket yang jauh di bawah normal, sehingga memancing hasrat masyarkat untuk bepergian menggunakan pesawat. Menurut penyedia data penerbangan global, Airsavvi, Cina telah kembali ke sekitar setengah dari jumlah penerbangan domestik harian sebelum adanya Covid-19, dimana terdapat 6.000 lebih penerbangan.

Selain itu, maskapai-maskapai di Negeri Tirai Bambu itu juga sudah menghadirkan kembali berbagai layanan yang sebelumnya dihilangkan untuk mencegah penyebaran virus corona; tak terkecuali dengan China Eastern. Maskapai ini sebelumnya mengumumkan, bahwa mulai 3 Mei lalu, akan kembali menghadirkan layanan flight meal service di semua penerbangan domestik yang disebut “Edainty”.

Baca juga: Penerbangan di Cina Mulai Bergairah, Industri Penerbangan Global Perlahan Bangkit

Mulai dari sarapan, makan malam, makanan ringan, dan makanan kecil (dim sum), sekarang semuanya akan dikemas sebelum penerbangan dan dibagikan oleh kru sebagaimana biasa atau, tergantung pada tingkat risiko penerbangan mengingat masih ada beberapa kasus impor corona, ditinggalkan di kabin di masing-masing kursi penumpang sebelum mereka naik ke pesawat guna menghindari kontak langsung.

Meskipun setiap pekan penerbangan domestik terus mengalami pertumbuhan, namun, tidak demikian dengan penerbangan internasional. Maskapai ini memang tercatat masih mengoperasikan penerbangan harian dari Shanghai (PVG) ke London (LHR). Hanya saja, untuk saat ini, penerbangan tersebut masih berupa penerbangan khusus kargo dan tidak ada tiket penumpang yang dijual.

Taksi Air Thunder, Gaya Baru Menyusuri Kanal di Venesia

Siapa yang tidak kenaldengan salah satu moda transportasi air khas Venesia, gondola? Ya, kendati gondola ini memang kerap dianggap oleh sebagian orang sebagai moda transportasi yang romantis, namun sebuah firma desain asal Venesia, Nuvolari Lenard dikabarkan telah memoderinasi gondola dengan meluncurkan taksi air kembangannya, Thunder. Sepintas, taksi air Thunder ini memiliki penampakan layaknya sebuah speed boat berukuran mini dengan balutan desain kayuk lasik nan apik, lho!

Baca Juga: Italia (1) – Menjajal Transportasi di Venesia, Tak Beda Jauh dengan TransJakarta

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (5/5/2020), taksi air Thunder ini mampu menampung maksimal 14 penumpang dalam sekali perjalanan. Thunder-pun dilengkapi dengan sistem propulsi hibrida diesel-listrik yang dirancang khusus untuk mereduksi emisi. Walhasil, taksi air Thunder ini menawarkan perjalanan romantis ala Venesia yang bebas emisi, dipadukan dengan penggunaan mesin diesel yang sudah terkenal kuat.

Dua petinggi Nuvolari Lenard, Carlo Nuvolari dan Dan Lenard mengatakan bahwa kota Venesia dapatmengambil manfaat dari hadirnya taksi air seperti yang mereka berdua kembangkan – setidaknya untuk moda transportasi berkelanjutan di masa yang akan datang. Mengangkat topi kini pada perhelatan Venice Boat Show tahun 2019 lalu, duo ini menambatkan opsi mereka pada tenaga hibrida diesel-listrik untuk menjadi cikal bakal dari masa depan transportasi Venesia yang lebih ramah lingkungan.

Menurut mereka, perpaduan dua tenaga ini sangatlah cocok untuk kondisi Venesia – mesin diesel menawarkan ketangguhan operasional, sedangkan tenaga listrik dapat digunakan untuk melakukan penjelajahan low-speed di kanal-kanal Venesia. Sebagai bocoran, taksi air Thunder ini mengeluarkan daya hingga 306HP dengan kapasitas tangka diesel mencapai 190-L.

Sebagaimana yang sudah disebutkan di awal, taksi air Thunder ini memiliki desain kayu klasik – dimana ornamen kayu berlapiskan fiberglass menghiasi hamper semua bagian atas kapal. Interiornya tak kalah unik, Anda bisa menemukan 14 seat sofa bercorak klasik dengan penempatan berhadap-hadapan.

Baca Juga: Surga Kanal Transportasi, Tak Hanya di Venesia Lho!

Vizianello selaku pembuat prototipe dari taksi air ini mengatakan bahwa Thunder memiliki panjang kurang lebih 30 kaki atau yang setara dengan 9,2 meter. Vizianello yang juga terkenal sebagai creator taksi air kenamaan asal Venesia juga menyebutkan bahwa Thunder dapat dipersonalisasi kedalam beberapa konfigurasi, termasuk tender superyacht. Menarik, bukan?

Usut punya usut, Nuvolari Lenard juga berencana untuk mengembangkan taksi air bertenagakan sel hidrogen dan kabarnya, perusahaan ini tengah dalam proses negosiasi dengan salah satu produsen otomotif kenamaan asal Asia.