Waspada Saat Transaksi di Drive-Thru, Insiden Fatal ini Layak Jadi Renungan

Mungkin terdengar aneh ketika seseorang meninggal karena mobilnya sendiri saat berasa di drive-thru.  Namun kenyataannya hal ini terjadi pada seorang pengemudi di drive thru makan cepat saji. Pengemudi ini muncul di jendela pembayaran dan kartunya jatuh saat akan memberikan ke petugas.

Baca juga: Beli Makanan Cepat Saji Lewat Drive-Thru Selama Pandemi? Ini Kata Para Ahli

Ini mungkin hal yang berbeda ketika sedotan yang terjatuh. Pada kasus kartu pembayaran terjatuh, maka kecenderungan pertama adalah pengemudi akan mengambil kartu itu dan membuka pintu mobilnya. Dalam kasus ini, pengemudi mengulurkan tangan ke tempat kartu terjatuh. Namun ternyata, saat menjangkau kartu di permukaan, kakinya terlepas dari pedal rem dan mobil meluncur ke depan. Diduga jenis kendaraan yang digunakan mengadopsi transmisi otomatis.

Seketika kendaraan melaju, bagian luar pintu mobil yang terbuka bergesekan dengan bagian struktural (tembok) restoran. Pintu mobil kemudian berusaha untuk diayun menutup, tapi sebaliknya justru sebagiab tubuh korban terjepit, dimana pengemudi mencondongkan tubuh ke luar pintu mobil yang terbuka sebagian.

Ia akhirnya terlindas oleh pintu mobil karena didorong hingga tertutup oleh kekuatan penjepit struktural dan kendaraan yang bergerak maju secara otomatis. Pengemudi nahas itu meninggal di tempat kejadian. Kata-kata tidak dapat menyampaikan konsekuensi yang menjengkelkan dan membingungkan dari masalah ini.

Baca juga: Anjing di Drive-Thru Starbucks Viral di Instagram

Dirangkum KabarPenumpang.com dari forbes.com (27/9/2021), insiden di atas menggambarkan sebagai kecelakaan yang aneh. Meskipun jelas sangat tidak biasa, kasus serupa telah dilaporkan di masa lalu.























Cegah Bird Strike, Bandara Schiphol Belanda Kerahkan Puluhan Babi

Pendekatan tiap bandara dalam mencegah bird strike sangat beragam. Di Bandara Schiphol, Amsterdam, Belanda, cara jitu mencegah bird strike bukan dengan robot, drone, atau teknologi canggih lainnya, melainkan dengan mengerahkan puluhan babi hidup ke ladang di sekitar runway.

Baca juga: Cara Jitu Cegah Bird Strike di Sekitar Bandara, Kerahkan Robot Pemotong Rumput

Bird strike atau tabrakan dengan kawanan burung pada umumnya kerap terjadi tak lama setelah pesawat lepas landas. Singkatnya, bird strike mayoritas terjadi di sekitar bandara. Hal itu dimungkinkan karena ketinggian pesawat masih dalam jangkauan terbang burung yang pada umumnya maksimal bisa mencapai ketinggian 4.800-an meter.

Di Amerika Serikat, data dari Federal Aviation Administration (FAA) menunjukkan, sekitar 90 persen dari insiden bird strike terjadi di sekitar bandara.

Oleh karenanya, manajemen pengelolaan bandara dalam kaitannya dengan upaya pencegahan bird strike harus dilakukan secara maksimal.

Di Bandara Sola, Norwegia, sejak tahun 2017 silam, pengelola bandara mengerahkan robot pemotong rumput untuk mencegah bird strike. Rumput dijaga agar tetap rendah dan membuat kawanan burung enggan mampir di sekitar runway.

Lain lagi dengan Bandara Internasional Edmonton, Kanada. Di sini, cara mencegah bird strike ialah dengan mengandalkan robot menyerupai Elang Peregrine atau yang dikenal sebagai The Robird Drone.

Berbeda dengan dua bandara di atas yang mengandalkan teknologi, Bandara Schiphol, yang biasanya terdepan dalam urusan inovasi teknologi bandara, justru mengerahkan puluhan babi hidup. Babi-babi itu di tempatkan di dekat dua dari enam runway yang ada, beroperasi di area seluas 2.787 hektar.

Dilansir The Register, babi-babi tersebut tak dihadirkan setiap hari selama setahun, melainkan di musim-musim tertentu saja selam enam pekan dan 12 jam.

Selama di ladang gula, padi, dan rerumputan di sekitar runway atau bandara, babi-babi dibiarkan hidup bebas, menghabiskan sisa-sisa panen gula, rumput, dan sebagainya. Dengan begitu, burung-burung tidak lagi tertarik untuk menghampiri ladang di sekitar runway atau bandara, di samping juga segan dengan keberadaan babi tersebut.

“Babi-babi itu segera dibawa ke ladang dalam waktu 12 jam setelah panen gula bit pada hari Selasa,” kata Josse Haarhuis, pemilik babi dan pemilik Buitengewone Varkens kepada surat kabar Belanda De Telegraaf .

“Mereka memakan sisa-sisa tanaman, sehingga tidak ada yang tersisa untuk diambil angsa,” tambahnya.

Geografi Bandara Schiphol memang mengundang banyak burung, termasuk angsa, ke sekitar bandara. Maskapai nasional Belanda, KLM, mencatat, pada 2019, ada sekitar 6,6 bird strike per 10 ribu pergerakan pesawat.

Baca juga: The Robird Drone, Robot Penangkal Bird Strike di Bandara Edmonton

Tak heran, dengan kondisi ini, Bandara Schiphol sudah lama mempekerjakan divisi khusus pemantau bird strike yang dibekali radar canggih sebanyak 20 orang.

Selain babi, Bandara Schiphol juga menggunakan berbagai cara dalam menangkal bird strike, seperti laser hijau, rumput sintetis, jaring, meriam gas, sampai orang-orangan sawah.

Ini Wujud Pod Terbaru Virgin Hyperloop yang Bakal Mejeng di Dubai Expo 2020

Sejak pertama kali hadir pada 2014 lalu, Virgin Hyperloop sudah merilis beberapa versi pod. Terbaru, Virgin Hyperloop menampilkan pod kargo futuristiknya, sebagai bagian dari kerjasama strategis dengan DP World, perusahaan logistik multinasional yang berbasis di Dubai, Uni Emirat Arab. Pod terbaru Virgin Hyperloop ini dipastikan akan tampil dalam gelaran Dubai Expo 2020.

Baca juga: Untuk Pertama Kalinya, Virgin Hyperloop One Uji Coba Pod Berpenumpang

Selain pod kargo, Virgin Hyperloop juga akan menampilkan cutaway passenger pod atau sejenis mockup pod penumpang terbaru perusahaan, di gelaran yang berlangsung selama enam bulan tersebut, mulai 1 Oktober 2021 sampai Maret 2022.

Meski sudah memastikan hadir dalam gelaran itu, pihak Virgin Hyperloop belum memberikan detail tentang kedua pod itu kecuali hanya sedikit saja.

Dilansir New Atlas, pod kargo yang berkolaborasi dengan DP World disebut memiliki panjang 10 meter. Tak disebutkan dengan jelas berapa metrik kargo yang bisa diangkut operator, kecepatan, dan lain sebagainya.

Begitu juga dengan pod penumpang terbaru Virgin Hyperloop. Hanya disebut bahwa pod ini diklaim sebagai kendaraan komersial pertama di dunia yang mampu mengangkut 28 orang dengan wireless charging, artificial skylight, fitur LED journey notifications.

“Petukaran barang yang konstan secara historis telah mendorong inovasi di sektor transportasi dan sekarang lebih dari sebelumnya, kita harus terus membuktikan industri di masa depan,” kata Sultan bin Sulayem, Chairman of DP World dan Virgin Hyperloop.

“Hyperloop siap untuk merevolusi pasar logistik on-demand global, dan kami bersemangat untuk berbagi visi kami untuk teknologi di paviliun DP World FLOW di Expo 2020,” tambahnya.

Sebelum muncul ke publik dan memastikan hadir dalam gelaran Dubai Expo 2020, Virgin Hyperloop One sukses melakukan uji coba pod berpenumpang untuk pertama kalinya.

Ketika itu, dua orang penumpang diangkut di jalur uji DevLoop, Las Vegas, Nevada, Amerika Serikat pada Minggu, 8 November 2020, sepanjang 500 meter hanya dalam tempo 15 detik dengan kecepatan mencapai 160 km per jam, cukup jauh tertinggal dari target besar perusahaan mencapai 1.000 km per jam.

Baca juga: Pernah Uji Coba Angkut Penumpang, Kini Apa Kabar Virgin Hyperloop?

Dalam uji coba tersebut, dua orang penumpang yang dimaksud tak lain tak bukan adalah Chief Technology Offiecer Virgin Hyperloop, Josh Giegel dan Director of Passenger Experience Virgin Hyperloop, Sara Luchian.

Kedua orang itu menjadi penumpang kapsul sistem transportasi ultra cepat yang ide awalnya berasal dari bos Tesla, Elon Musk, ini tanpa mengenakan baju khusus. Hal ini sekaligus membantah kritikan bahwa penumpang Virgin Hyperloop harus mengenakan baju khusus karena kecepatannya yang ekstrem.

 

Keren, 43 Unit Airbus A380 Emirates Pakai Livery Dubai Expo 2020, Tiga di Antaranya Warna-warni

Emirates turut memeriahkan gelaran Dubai Expo 2020 pada Oktober 2021 sampai Maret 2022 mendatang dengan meluncurkan livery unik berwarna-warni. Tak tanggung-tanggung, maskapai yang berbasis di Dubai, Uni Emirat Arab ini mengerahkan 43 pesawat Airbus A380 ikoniknya.

Baca juga: Memukau, ‘Sosok’ Airbus A380 Emirates Jadi Ladang Bunga Terbesar di Dubai

Strategi maskapai dalam terkait livery pesawat memang berbeda-beda. Beberapa maskapai cenderung menghindari penggunaan livery tertentu dan memilih main aman dengan mempertahankan livery khasnya. Tetapi, beberapa maskapai lainnya justru gemar mengenakan livery khusus pada pesawat di momen-momen tertentu, salah satunya Emirates.

Saking gemarnya maskapai nasional kerajaan Dubai ini mengenakan livery spesial pada pesawat, tercatat, sudah 50 desain unik di 100 pesawat dilakoni maskapai dalam lima tahun terakhir. Tergolong tinggi dibanding maskapai lainnya, yang hanya mengenakan livery khusus pada perayaan ulang tahun maskapai dan hari kemerdekaan negara (untuk flag carrier).

Dilansir Simple Flying, dari 43 livery Dubai Expo 2020 di pesawat Airbus A380 Emirates, hanya tiga pesawat yang dicat dengan livery sangat mencolok. Dari tiga pesawat, satu di antaranya sudah rampung.

Pesawat tersebut diketahui terdaftar sebagai A6-EEU. Setidaknya ada delapan warna dasar pada livery eksotis A380 Emirates itu; mulai dari biru tua, biru muda, ungu, oranye tua, oranye muda, hijau, merah, dan putih.

Butuh 16 hari dan 4.379 jam kerja untuk menyelesaikan proses pengecatan pesawat; mulai dari masking, sanding or stripping, cleaning, priming, appoint to coat, sampai remove masking sebagai akhir dari tahapan pengecatan pesawat.

Dari 43 livery Dubai Expo 2020 Emirates, hanya tiga yang menggunakan livery nyentrik. Sisanya hanya menggunakan livery seperti di foto ini. Foto: Dubai Expo 2020

Selain itu, melengkapi livery berwarna-warni Emirates dalam menyambut Dubai Expo 2020 mendatang, terdapat juga gambar bertuliskan seorang pramugari yang memegang kertas bertuliskan ‘see you there’ dan ‘Dubai Expo Oct 2021 – Mar 2022’ di bagian depan, persis di belakang pintu pesawat.

Gambar tersebut tentu bukan sekedar gambar, melainkan diambil dari momen menarik maskapai belum lama ini.

Dalam sebuah tayangan video yang diunggah di YouTube channel Emirates, pramugari, yang mengenakan seragam lengkap, nampak berdiri di puncak gedung tertinggi yang pernah dibuat manusia itu, sambil memegang papan bertuliskan, ‘Moving the UAE to the UK amber list has made us feel on top of the world. Fly Emirates, fly better’.

A380 Emirates dengan livery mencolok tersebut rencananya akan melakoni penerbangan perdana pada hari ini menuju Los Angeles, Amerika Serikat.

Baca juga: Intip Mewahnya Airbus A380 Emirates yang Digunakan Klub Bola Real Madrid

Adapun dua dari tiga pesawat A380 Emirates dengan livery Dubai Expo 2020 paling mencolok baru akan menjalani proses pengecatan. Tak ada bocoran akan seperti apa liverynya. Besar kemungkinan, dua itu akan menggunakan livery yang berbeda satu sama lain, termasuk dengan livery A380 mencolok yang terbang hari ini.

Sementara itu, 40 pesawat A380 Emirates lainnya tetap dipakaikan livery Dubai Expo 2020. Hanya saja, mereka cenderung lebih halus alias tak tampil nyentrik, dengan perpaduan warna oranye, hijau, dan biru.

Integrasi Transportasi di Jakarta Mulai Berjalan, Nantinya Semua Konektivitas Tiket Bakal Sempurna

Dalam peresmian integrasi transportasi pada hari ini, Rabu (29/9/2021) di Stasiun Tebet, ada empat kegiatan yang akan dicanangkan. Direktur utama PT Moda Integrasi Transportasi Jabodetabek (MITJ Tuhiyat mengatakan, yang pertama adalah sistem pertiketan dan tarif integrasi. Yang mana sistem ini dilaksanakan oleh PT JakLingko Indonesia.

Baca juga: Tandatangani MoU, TransJakarta dan MRTJ Siap Integrasikan Moda Transportasi Berbasis Massal

Bahkan JakLingko sebelum peresmian integrasi sudah menghasilkan kartu yang diuji coba secara terbatas di KRL, MRT Jakarta, TransJakarta dan LRT Jakarta. Tuhiyat mengatakan, dalam integrasi ini ada tiga fase yang dilakukan untuk memudahkan masyarakat dalam menggunakan transportasi umum.

“Pada fase 1 ini, JakLingko sudah menyelesaikan pencanangan kartu dan aplikasi. Kemudian di fase 2, JakLingko akan melakukan Mobility as a Service (MaaS)
yang ditargetkan selesai pada Maret 2022, dan fase 3 di mana JakLingko membuat account base ticketing yang selesai pada agustus 2022,” ujarnya.

Tuhiyat mengatakan, nantinya jika project ini selesai secara utuh, maka konektivitas tiketing di Jakarta akan sempurna. Kegiatan kedua adalah pembangunan JPM dan revitalisasi Stasiun Sudirman yang pembangunannya dalam prengerjaan dan ditargetkan selesai bersamaan dengan LRT Jabodebek yakni Agustus 2022.

Kegiatan ketiga adalah penataan stasiun tahap kedua yang meliputi Stasiun Tebet, Palmerah, Gondangdia, Manggarai dan Jakarta Kota.

“Penataan stasiun tahap dua ini adalah kegiatan berkelanjutan dari tahap satu yang dilakukan di Stasiun Juanda, Pasar Senen, Tanah Abang dan Sudirman yang sudah diresmikan 17 Juni 2020 lalu. Hari ini kita akan menyakinkan penataan Stasiun Tebet dan Palmerah. Progres penyelesaian pembangunan tiga stasiun yang lain yakni Manggarai 95 persen dan Gondangdia 69 persen, keduanya ditargetkan selesai tahun ini, Stasiun Jakarta Kota target selesai 2022,” jelas Tuhiyat.

Kegiatan terakhir adalah penandatanganan dokumen integrasi transportasi Jabodetabek. Di mana sebelumnya sudah dilakukan kajian menyeluruh untuk menyusun konsep integrasi transportasi Jabodetabek. Kajian itu dibutuhkan enam dimensi intergrasi yakni, fisik, manajemen, layanan, tiket, penyediaan informasi dan brand.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan, hadirnya sistem integrasi ini, merupakan keharusan transportasi massal. Karena Jabodetabek adalah satu ruang yang besar dan tak mungkin dibiarkan sendiri sehingga harus ada kerja sama dengan kota lainnya.

“Manggarai dalam waktu dekat jadi central station, koneksi tebet sehingga membuat kemudahan warga Jakarta ke Jawa Timur atau Tengah. Mengerjakan sistem dan saran yang ada di sini. Empat kegiatan ini buat satu pelayanan ini jadi baik. masyarakat apresiasi dan gunakan secara baik, tanpa kolaborasi dan integrasi ini tak bisa laksanakan baik,” ujar Budi Karya.

Dia menambahkan, bahwa pemerintah pusat berikan regulasi, untuk kemudahan di mana yang lama di cepatkan, yang susah dimudahkan serta lakukan terbaik, sehingga pekerjaan harus terlaksana dengan baik. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyebutkan, kehadiran integrasi ini agar masyarakat Jakarta menggunakan transportasi umum.

“Meninggalkan kendaraan bermotor pribadi menjadi transpotasi umum. Sistem ini bukan hanya nyaman tapi berkeadilan. Sehingga kalau tuntas, sistem ini ada price diferentation di mana kita memberi harga berbeda pada penumpang berbeda,” jelas Anies.

Baca juga: Jembatan Penyeberangan Multi Guna ‘Serambi Temu’ Koneksikan Beragam Moda Transportasi

Anies menyebutkan, price diferentation ini diberikan kepada pelajar, lansia, guru, veteran atau orang berjasa. Sehingga dengan ini transportasi publik memberikan penghargaan kepada mereka untuk penghormatan. Dia menambahkan, bila nantinya ini dilakukan, akan membuat Jakarta sama dengan kota maju di negara lainnya.






















Tiga Pelajaran dari Insiden Pesawat A320neo Citilink Mendarat Darurat di Palembang

Pesawat Airbus A320-200neo Citilink terpaksa mendarat darurat di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang, Sumatera Selatan, Senin lalu (27/9). Dari insiden ini, setidaknya ada pelajaran yang bisa diambil, semata agar kejadian serupa tidak terulang kembali di penerbangan lain.

Baca juga: Penumpang Gigit Pramugari dan Coba Buka Pintu Pesawat di Udara, Mustahil!

VP Corporate Secretary and CSR PT Citilink Indonesia Diah Suryani, melalui keterangan resminya kepada wartawan, menyebut insiden pesawat dengan nomor penerbangan QG 944 ini mendarat darurat di Palembang lantaran ulah seorang anak-anak yang duduk di seat row 11. Ia disebut melepas penutup pelindung tuas pintu darurat atau cover handle emergency exit.

Di seat row 11 dan 12 pesawat Airbus A320-200neo memang terdapat pintu darurat atau emergency exit. Dalam insiden pesawat Citilink mendarat darurat, Diah tak menyebut dengan jelas anak-anak tersebut duduk di kursi pinggir aisle (kursi tengah dipastikan kosong untuk physical distancing) atau kursi dekat jendela, persis di samping pintu darurat.

Andai anak-anak tersebut duduk di kursi pinggir lorong dan orang tua yang bersamanya lalai atau mungkin pergi ke toilet, seharusnya pramugari atau kru kabin menggantikan peran orang tua tersebut sebagai pengawas. Bila ini dilakukan, tentu tak akan terjadi hal demikian.

Sebaliknya, bila anak-anak tersebut duduk di dekat jendela atau di seat row 11 ini berarti persis di samping pintu darurat, berarti ada kejanggalan. Umumnya, sebelum pesawat lepas landas, kru kabin akan menjelaskan SOP bagi penumpang yang duduk di dekat pintu darurat. Bisa dibilang, ada tugas berat yang diemban oleh penumpang di dekat pintu darurat.

Karenanya, tak mungkin anak-anak menanggung beban berat tersebut. Dalam kasus pesawat Citilink mendarat darurat, itu berarti ada pelanggaran prosedur oleh Citilink melalui kru kabin.

Masih terkait kursi seat row 11 dan 12 pesawat Airbus A320-200neo, sebetulnya, terlepas dari insiden di atas, penumpang yang duduk di sini memiliki beberapa keuntungan, salah satunya legroom sangat luas dibanding kursi lainnya di kelas ekonomi.

Itu tadi pelajaran pertama, peran kru kabin dalam mengawasi anak-anak dan prosedur penumpang yang duduk di seat row 11 dan 12.

Pelajaran kedua dalam insiden pesawat Airbus A320-200neo Citilink mendarat darurat di Palembang adalah rasa bosan. Selama pandemi Covid-19, maskapai memang tak menyediakan hiburan dalam penerbangan, terlebih pada Citilink yang merupakan low cost carrier (LCC), sehingga memang tidak ada In-Flight Entertainment (IFE). 

Sepanjang perjalanan dari Cengkareng-Batam, sudah pasti anak-anak diliputi rasa bosan dan sangat mungkin menjadi iseng untuk melakukan sesuatu, hingga akhirnya terjadilah apa yang terjadi. Maka dari itu, seharusnya kru kabin dan orang tua menyadari hal itu dan melakukan langkah-langkah pencegahan.

Baca juga: Airbus Tunjukkan Cara Maskapai ‘Curi’ Ruang Kaki Luas Dekat Pintu Darurat

Khusus untuk kru kabin, bukankah mereka sudah memperhatikan satu per satu penumpang saat di pintu masuk, semata untuk menandai mana penumpang yang mesti diberi perhatian lebih?

Pelajaran ketiga ialah berkenaan dengan penumpang. Dalam penerbangan, penumpang memiliki peran yang sama dengan kru kabin dalam mengawasi sesama penumpang. Bila itu terjadi, seharusnya penumpang lain bisa mencegah anak-anak tadi melepas penutup pelindung tuas pintu darurat atau cover handle emergency exit.

Punya Tinggi Tak Wajar, Penumpang Bingung Saat Duduk di Kursi Halte Bus Ini

Halte bus yang wajar adalah memiliki atap dan tempat untuk duduk penumpang yang menunggu bus. Namun apa jadinya bila kursi di halte tingginya keterlaluan dan penumpang sulit untuk duduk? Yang jelas ini mustahil untuk diduduki karena tingginya yang tidak wajar yakni 30 inci atau sekitar 76,2 cm.

Baca juga: Karya Seni di Halte Bus Dongkrak Citra Keindahan Kota

Dilansir KabarPenumpang.com dari thesun.co.uk (23/9/2021), karena tingginya kursi di halte, membuat warga Feering, Essex di Inggris bingung dan marah. Bahkan mereka menggaruk-garuk kepala di kursi halte baru yang memaksa kaki mereka menjuntai di udara.

Mereka bahkan mengatakan, kursi itu dibuat untuk raksasa karena tinggi dan membuat masyarakat tidak bisa duduk dengan benar di halte saat menunggu bus. Para lansia pun kesulitan dengan tinggi kursi dan membuat mereka menyerah untuk tidak duduk. Penasihat Paul Thorogood, yang tingginya enam kaki atau sekitar 1,8, mengatakan kakinya bahkan tidak menyentuh lantai ketika dia duduk di salah satu bangku.

“Ketinggian kursi sangat tidak ramah pengguna kecuali jika Anda seorang raksasa! Saya enam kaki dan kaki saya menggantung di tepi. Untuk pensiunan setinggi lima kaki dua inci dengan lutut atau pinggul yang cerdik, itu sama sekali tidak dapat digunakan,” ujar Paul.

Dia mengatakan, kursi halte bus dimaksudkan setinggi 20 inci atau sekitar 50,8 cm. Tetapi tidak semua rata ada juga yang 30 inci dan yang lainnya bahkan memiliki tinggi 26 inci. Paul menyebutkan, harusnya kursi itu dipasang pada ketinggian yang benar sehingga bisa diduduki oleh penumpang yang akan menunggu bus di halte.

“Seorang warga lanjut usia mengatakan kepadanya bahwa kursi itu “hampir tidak mungkin” untuk digunakan. Pengembang perumahan Bloor Homes membayar halte bus di Feering, Essex sebagai bagian dari kesepakatan dengan dewan untuk membangun 165 rumah di desa tersebut,” Paul.

Namun dia menambahkan bahwa Dewan Kabupaten Essex bertanggung jawab atas pemeliharaannya yang berarti pembayar pajak mungkin harus membayar tagihan untuk mengganti tempat duduk.

“Ada yang tidak beres. Mereka belum memperbaikinya tetapi mudah-mudahan akan ada dalam pipa. Banyak orang lanjut usia atau penyandang disabilitas harus bisa duduk saat menunggu bus. Saat ini, mereka tidak bisa,” tambahnya.

Juru bicara Bloor Homes dan Dewan Kabupaten Essex mengatakan, halte bus dipasang sekitar delapan bulan lalu sebagai bagian dari pengembangan terdekat. Tetapi karena pembatasan perjalanan Covid-19, masalah ini baru saja terungkap.

Baca juga: Warsawa Hadirkan Halte Bus Ramah Lingkungan dengan Atap Berumput

“Tidak mungkin untuk menurunkan shelter karena banyaknya layanan yang berjalan di bawah shelter sehingga tim pemeliharaan Essex Highways akan mengatur agar kursi diturunkan di kedua shelter sesegera mungkin,” kata juru bicara itu.






















Jewel E, Bus Tingkat yang Gunakan Tenaga Listrik Sepenuhnya

Bus tingkat dengan menggunakan motor listrik dan paket baterai akan mengubah lebih dari sekedar kendaraan penumpang. Hadirnya teknologi ini pun menjadi keuntungan bagi kendaraan komersial dengan banyak sektor yang mengekplorasi atau mulai mengadopsi propulsi baru.

Baca juga: Bus Listrik Besutan Turki Akan Melayani Jerman

KabarPenumpang.com melansir dari motor1.com, bus tingkat listrik ini akan sepenuhnya menggunakan listrik dan mulai menetapkan rute, waktu pengisian ulang terjadwal dan logistik yang baik sehingga dapat menghilangkan transit perkotaan yang ketat. Salah satu penawaran yang sedang dikembangkan untuk ini adalah Jewel E.

Jewel E ini berasal dari Equipmake yang berbasis di Norwich, Inggris. Yang mana perusahaan ini memiliki spesialisasi elektrifikasi kendaraan komersial yang membangun Jewel E dalam kemitraan dengan Beulas, Coachbuilder Spanyol.

Jewel E ini mengemas Zero Emission Frivetrain Equipmake yang dapat beradaptasi agar sesuai dengan ukuran bus yang berbeda. Di mana powetrain dapat menghasilkan hingga 536 bhp (400 KW) dan torsi yang menakjubkan, meskipun diperlukan, 3.500 Newton-meter (2.581 pon-kaki).

Motor HTM 3500 dapat dipasangkan dengan paket baterai lithium-ion yang dapat mencapai 543 kilowatt-jam. Sedangkan baterai dan torsi memberikan jarak tempuh hingga 250 mil (402 km), yang seharusnya cukup untuk jadwal bus sehari-hari.

Equipmake mengatakan Jewel E juga merupakan bus listrik pertama yang memenuhi standar keselamatan bus Transportasi untuk London yang akan ditetapkan pada tahun 2024. Tidak hanya itu, berarti bus tersebut dirancang untuk sistem layanan bus London yang melelahkan, tetapi juga telah meningkatkan keselamatan fitur.

Bus tersebut diperkirakan akan memulai pengujian sebelum akhir tahun. Jalur dalam layanan diharapkan akan dimulai pada kuartal pertama tahun depan, dengan rencana produksi dan penjualan akan dimulai pada 2022 juga.

Baca juga: Incar Efisiensi Daya Angkut dan Ramah Lingkungan, Los Angeles Adopsi Bus Tingkat Bertenaga Listrik

Inggris menginginkan setidaknya 4.000 lebih bus tanpa emisi buatan Inggris di negara ini pada tahun 2024. Bus adalah kendaraan yang sempurna untuk elektrifikasi karena penggunaannya yang teratur dan jarak mengemudi yang pendek, dan waktu pengisian ulang tidak terlalu menjadi perhatian ketika bus diparkir semalaman.

Buntut Aksi ‘Spiderman’, Juara Paralimpik Panjat-Tiduran di Atas Pesawat British Airways Dipenjara

Mantan juara paralimpiade atau paralimpik, James Brown, baru-baru ini, divonis bersalah atas aksinya memanjat dan menaiki pesawat Embraer British Airways dan tiduran di atasnya selama beberapa waktu. Atas perbuatannya itu, ia harus mendekam di penjara selama satu tahun.

Baca juga: Aktivis Lingkungan Tunanetra Lakukan ‘Demo’ Naik ke Atas Pesawat British Airways

Dalam persidangan di pengadilan Southwark Crown Court, terungkap bahwa James Brown menggunakan lem yang dioleskan ke tangan untuk memanjat pesawat.

Sebelum itu, ia, yang juga terdaftar dalam manifes penerbangan alias membeli tiket resmi, mengganjal pintu pesawat menggunakan ponsel yang sudah disiapkan untuk menghindari kontak dengan petugas.

Setelah itu ia mulai memanjat pesawat Embraer British Airways bak spiderman dan bertahan selama kurang lebih satu jam di sana. Selama di atas, atlet sepeda tunanetra ini hanya duduk, berdiri, sampai tiduran-tiduran.

Akibatnya, penerbangan ke Amsterdam, Oktober 2019, itu delay selama beberapa jam dan merugikan 300 penumpang yang berada dalam penerbangan tersebut. Tak hanya itu, British Airways juga mengalami kerugian sekitar Rp781 juta atau 40 ribu Poundsterling akibat kekacauan jadwal penerbangan.

Selama proses persidangan, Brown hanya bisa menangis menyesali perbuatannya. Ia mengaku tak bermaksud membuat kekacauan seperti para teroris. Tetapi, ia hanya ingin membuat sesuatu yang bombastis dan menarik perhatian untuk memuluskan kampanye perubahan iklim yang sudah diset bersama beberapa aktivis lainnya.

“Hak untuk memprotes tidak memberi Anda hak untuk menyebabkan gangguan besar yang meluas ke bandara utama hanya karena Anda pikir itu adalah hal yang benar untuk dilakukan. Ini adalah kasus di mana Anda bertindak bersama dengan setidaknya 10 aktivis lain untuk merencanakan dan melaksanakan tindakan gangguan besar,” kata Hakim Gregory Perrins

“Anda bermaksud menyebabkan gangguan sebanyak mungkin di bandara, jika tidak ditutup sepenuhnya,” tambahnya, seperti dikutip dari The Pigeon Express.

Pengacara Brown sendiri memprotes putusan tersebut. Disebutkan, kliennya sudah menyesali perbuatannya, mengaku bersalah, dan berjanji tak akan mengulanginya lagi. Itu sebab, Brown tak pantas dipenjara selama setahun karena campaign perubahan iklim.

Inggris atau Eropa pada umumnya memang menjadi sarang bagi aktivis lingkungan. Di antara sasaran aksinya dalam mengkampanyekan perubahan iklim, para aktivis kerap menyasar keramaian semisal bandara.

Di tahun yang sama dengan kejadian insiden Brown memanjat pesawat dan tiduran di atasnya, aktivis lain yang tergabung dalam penerbangan Aer Lingus, diamankan karena membuat kekacauan sebelum penerbangan dimulai.

Bentuk kekacauannya sendiri, ia menolak duduk di kursi yang tertera di tiket dan memilih bolak-balik di lorong sambil berorasi tentang perubahan iklim.

Baca juga: Viral, Orang Gila Panjat dan Berjalan di Sayap Pesawat!

Di tahun yang sama pula, puluhan aktivis berkumpul di dalam dan di luar terminal bandara sambil membawa spanduk, menyanyika yel-yel, dan sebagian memblokir jalan ke bandara, untuk mengkampanyekan dapak negatif perubahan iklim.

Pertengahan tahun 2020, Bandara Paris-Orly juga pernah diserbu aktivis lingkungan untuk mengkampanyekan dampak negatif perubahan iklim. Ketika itu, pesawat Boeing 777 Air France dicat aktivis dengan warna hijau.

Ngaku 180 Kali Kehilangan Bagasi di Bandara, Pria Ini Raup Rp4 Miliar

Dua orang pria dilaporkan berhasil meraup US$300 ribu atau sekitar Rp4 miliar lebih (kurs 14.242) dari modus penipuan di bandara. Detailnya, pria tersebut mengaku kehilangan bagasi di bandara dan menuntut ganti rugi ke lima maskapai; American Airlines, Alaska Airlines, JetBlue Airlines, Southwest Airlines dan United Airlines.

Baca juga: Ingat! Anda Berhak Peroleh Kompensasi Setelah Lapor Kehilangan Bagasi di Bandara

Kabarnya, dua pria ini sudah 180 kali mengklaim kehilangan bagasi di bandara dengan total tuntutan kompensasi mencapai US$550 ribu atau Rp7,8 miliar.

Sederet fakta mengenai aksi tipu-tipu kehilangan bagasi bandara ini terungkap setelah keduanya didakwa sang pengadil di hadapan mahkamah.

Disebutkan, Donmonic Martin dan Pernell Anthony Jones, melancarkan aksinya dengan sangat rapi. Mula-mula, Jones, sebagai aktor intelektual, berpura-pura mengambil sebuah penerbangan atas nama orang lain dan mengklaim klaim ke maskapai bahwa bagasinya hilang.

Tak cukup sampai di situ, Jones juga mengklaim memiliki barang bebawaan mahal di bagasi yang hilang, seperti perhiasan, gadget, dan lain sebagainya. Alhasil, nilai kompensasi yang didapat akan mencapai plafon atau titik masksimal sekitar US$3.500 per setiap klaim ke maskapai.

Agar terhindari dari penggrebekan oleh petugas berwenang, Jones mengelabuinya dengan cara memberikan alamat pengiriman kompensasi, termasuk rekening, palsu atas nama Donmonic Martin. Tercatat, Martin sudah tiga kali memberikan izin alamatnya digunakan untuk memuluskan aksi penipuan di bandara berkedok kehilangan bagasi ini.

Atas aksinya tersebut, kedua pria yang berasal dari Louisiana, Amerika Serikat ini didakwa melakukan konsprisasi melakukan penipuan dokumen. Jones dituntut 20 tahun penjara dan Martin 5 tahun penjara, andai benar-benar terbukti bersalah, begitu laporan ABC News.

Kasus kehilangan bagasi di bandara memang kerap terjadi di seluruh dunia. Biasanya, itu diotaki oleh orang dalam.

Oleh karena itu, tak heran bila maskapai mau mengganti rugi atau memberikan kompensasi ke pelanggan -sekalipun situasi ini bisa dimanfaatkan sebagai modus baru kehilangan bagasi di bandara oleh penumpang fiktif- mengingat itu memang sering terjadi, di samping menjaga reputasi maskapai itu sendiri.

Oktober tahun 2018 silam, seorang awak kabin Emirates dituduh mencuri uang ribuan dolar dari penumpang pada Juni lalu dalam penerbangan dari Thailand menuju Dubai. Awak kabin itu diduga mencuri dari dompet tiga orang penumpang yang meninggalkan kursi mereka.

Baca juga: Koper Anda Hilang atau Tertukar? Baggage Claim Jadi Solusinya

Pencurian uang itu diduga terjadi di kelas bisnis penerbangan Emirates dimana tiga orang bersaudara telah meninggalkan barang-barang mereka tanpa pengawasan. Ketiganya diketahui meninggalkan tempat duduknya untuk memeriksa ayah mereka yang sakit saat dalam penerbangan itu.